Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Metodologi takhrij dalam ushul fiqh: analisis konseptual, urgensi epistemologis, kaidah, dan aplikasinya dalam penetapan hukum Islam kontemporer Sharhan Asad Almawarid; Zul Ikromi; Rodi Wahyudi
Humantech : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol. 5 No. 3 (2026): Humantech : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia
Publisher : Program Studi Akuntansi IKOPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32670/humantech.v5i3.6168

Abstract

Perkembangan persoalan hukum Islam kontemporer (nawāzil) menuntut adanya metodologi istinbath yang adaptif dan tetap berlandaskan prinsip-prinsip syariat. Salah satu metode yang relevan adalah takhrij dalam ushul fiqh, namun kajiannya masih terbatas pada aspek definisional dan aplikatif. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep takhrij, menjelaskan urgensi epistemologisnya, merumuskan kaidah metodologisnya, serta mengaplikasikannya dalam penetapan hukum Islam kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode normatif-doktrinal (library research) melalui analisis deskriptif, konseptual, komparatif, dan aplikatif terhadap literatur klasik dan kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa takhrij merupakan bentuk ijtihad mazhabi terstruktur yang mengintegrasikan teks, kaidah, dan realitas sosial dalam proses penetapan hukum Islam. Validitas takhrij ditentukan oleh kesesuaian dengan nash, kesamaan illat, dan kompetensi ilmiah pelakunya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa takhrij memiliki relevansi strategis dalam pengembangan hukum Islam kontemporer karena mampu menjaga keseimbangan antara otentisitas syariat dan adaptabilitas terhadap perubahan zaman.
KEDUDUKAN KAIDAH FIQHIYAH DALAM SISTEM EPISTIMOLOGI HUKUM ISLAM Berliano Arrasyid; Zul Ikromi; Muhammad Hafis
Al-Usroh : Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol. 4 No. 01 (2026): Juni
Publisher : Islamic Family Law, STAI Sangatta Kutai Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55799/alusroh.v4i01.971

Abstract

This research is motivated by the tension between the limited nature of revealed texts and the dynamic reality of social change, which positions qawa’id fiqhiyyah (Islamic legal maxims) as a vital epistemological instrument to bridge partial rulings (furu’) with the universal objectives of Sharia (maqasid). The purpose of this study is to dissect the epistemological structure of Islamic law through the lens of legal maxims, analyze their authority within the Hanafi and Shafi'i traditions, and reconstruct their relevance using Jasser Auda’s systems approach. The research method employed is normative legal research based on a library study. Data were collected through documentation of primary and secondary literature, which were then processed using descriptive-analytical and hermeneutic techniques to deconstruct the Naqli-Aqli-Systemic reasoning. The results indicate that qawa’id fiqhiyyah represent an integration of bayani (textual), burhani (rational), and irfani (ethical-spiritual) epistemologies. There is a significant methodological distinction where the Shafi'i School employs a deductive approach, while the Hanafi School tends toward an inductive approach. Furthermore, through the features of Jasser Auda’s systems approach such as cognitive nature, openness, and multi-dimensionality legal maxims are transformed from mere products of past jurisprudence into a progressive and responsive ijtihad methodology facing global challenges. In conclusion, the reconstruction of legal maxims through a systems approach enables Islamic law to remain relevant as a mercy to all creation (rahmatan lil-alamin) by prioritizing human welfare and human rights as the primary orientations.
Menjawab Tantangan Krisis Moral Pelajar: Rekonstruksi Figur Guru Berdasarkan Karakteristik Mu'allim Rasulullah SAW Nurul Mardhatillah; Zul Ikromi
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7427

Abstract

Dunia pendidikan saat ini sedang menghadapi tantangan berat berupa penurunan moral di kalangan pelajar, seperti maraknya kasus perundungan (bullying), tawuran, hingga kecanduan judi online dan obat-obat terlarang. Maraknya fenomena tersebut turut menambah keprihatinan terhadap kondisi pendidikan zaman modern yang sangat disayangkan dihadapkan dengan pergeseran peran guru di sekolah yang cenderung hanya fokus mengejar nilai akademik dan menuntaskan materi pelajaran, sehingga mengabaikan pembentukan akhlak anak didiknya yang pada akhirnya menemui jalan buntu untuk memperbaiki generasi muda abad ini. Penelitian ini bertujuan untuk menggali kembali karakteristik Nabi Muhammad SAW sebagai seorang guru (mu'allim) pilihan dan bagaimana cara menerapkannya pada sosok guru modern saat ini sebagai solusi atas krisis moral tersebut. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan mengumpulkan dan menelaah data dari berbagai sumber tertulis, seperti ayat Al-Qur'an, hadis-hadis Nabi, serta kitab Ar-Rasul al-Mu'allim karya Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kunci kesuksesan Rasulullah SAW dalam mendidik watak manusia terletak pada kekuatan kepribadian beliau. Rasulullah SAW mengajar dengan memberikan contoh nyata (keteladanan), penuh kasih sayang dan kelembutan, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, serta sangat menghargai keunikan karakter setiap siswanya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa untuk menyelamatkan moral generasi muda, guru modern harus mengubah paradigmanya dari sekadar "pengajar materi" menjadi "pendidik jiwa". Dengan menghidupkan kembali gaya mengajar ala Rasulullah SAW di ruang kelas, guru akan menjadi sosok teladan yang dihormati, sehingga siswa dengan sukarela meniru perilaku baik gurunya. Sekolah pun dapat kembali berfungsi sebagai tempat yang aman untuk mencetak generasi yang cerdas otaknya sekaligus mulia akhlaknya.