Implementasi Kurikulum Merdeka menempatkan penguatan karakter sebagai salah satu tujuan utama pendidikan, termasuk pengembangan karakter mandiri melalui Profil Pelajar Pancasila. Namun, berbagai tuntutan administratif yang menyertai implementasi kurikulum berpotensi memengaruhi efektivitas proses pendidikan karakter. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tantangan yang dihadapi guru dalam mengintegrasikan karakter mandiri di tengah beban administrasi Kurikulum Merdeka. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus yang dilaksanakan di SD Muhammadiyah 2. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru mengalami ketegangan antara pelaksanaan tugas administratif dan kebutuhan pendampingan karakter siswa. Tingginya intensitas pelaporan digital dan penyusunan dokumen pembelajaran berkontribusi terhadap berkurangnya waktu interaksi pedagogis yang bermakna. Kondisi tersebut berpotensi melahirkan fenomena paper-based character, yaitu penilaian karakter yang lebih berorientasi pada kelengkapan dokumen daripada perubahan perilaku peserta didik. Meskipun demikian, kepemimpinan instruksional kepala sekolah yang suportif, penguatan komunitas belajar, dan penyederhanaan sistem administrasi terbukti mampu mengurangi tekanan administratif sehingga guru dapat lebih fokus pada pembinaan karakter mandiri siswa. Penelitian ini menegaskan pentingnya keseimbangan antara akuntabilitas administrasi dan esensi pendidikan karakter dalam implementasi Kurikulum Merdeka