Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Komunikasi Lingkungan Interaktif melalui Pelatihan Ecobrick untuk Membangun Generasi Sekolah Peduli Sampah Midah Nurhidayah; Ardian Hangga Kelana; Sittin Masawoy; Febri Listianingrum; Pusmiati Pusmiati; Retno Wuri Sulistyowati
Bima Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026): Bima Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Pendidikan Bima Berilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53299/ba-jpm.v6i2.4584

Abstract

Permasalahan sampah plastik global telah merambah wilayah perbatasan negara termasuk di Kampung Skouw, Kota Jayapura. Kurangnya pemahaman tata kelola sampah anorganik di kalangan remaja menjadi pemicu utama pencemaran lingkungan sekolah. Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk mengimplementasikan strategi komunikasi lingkungan interaktif melalui pelatihan pengelolaan sampah plastik menjadi ecobrick dan membangun karakter peduli lingkungan pada peserta didik SMA Negeri 6 Skouw. Metode pelaksanaan program dilakukan melalui tiga tahapan terstruktur yaitu: (1) tahap persiapan yang meliputi observasi kondisi tata kelola sampah sekolah dan perizinan; (2) tahap pelaksanaan berupa sosialisasi komunikasi lingkungan interaktif serta praktik langsung (hands-on experience) pembuatan ecobrick oleh peserta didik; dan (3) tahap evaluasi menggunakan metode triangulasi yang menggabungkan instrumen angket partisipasi, observasi motorik, serta wawancara mendalam. Hasil analisis data pre-program menunjukkan adanya action-gap, di mana 90% peserta didik belum pernah membuat ecobrick meskipun 89% telah memahami perbedaan jenis sampah secara konseptual. Pasca-pelatihan, program komunikasi lingkungan ini terbukti berhasil memberikan dampak positif yang signifikan. Hal ini ditunjukkan oleh tingginya tingkat pemahaman peserta didik dan kemudahan adopsi metode ecobrick dengan rata-rata persentase kelayakan mencapai 97,8%. Selain itu, aspek keberlanjutan perilaku menunjukkan hasil rata-rata 93,3% peserta didik berkomitmen untuk mengaplikasikan keterampilan ini dalam kehidupan sehari-hari serta merasa puas terhadap kegiatan PkM yang telah dilakukan. Hasil wawancara mengonfirmasi kesiapan sekolah untuk mengintegrasikan pelatihan membuat ecobrick ini ke dalam agenda kokurikuler sebagai bagian dari proyek berkelanjutan.
Eksplorasi Etnosains Papua dalam Pembelajaran IPA: Studi Kasus Hambatan dan Potensi di SD Negeri Inpres 1 Koya Timur Ardian Hangga Kelana; Sakka Irawan; Korinus Nixon Waimbo; Pusmiati Pusmiati; Midah Nurhidayah; Taufik Mubarak
Jurnal Pelita: Jurnal Pembelajaran IPA Terpadu Vol. 6 No. 1 (2026): Januari - Juni 2026
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54065/pelita.6.1.2026.1529

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam integrasi etnosains Papua dalam pembelajaran IPA di sekolah dasar, khususnya memetakan hambatan praktis yang dihadapi guru, kebingungan konseptual peserta didik, dan potensi budaya di sekitar lingkungan sekolah. Menggunakan desain studi kasus kualitatif, data dikumpulkan melalui observasi awal, dokumentasi, dan wawancara mendalam dengan dua guru kelas V, tiga peserta didik kelas V, dan dua tokoh masyarakat sebagai informan kunci di SD Negeri Inpres 1 Koya Timur, Kota Jayapura, Papua. Hasil penelitian menunjukkan adanya kesenjangan (missing link) yang signifikan antara kesadaran konseptual dan eksekusi praktis di kelas. Meskipun guru memiliki persepsi yang sangat positif terhadap etnosains, implementasi nyata sangat terhambat oleh keterbatasan alokasi waktu kurikulum dan kurangnya fasilitas pendukung sehingga guru menyederhanakan integrasi sebatas pada praktik tarian adat. Dampaknya, peserta didik kelas V mengalami disorientasi konseptual dan merasa bingung ketika mencoba mengorelasikan istilah ilmiah abstrak dalam buku teks seperti komponen biotik, keanekaragaman hayati, dan teknologi kuliner dengan budaya asli mereka. Sebaliknya, wawancara dengan tokoh masyarakat mengungkap melimpahnya materi budaya dan alam yang belum dimanfaatkan di sekitar sekolah seperti pohon sagu, pohon pinang, papeda, serta alat musik tradisional tifa. Objek-objek tersebut memiliki potensi besar untuk bertindak sebagai alat peraga alternatif dan laboratorium alam yang efisien guna mengatasi keterbatasan fasilitas sekolah. Penelitian ini merekomendasikan perlunya pengembangan modul dan lembar kerja peserta didik (LKPD) berbasis etnosains Papua yang terstruktur untuk menjembatani sains formal dengan budaya sehari-hari peserta didik.