Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Relationship Between Body Composition and 12-Minute Run Test Among Cadet Medical Students in the Undergraduate Medical Program, Republic of Indonesia Defense University Disty Chania; Justin Munawar; Hanum Fadhilah; Antonius Reuben; Grace Corlesa; Roby Firmansyah; Markus Wibowo; Nirawan Putranto
The ASEAN Journal of Military and Preventive Medicine Vol. 2 No. 2 (2025): July
Publisher : Perkumpulan Kedokteran Militer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47353/ajmpm.v2i2.30

Abstract

Background: Body composition influences physical performance, including running ability. Muscle mass and fat mass are important determinants of strength, endurance, and movement efficiency. This study analyzed the relationship between body composition and 12-minute running distance among cadet medical students. Methods: This quantitative observational analytic study used a cross-sectional design. Cadet medical students from Cohort 4 of the Republic of Indonesia Defense University were recruited. Body composition was measured using bioelectrical impedance analysis, and running performance was assessed with a 12-minute run test. Associations between muscle mass, fat mass, and running distance were analyzed using simple linear regression. Results: Seventy-two cadets were included. The mean muscle mass was 43.5%, mean fat mass was 21.6%, and mean 12-minute running distance was 2376 m. Muscle mass showed a strong positive correlation with running distance, whereas fat mass showed a strong negative correlation. Male cadets had higher muscle mass and achieved longer running distances than female cadets. Conclusion: Body composition is significantly associated with 12-minute running performance. Higher muscle mass supports better running distance, whereas higher fat mass reduces running efficiency. Individualized training and nutritional strategies should consider body composition to optimize cadet fitness.
Profil Risiko Komplikasi Kardiovaskular dan Ginjal serta Perubahan Pengetahuan Pasien Diabetes Melitus melalui Edukasi Berbasis Risiko di Puskesmas Cirimekar: Cardiovascular and Renal Complication Risk Profiles and Changes in Diabetes Mellitus Patients’ Knowledge through Risk-Based Education at Cirimekar Primary Health Care Center Jafar Elyas; Gaza Multazam; Disty Chania; Ni Made Ayu Widiyasih; Aryoga Krishna Murthi; Elies Fitriani; Muhammad Arvid Suhada
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1818

Abstract

Pendahuluan: Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang berhubungan dengan peningkatan risiko komplikasi kardiovaskular dan gangguan ginjal. Deteksi dini melalui stratifikasi risiko diperlukan untuk menggambarkan kondisi pasien serta mendukung penentuan prioritas pemantauan dan edukasi pada pelayanan kesehatan primer. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan profil risiko komplikasi kardiovaskular dan ginjal pada pasien diabetes melitus serta mengevaluasi perubahan tingkat pengetahuan pasien melalui edukasi berbasis risiko di Puskesmas Cirimekar. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan evaluasi one group pretest-posttest design tanpa kelompok kontrol. Responden merupakan pasien diabetes melitus peserta Prolanis Puskesmas Cirimekar. Profil risiko kardiovaskular dinilai menggunakan pendekatan Framingham Risk Score, sedangkan risiko gangguan ginjal dinilai berdasarkan parameter estimated Glomerular Filtration Rate (eGFR) dan albuminuria. Evaluasi pengetahuan dilakukan pada 46 responden dengan data pretest dan posttest lengkap menggunakan Diabetes Knowledge Questionnaire-24 (DKQ-24) dan Heart Disease Fact Questionnaire (HDFQ). Hasil: Sebanyak 126 pasien diabetes melitus dianalisis untuk stratifikasi risiko. Sebagian besar responden berada pada kategori risiko kardiovaskular berat berdasarkan Framingham Risk Score yaitu 81 pasien (64,3%), sedangkan kategori risiko gangguan ginjal terbanyak adalah risiko sedang sebanyak 55 pasien (43,7%). Evaluasi perubahan pengetahuan pada 46 responden menunjukkan peningkatan skor DKQ-24 dari 13,87 ± 2,37 menjadi 21,07 ± 0,93 dan skor HDFQ dari 17,07 ± 5,45 menjadi 22,98 ± 1,37. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan terdapat perbedaan skor pengetahuan yang bermakna secara statistik pada kedua instrumen (p <0,001). Kesimpulan: Stratifikasi risiko memberikan gambaran profil komplikasi kardiovaskular dan gangguan ginjal pada pasien diabetes melitus di pelayanan primer. Edukasi berbasis risiko menunjukkan adanya perubahan pengetahuan pasien mengenai pengelolaan diabetes melitus dan pencegahan komplikasi berdasarkan evaluasi sebelum dan sesudah edukasi.