Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Tindak Tutur dan Strategi Kesantunan Pedagang di Pasar Tradisional Studi Kasus: Pasar MMTC Pancing dan Pasar Lau Dendang Aditia Hizki Tarigan; Juanda Alfario Turnip; Maturianus Laia; Meiriati Simanjuntak; Mohd. Apryanta Sukasa; Veronika Simbolon; M. Oky Fardian Gafari
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 3 No. 03 (2026): JUNI - JULI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bahasa memiliki peran penting dalam kegiatan jual beli di pasar tradisional karena menjadi sarana utama yang digunakan pedagang dan pembeli untuk berinteraksi, melakukan tawar-menawar, serta membangun hubungan sosial yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk-bentuk tindak tutur dan strategi kesantunan yang digunakan oleh pedagang di Pasar MMTC Pancing dan Pasar Lau Dendang dalam berkomunikasi dengan pembeli. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap pedagang yang dipilih yang kemudian dianalisis melalui proses transkripsi, pengelompokan data, dan interpretasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pedagang di kedua pasar menggunakan berbagai jenis tindak tutur, seperti tindak tutur asertif, direktif, ekspresif, dan komisif dalam proses komunikasi dengan pembeli. Dalam menyapa pembeli, pedagang menggunakan sapaan yang santun seperti “Kak”, “Bang”, “Ibu”, dan “Bapak” sebagai bentuk penghormatan. Pedagang di Pasar Lau Dendang cenderung lebih luwes dan akrab dalam berinteraksi dibandingkan pedagang muda di Pasar MMTC Pancing yang masih menunjukkan rasa canggung dalam komunikasi. Dalam menghadapi tawaran harga yang terlalu rendah, pedagang menggunakan strategi kesantunan positif dengan memberikan alasan yang logis dan menawarkan harga tanpa menyinggung perasaan pembeli. Selain itu, dalam menangani komplain dan barang rusak, pedagang menunjukkan sikap terbuka, menggunakan bahasa yang sopan, serta menghindari kata-kata yang bernada kasar atau merendahkan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan tindak tutur yang tepat dan strategi kesantunan yang baik berperan penting dalam menciptakan komunikasi yang harmonis, menjaga hubungan sosial antara pedagang dan pembeli, serta mendukung keberhasilan transaksi di pasar tradisional.
Model Penilaian Dengan Pendekatan Paradigma Kurikulum Merdeka Belia Mutiara Aprili Br Depari; Berlianta Saragih; Enjel Mitra Wati Hulu; Meiriati Simanjuntak; Muhammad Ibnu Adani; Vinc Jae Lestari Surbakti
Journal of Education Religion Humanities and Multidiciplinary Vol. 4 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jerumi.v4i1.8630

Abstract

Penerapan Kurikulum Merdeka membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan di Indonesia, di mana fokus pembelajaran kini bergeser dari guru menjadi berpusat pada siswa. Perubahan paradigma ini menuntut sistem penilaian (asesmen) yang tidak lagi sekadar mengukur hasil akhir, melainkan berfungsi sebagai alat untuk mendukung proses perkembangan belajar siswa secara utuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam tentang integrasi model penilaian berbasis paradigma baru dalam Kurikulum Merdeka, khususnya dalam mengidentifikasi jenis, fungsi, serta bagaimana kompetensi guru memengaruhi keberhasilan implementasinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research), yang mengandalkan analisis isi terhadap berbagai jurnal ilmiah dan dokumen regulasi pendidikan yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa model penilaian dalam Kurikulum Merdeka wajib mengintegrasikan tiga jenis asesmen secara terpadu. Pertama, asesmen diagnostik di awal pembelajaran untuk memetakan kesiapan, minat, dan karakteristik unik siswa. Kedua, asesmen formatif di sepanjang proses pembelajaran untuk memantau perkembangan belajar sekaligus memberikan umpan balik langsung bagi siswa dan guru. Ketiga, asesmen sumatif di akhir periode pembelajaran yang dilakukan secara autentik melalui berbagai bentuk seperti proyek, portofolio, maupun unjuk kerja untuk mengukur ketercapaian tujuan belajar. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggabungan ketiga jenis asesmen ini secara seimbang mampu menciptakan ekosistem belajar yang efektif, bermakna, dan humanis sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara. Keberhasilan model ini sangat ditentukan oleh kesiapan dan peningkatan kompetensi guru secara berkelanjutan dalam merancang penilaian yang inovatif.