Mahasiswa yang menempuh pendidikan di luar daerah asal atau dikenal sebagai mahasiswa rantau menghadapi berbagai tantangan psikologis selama proses adaptasi terhadap lingkungan baru. Perubahan lingkungan sosial, budaya, dan akademik sering kali memunculkan stres, rasa rindu terhadap keluarga (homesickness), serta penurunan motivasi belajar. Di tengah perkembangan teknologi komunikasi, penggunaan media video call menjadi salah satu sarana yang memungkinkan mahasiswa tetap menjaga komunikasi interpersonal dengan orang tua meskipun terpisah oleh jarak geografis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana komunikasi interpersonal jarak jauh melalui video call membentuk kedalaman keterbukaan diri (self-disclosure) mahasiswa rantau berdasarkan Teori Penetrasi Sosial serta dampaknya terhadap kondisi psikologis dan motivasi belajar. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi. Informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling yang melibatkan empat mahasiswa rantau aktif yang rutin melakukan komunikasi dengan orang tua melalui video call. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal yang berlangsung secara intens melalui video call mampu memfasilitasi proses keterbukaan diri hingga mencapai tahap affective exchange dan stable exchange. Kehadiran visual dan suara orang tua memberikan rasa aman psikologis, membantu menurunkan tingkat stres akademik, mengurangi rasa kesepian, serta meningkatkan kembali fokus dan motivasi belajar mahasiswa. Temuan ini menunjukkan bahwa efektivitas komunikasi jarak jauh tidak hanya ditentukan oleh frekuensi komunikasi, tetapi juga oleh kualitas interaksi, kedalaman keterbukaan diri, dan dukungan emosional yang diberikan selama proses komunikasi berlangsung.