Muh Syukri Gaffar
Universitas Negeri Makassar

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HUBUNGAN BAHASA DENGAN OTAK: KAJIAN NEUROLOGIS DAN IMPLIKASINYA TERHADAP GANGGUAN BAHASA: THE RELATIONSHIP BETWEEN LANGUAGE AND THE BRAIN: A NEUROLOGICAL STUDY AND ITS IMPLICATIONS FOR LANGUAGE DISORDERS Nurrahma Latief; Muh Syukri Gaffar
AUFKLARUNG: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pembelajarannya Vol. 5 No. 2 (2026): DESEMBER-JANUARI TAHUN 2026
Publisher : Education and Talent Development Center of Indonesia (ETDC Indonesia).

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51574/aufklarung.v5i2.4984

Abstract

Kemampuan berbahasa merupakan salah satu ciri khas manusia yang membedakannya dari makhluk lain dan kemampuan ini erat kaitannya dengan fungsi neurologis otak. Penelitian ini bertujuan mengkaji hubungan antara sistem bahasa dengan struktur dan fungsi otak manusia dari perspektif neurolinguistik. Melalui pendekatan kualitatif berupa studi pustaka, penelitian ini membahas mekanisme otak dalam memproses bahasa, wilayah otak yang terlibat seperti area Broca dan Wernicke, serta gangguan bahasa yang timbul akibat kerusakan neurologis, seperti afasia. Hasil kajian menunjukkan bahwa bahasa tidak hanya diproses oleh satu area tunggal, melainkan melibatkan jaringan neural yang kompleks. Gangguan neurologis, khususnya stroke, dapat mengakibatkan berbagai bentuk afasia yang mengganggu aspek morfosintaksis dan produksi ujaran. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa proses bahasa sangat bergantung pada integritas sistem saraf pusat, terutama hemisfer kiri otak. Oleh karena itu, pendekatan neurolinguistik menjadi penting dalam memahami dasar biologis dari kemampuan berbahasa dan dalam mengembangkan intervensi terapeutik untuk penderita gangguan bahasa. Artikel ini merekomendasikan integrasi antara ilmu bahasa dan neurosains dalam pendidikan serta rehabilitasi gangguan bahasa sebagai upaya membangun pemahaman yang lebih utuh terhadap fungsi bahasa manusia.
INTERAKSI BAHASA DAN KOGNISI: PERSPEKTIF PSIKOLINGUISTIK MODERN Nurrahma Nurrahma; Muh Syukri Gaffar
Wahana Literasi: Journal of Language, Literature, and Linguistics Vol 5, No 2 (2025)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59562/wl.v5i2.84561

Abstract

Interaksi antara bahasa dan kognisi merupakan inti kajian psikolinguistik yang semakin berkembang secara multidisipliner. Meskipun penelitian di bidang ini telah banyak dilakukan, kajian yang mengintegrasikan perspektif neuropsikolinguistik modern dengan konteks lokal Indonesia masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara sistematis mekanisme interaksi bahasa dan kognisi, menelaah proses produksi dan persepsi bahasa dari sudut pandang neuropsikolinguistik, serta mengeksplorasi implikasinya pada bidang pendidikan, terapi wicara, dan teknologi pengolahan bahasa. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain systematic literature review (SLR) yang mengacu pada pedoman PRISMA 2020. Sebanyak 28 sumber dari basis data Google Scholar, DOAJ, SINTA, Garuda, dan PubMed dipilih berdasarkan kriteria inklusi yang ketat, mencakup publikasi tahun 2013–2025 yang relevan dengan topik psikolinguistik dan kognisi bahasa. Lima tema utama teridentifikasi: (1) bahasa sebagai proses kognitif konstruktif yang melibatkan memori kerja dan perhatian selektif secara simultan; (2) produksi bahasa dikendalikan oleh area Broca melalui koordinasi motorik-linguistik; (3) persepsi bahasa melibatkan area Wernicke dan fasikulus arkuat sebagai jalur integrasi makna; (4) faktor sosioemosional seperti motivasi dan kecemasan linguistik memengaruhi efektivitas pemrosesan bahasa; serta (5) temuan psikolinguistik memiliki implikasi terapan pada pendidikan, terapi wicara, dan pengembangan teknologi NLP. Interaksi bahasa dan kognisi bersifat dinamis, multidimensional, dan saling bergantung. Penelitian lanjutan berbasis eksperimen dalam konteks bahasa Indonesia sangat diperlukan untuk memperkuat temuan ini.