Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

POTENSI DAN PEMANFAATAN PASIR PUTIH (PASIR KUARSA) SEBAGAI AGREGAT HALUS DALAM KONSTRUKSI BETON : TINJAUAN LITERATUR SISTEMATIS Muhammad Rizan Adam; Norminawati Dewi; Hendra Putra Dipanegara
Jurnal Rekayasa Konstruksi Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Rekayasa Konstruksi (November)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Kepada Masyarakat Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34128/jrk.v4i2.72

Abstract

Pasir putih atau pasir kuarsa merupakan material mineral berbutir halus dengan kandungan silika (SiO₂) tinggi yang memiliki karakteristik fisis dan kimia unggul untuk diaplikasikan pada konstruksi, khususnya sebagai agregat halus dalam campuran beton. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis potensi serta performa teknis pasir kuarsa sebagai substitusi parsial maupun total terhadap agregat halus konvensional melalui telaah sistematis terhadap literatur nasional dan internasional. Hasil peninjauan menunjukkan bahwa penggunaan pasir kuarsa mampu meningkatkan kekuatan tekan, ketahanan aus, dan densitas beton, serta mengurangi porositas apabila dikombinasikan dengan desain campuran yang tepat dan kontrol kadar impurities organik. Penggunaan aditif tertentu seperti superplasticizer dan silica fume ditemukan dapat memperbaiki workability sehingga beton tetap memenuhi syarat kemudahan pengerjaan meski kandungan pasir kuarsa tinggi. Selain aspek teknis, pemanfaatan pasir kuarsa sebagai material alternatif juga memberikan dampak positif terhadap efisiensi ekonomi konstruksi dengan menekan kebutuhan transportasi material konvensional dan memperkuat kemandirian pasokan material lokal. Namun, optimalisasi pemanfaatannya masih memerlukan kajian keberlanjutan terkait dampak lingkungan penambangan, risiko reaksi alkali–silika jangka panjang, dan pengembangan standar teknis nasional yang lebih spesifik untuk material pasir kuarsa sebagai agregat konstruksi. Secara keseluruhan, temuan kajian ini menegaskan bahwa pasir putih/pasir kuarsa memiliki prospek besar sebagai material agregat halus dalam konstruksi beton yang unggul, ekonomis, dan berorientasi keberlanjutan, sehingga layak untuk ditingkatkan penggunaannya melalui riset lanjutan, inovasi teknologi, dan dukungan kebijakan sektor konstruksi.
Analisis Tren Penelitian Perkerasan Porous dan Permeable Pavement sebagai Solusi Drainase Perkotaan: Kajian Literatur Sistematis Muhammad Rizan Adam; Hendra Putra Dipanegara; Jerry Christian Poli
Jurnal Rekayasa Konstruksi Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Rekayasa Konstruksi (Mei)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Kepada Masyarakat Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perluasan permukaan kedap air yang dipicu oleh urbanisasi telah meningkatkan volume limpasan permukaan dan memperbesar risiko banjir perkotaan di Indonesia. Perkerasan porous dan permeable pavement merupakan salah satu solusi Low Impact Development (LID) yang memungkinkan infiltrasi air hujan secara in situ, sehingga mengurangi beban sistem drainase konvensional. Penelitian ini bertujuan memetakan tren penelitian, mengidentifikasi karakteristik kinerja berbagai jenis teknologi perkerasan porous, serta menentukan kesenjangan penelitian yang relevan bagi konteks iklim tropis selama periode 2015–2025 menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) berpedoman PRISMA 2020. Pencarian literatur dilakukan pada tiga basis data—Scopus, Google Scholar, dan Garuda—menghasilkan 312 rekaman awal. Setelah proses seleksi bertahap, sebanyak 20 artikel diinklusi dalam sintesis akhir. Hasil sintesis menunjukkan bahwa pervious concrete dan porous asphalt mendominasi penelitian global dengan kemampuan reduksi limpasan permukaan 26–98%, efisiensi penyisihan total suspended solids (TSS) hingga 60%, serta kontribusi terhadap penurunan konsentrasi logam berat dan senyawa nitrogen. Tantangan kritis yang teridentifikasi secara konsisten adalah penyumbatan (clogging) pada lapisan permukaan. Tiga kesenjangan penelitian utama mencakup: minimnya studi empiris jangka panjang di kawasan beriklim tropis, ketiadaan standar teknis nasional Indonesia, dan terbatasnya kajian analisis biaya siklus hidup. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan kebijakan dan agenda penelitian perkerasan porous di Indonesia.
Analisis Kinerja Simpang Bersinyal pada Simpang Empat Paringin Kabupaten Balangan Hafsha Yanti Siregar; Fakhir Muhammad Dzaki; Hendra Putra Dipanegara
INSOLOGI: Jurnal Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 5 (2026): Oktober 2026
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/insologi.v5i5.9111

Abstract

The Paringin Signalized Intersection in Balangan Regency is an important intersection on the Trans-Kalimantan route that accommodates interregional traffic movements between South, East, and Central Kalimantan. Increasing traffic activity at this intersection may affect its operational performance, particularly during peak hours. This study aims to analyze the traffic volume, capacity, degree of saturation (DS), and level of service (LOS) at the Paringin Signalized Intersection using the 1997 Indonesian Highway Capacity Manual (MKJI). The study employed a quantitative descriptive approach. Primary data were collected through traffic surveys conducted for three days, from 9 to 11 May 2026, with observations carried out for 12 hours per day from 06.00 to 18.00 WITA. The collected data included intersection geometry, traffic volume, and signal timing. The analysis covered traffic volume, saturation flow, capacity, degree of saturation, and level of service for each approach. The results showed that the peak-hour traffic volumes were 549 pcu/hour for the North approach, 418 pcu/hour for the South approach, 120 pcu/hour for the West approach, and 168 pcu/hour for the East approach. The corresponding capacities were 408.13, 499.90, 588.04, and 419.70 pcu/hour, with DS values of 1.34, 0.84, 0.20, and 0.40, respectively. The resulting LOS were F, D, A, and B. The North approach was the critical approach because its traffic volume exceeded the available capacity. Therefore, signal timing evaluation and capacity improvement are required, particularly for the North approach.