Keragaman kemampuan, minat, dan gaya belajar siswa di sekolah dasar menuntut pendekatan pembelajaran yang lebih responsif dibandingkan model pembelajaran seragam dan satu arah. Pembelajaran berdiferensiasi, sebagai salah satu pilar utama Kurikulum Merdeka, hadir untuk menjawab kebutuhan tersebut dengan menempatkan kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar peserta didik sebagai dasar perancangan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk merangkum, menganalisis, dan menyintesis temuan dari berbagai penelitian terdahulu mengenai konsep, implementasi, tantangan, serta peluang dan solusi penerapan pembelajaran berdiferensiasi di sekolah dasar. Metode yang digunakan adalah studi literatur (literature review) dengan menelaah artikel jurnal ilmiah nasional yang dipublikasikan dalam kurun waktu 2020–2025, bersumber dari basis data daring seperti Google Scholar dan Garuda. Hasil kajian menunjukkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi diwujudkan melalui empat komponen utama, yaitu diferensiasi konten, proses, produk, dan lingkungan belajar, yang secara konsisten terbukti meningkatkan keterlibatan, motivasi, keaktifan, dan hasil belajar siswa di berbagai mata pelajaran, mulai dari IPA, IPAS, hingga PPKn. Namun demikian, implementasinya masih dihadapkan pada berbagai tantangan, antara lain keterbatasan pemahaman guru terhadap konsep diferensiasi, minimnya variasi media pembelajaran, kesulitan mengelola kelas heterogen, beban persiapan yang tinggi, serta terbatasnya sarana, prasarana, dan dukungan kebijakan. Sebagai upaya mengatasi tantangan tersebut, diperlukan pelatihan dan pendampingan guru secara berkelanjutan, penguatan komunitas belajar, penyediaan media yang lebih variatif, serta sinergi antara guru, kepala sekolah, dan pemangku kebijakan pendidikan. Kajian ini diharapkan dapat memberikan gambaran komprehensif yang bermanfaat bagi guru, kepala sekolah, dan peneliti dalam mengoptimalkan implementasi pembelajaran berdiferensiasi di jenjang sekolah dasar.