Artikel ini dirancang untuk mengkaji pendidikan agama inklusif dan pembentukan solidaritas lintas identitas di Madrasah dalam perspektif sosiologi lembaga pendidikan. Fokus kajian diarahkan pada argumen bahwa pendidikan agama inklusif dapat memperkuat solidaritas lintas identitas dengan menempatkan agama sebagai sumber etika sosial, bukan alat eksklusi kelompok. Masalah ini penting karena lembaga pendidikan tidak hanya menjadi tempat transmisi pengetahuan, tetapi juga arena pembentukan relasi sosial, nilai, kepatuhan, identitas, dan peluang hidup peserta didik. Penelitian dirancang dengan pendekatan kualitatif lapangan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data utama diarahkan untuk membaca tiga bukti empiris: praktik pembelajaran agama yang menekankan kemanusiaan, keadilan, dan penghargaan perbedaan.; kegiatan sosial bersama lintas kelas, organisasi, agama, atau latar budaya.; serta wawancara siswa tentang perubahan pandangan terhadap kelompok berbeda. Secara konseptual, artikel ini bertumpu pada pendidikan agama inklusif, solidaritas lintas identitas, dan etika sosial keagamaan sebagai pisau baca. Kontribusi artikel terletak pada penyusunan penjelasan empiris yang menghubungkan praktik keseharian lembaga pendidikan dengan struktur sosial yang lebih luas. Dengan demikian, tulisan ini diharapkan membantu mahasiswa menyusun artikel yang tidak sekadar deskriptif, tetapi analitis, argumentatif, dan relevan bagi pengembangan mutu pendidikan Islam.