Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Model Penilaian Dengan Pendekatan Paradigma Kurikulum Merdeka Belia Mutiara Aprili Br Depari; Berlianta Saragih; Enjel Mitra Wati Hulu; Meiriati Simanjuntak; Muhammad Ibnu Adani; Vinc Jae Lestari Surbakti
Journal of Education Religion Humanities and Multidiciplinary Vol. 4 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jerumi.v4i1.8630

Abstract

Penerapan Kurikulum Merdeka membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan di Indonesia, di mana fokus pembelajaran kini bergeser dari guru menjadi berpusat pada siswa. Perubahan paradigma ini menuntut sistem penilaian (asesmen) yang tidak lagi sekadar mengukur hasil akhir, melainkan berfungsi sebagai alat untuk mendukung proses perkembangan belajar siswa secara utuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam tentang integrasi model penilaian berbasis paradigma baru dalam Kurikulum Merdeka, khususnya dalam mengidentifikasi jenis, fungsi, serta bagaimana kompetensi guru memengaruhi keberhasilan implementasinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research), yang mengandalkan analisis isi terhadap berbagai jurnal ilmiah dan dokumen regulasi pendidikan yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa model penilaian dalam Kurikulum Merdeka wajib mengintegrasikan tiga jenis asesmen secara terpadu. Pertama, asesmen diagnostik di awal pembelajaran untuk memetakan kesiapan, minat, dan karakteristik unik siswa. Kedua, asesmen formatif di sepanjang proses pembelajaran untuk memantau perkembangan belajar sekaligus memberikan umpan balik langsung bagi siswa dan guru. Ketiga, asesmen sumatif di akhir periode pembelajaran yang dilakukan secara autentik melalui berbagai bentuk seperti proyek, portofolio, maupun unjuk kerja untuk mengukur ketercapaian tujuan belajar. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggabungan ketiga jenis asesmen ini secara seimbang mampu menciptakan ekosistem belajar yang efektif, bermakna, dan humanis sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara. Keberhasilan model ini sangat ditentukan oleh kesiapan dan peningkatan kompetensi guru secara berkelanjutan dalam merancang penilaian yang inovatif.
Analisis Tindak Tutur Driver Ojek Online dalam Interaksi dengan Pelanggan: Kajian Bahasa pada Masyarakat Kelas Pekerja Digital Delima br Pakpahan; Enjel Mitra Wati; Putri Indahyani Tarigan; Yuliana Santa Lore Purba; Berlianta Saragih; M. Oky Fardian Gafari
CARONG: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 3 No. 2 (2026): April-Juni, Ilmu Sosial dan IPA
Publisher : Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/dqn00605

Abstract

This study aims to analyze the speech acts used by online motorcycle taxi drivers in their interactions with customers within the digital working-class community. This research employed a qualitative method with a descriptive approach. The data were collected through direct interviews with six online motorcycle taxi drivers consisting of two Grab drivers, two Gojek drivers, and two Maxride drivers around the environment of Universitas Negeri Medan. Data collection techniques included interviews. The results showed that three forms of speech acts were found in the interaction between drivers and customers, namely locutionary acts, illocutionary acts, and perlocutionary acts. Locutionary acts were used by drivers to convey information related to trips and road conditions. Illocutionary acts were used to maintain customer comfort and build social interaction during the trip. Meanwhile, perlocutionary acts were reflected in the influence of drivers’ speech on customer comfort and application ratings. The study also found differences in communication patterns among Grab, Gojek, and Maxride drivers. However, all drivers emphasized the importance of polite language in providing services to customers. Therefore, language plays an important role in online transportation services and becomes part of the work quality within the digital working-class community.