Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

A Comparative Study of Community-Based Tourism Models and Environmental Outcomes in West Sumatra Naufal Hibatullah; Rizki Sumardani; Ayang Khairunnisa
Metta : Jurnal Ilmu Multidisiplin Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/metta.v6i2.5347

Abstract

This study aims to analyze the implementation of Community-Based Tourism (CBT) in tourist destinations in West Sumatra and assess its impact on environmental conservation, local economic dynamics, and community resilience to climate change. There is a fundamental research gap in the study of Community-Based Tourism (CBT) in West Sumatra, namely the absence of an approach that simultaneously integrates environmental conservation, climate change mitigation, and local economic dynamics into one comprehensive framework. This study also identifies the key success factors and major obstacles in CBT management from the perspectives of communities, tourism stakeholders, and government institutions. The research method employs a qualitative approach using a comparative case study design across several community-based destinations in West Sumatra. Data collection was conducted through in-depth interviews, field observations, focus group discussions (FGDs), and analysis of policy documents and destination management reports. Research informants were selected using purposive sampling, involving destination managers, tourism awareness groups, MSME operators, local governments, and community leaders. The Research findings indicate that the implementation of CBT in West Sumatra still shows variations in community participation levels, the institutional capacity of local villages, and the quality of destination management. Several destinations have demonstrated success in enhancing local economic empowerment, strengthening cultural identity, and promoting environmental conservation practices through community education and participation. However, various challenges remain, such as limited human resource capacity, weak inter-institutional coordination, unequal distribution of economic benefits, and pressure on ecosystems due to increased tourism activities.
Pengaruh Konten Negatif di Media Sosial terhadap Niat Berkunjung Kembali Wisatawan ke Pantai Padang Jamilah Jamilah; Ayang Khairunnisa
Jurnal Pariwisata dan Perhotelan Vol. 3 No. 2 (2026): February
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/pjpp.v3i2.6223

Abstract

Pantai Padang merupakan salah satu destinasi wisata bahari unggulan di Kota Padang yang tetap ramai dikunjungi meskipun kerap menjadi sorotan konten negatif di media sosial terkait isu kebersihan, kenyamanan, dan pengelolaan kawasan. Fenomena ini memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana konten negatif tersebut memengaruhi niat wisatawan untuk berkunjung kembali, mengingat konten negatif secara teoretis diyakini memiliki bobot pengaruh yang lebih besar terhadap pengambilan keputusan dibandingkan konten positif. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh konten negatif di media sosial terhadap niat berkunjung kembali wisatawan ke Pantai Padang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif asosiatif dengan metode survei terhadap 100 wisatawan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling, dengan kriteria pernah berkunjung ke Pantai Padang minimal satu kali dan pernah melihat atau membaca konten negatif mengenai Pantai Padang di media sosial. Data dikumpulkan melalui kuesioner berskala Likert 1–5 yang terdiri atas 10 item variabel konten negatif dan 5 item variabel niat berkunjung kembali, dinyatakan valid dan reliabel, kemudian dianalisis menggunakan regresi linier sederhana setelah memenuhi uji asumsi klasik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konten negatif di media sosial tidak berpengaruh signifikan terhadap niat berkunjung kembali wisatawan (t = -0,374; sig = 0,709; R² = 0,001). Mayoritas responden (83%) telah berkunjung lebih dari tiga kali, sehingga pengalaman langsung diduga lebih dominan membentuk niat berkunjung kembali dibandingkan informasi negatif di media sosial, sejalan dengan Tourist Perception Theory namun bertolak belakang dengan teori negativity bias yang menjadi salah satu landasan asumsi awal penelitian ini. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengelola destinasi tetap perlu memperhatikan konten negatif sebagai bagian dari reputasi digital, mengingat konten tersebut berpotensi memengaruhi calon wisatawan yang belum memiliki pengalaman langsung, meskipun pengaruhnya terhadap wisatawan yang telah memiliki pengalaman langsung relatif terbatas.
CERITA BUDAYA DALAM PARIWISATA GASTRONOMI DI SUMATRA BARAT Muhammad Refki Novesar; Vidya Chandra Prashanty; Ayang Khairunnisa
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 9 No. 2 (2026): April 2026
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/b97fa288

Abstract

Abstract: This study aims to analyze the role of cultural narratives in gastronomic tourism practices in West Sumatra, particularly in shaping tourists' perceptions, experiences, and interest in visiting. A qualitative research approach was used with in-depth interviews, participatory observation, and documentation techniques. The findings of this study show that cultural narratives in Minangkabau gastronomy are socially constructed through the transmission of traditional values and institutionalized culinary practices. The context of narrative tourism has undergone strategic changes to bridge the differences in the audience's backgrounds without losing its philosophical essence. Cultural stories are conveyed through interpersonal communication and structured interpretations in tour packages, which are then contextualized by tourists. Narratives have been proven to expand the gastronomic experience from mere sensory evaluation to a holistic experience, involving emotional, educational, aesthetic, and reflective dimensions.   Keywords: Gastronomic Tourism, Cultural Stories, and West Sumatra   Abstrak: Penelitian ini bertujuan menganalisis peran cerita budaya dalam praktik pariwisata gastronomi di Sumatera Barat, khususnya dalam membentuk persepsi, pengalaman, dan minat kunjungan wisatawan. Pendekatan penelitian kualitatif dengan teknik wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Hasil temuan dalam penelitian menunjukkan bahwa cerita budaya dalam gastronomi Minangkabau dikonstruksi secara sosial melalui transmisi nilai adat dan praktik kuliner yang terinstitusionalisasi. Konteks pariwisata narasi mengalami perubahan strategis untuk menjembatani perbedaan latar belakang wisatawan tanpa menghilangkan esensi filosofisnya. Cerita budaya disampaikan melalui komunikasi interpersonal maupun interpretasi terstruktur dalam paket wisata, yang kemudian dimaknai secara kontekstual oleh wisatawan. Narasi terbukti memperluas pengalaman gastronomi dari sekadar evaluasi sensorik menjadi pengalaman yang holistik, melibatkan dimensi emosional, edukatif, estetis, dan reflektif.   Kata kunci: Pariwisata gastronomi, Cerita Budaya, dan Sumatra Barat
Preserving Randai Through Tourism in West Sumatra: Opportunities, Challenges and Strategies Fresti Yuliza; Ayang Khairunnisa; Fadlul Rahman; Rahmad Ramadan
Jurnal Pariwisata Terapan Vol 10, No 2 (2026)
Publisher : Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpt.119194

Abstract

Randai is a traditional Minangkabau performing art that integrates dance, music, drama, and pencak silat, recognized as the only dramatic art form authentically belonging to the Minangkabau ethnic group. However, this art form faces serious threats due to declining public interest caused by urbanization, modernization, and globalization. This study aims to analyze how tourism can serve as a strategic instrument for preserving Randai in West Sumatra, while identifying the challenges and opportunities involved. The research employs a qualitative approach with descriptive analytical methods. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation studies. Data analysis utilized by PESTLE (Political, Economic, Social, Technological, Legal, Environmental) framework and cultural thematic analysis. The findings reveal that tourism can effectively serve as a preservation instrument through cultural festivals, tourist attractions at destination areas, and community-based cultural tourism. The PESTLE analysis identified macro-environmental factors influencing preservation, including government policy support, creative economy potential, youth social dynamics, digital technology opportunities, regional legal frameworks, and environmental sustainability aspects. Four main themes emerged: commodification versus authenticity, regeneration and knowledge transfer, repertoire innovation based on local wisdom, and multi-stakeholder collaboration. The study recommends integrated policies that synergize cultural and tourism sectors, along with collaboration among government, universities, art communities, and indigenous communities.