Penerapan Kurikulum Merdeka membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan di Indonesia, di mana fokus pembelajaran kini bergeser dari guru menjadi berpusat pada siswa. Perubahan paradigma ini menuntut sistem penilaian (asesmen) yang tidak lagi sekadar mengukur hasil akhir, melainkan berfungsi sebagai alat untuk mendukung proses perkembangan belajar siswa secara utuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam tentang integrasi model penilaian berbasis paradigma baru dalam Kurikulum Merdeka, khususnya dalam mengidentifikasi jenis, fungsi, serta bagaimana kompetensi guru memengaruhi keberhasilan implementasinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research), yang mengandalkan analisis isi terhadap berbagai jurnal ilmiah dan dokumen regulasi pendidikan yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa model penilaian dalam Kurikulum Merdeka wajib mengintegrasikan tiga jenis asesmen secara terpadu. Pertama, asesmen diagnostik di awal pembelajaran untuk memetakan kesiapan, minat, dan karakteristik unik siswa. Kedua, asesmen formatif di sepanjang proses pembelajaran untuk memantau perkembangan belajar sekaligus memberikan umpan balik langsung bagi siswa dan guru. Ketiga, asesmen sumatif di akhir periode pembelajaran yang dilakukan secara autentik melalui berbagai bentuk seperti proyek, portofolio, maupun unjuk kerja untuk mengukur ketercapaian tujuan belajar. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggabungan ketiga jenis asesmen ini secara seimbang mampu menciptakan ekosistem belajar yang efektif, bermakna, dan humanis sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara. Keberhasilan model ini sangat ditentukan oleh kesiapan dan peningkatan kompetensi guru secara berkelanjutan dalam merancang penilaian yang inovatif.
Copyrights © 2026