Peran komunikasi dalam operasi perdamaian multinasional merupakan faktor penting yang menentukan keberhasilan pelaksanaan misi. Satuan South East Military Police Unit (SEMPU) Kontingen Garuda XXV-O United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) menghadapi tantangan komunikasi yang kompleks akibat perbedaan bahasa, budaya, prosedur kerja, serta sistem komando di antara personel multinasional. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi peningkatan komunikasi SEMPU, mengidentifikasi kendala komunikasi yang dihadapi, serta menganalisis dukungan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian TNI (PMPP TNI) dalam penyiapan kemampuan komunikasi personel. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, studi dokumentasi, dan observasi. Kerangka analisis yang digunakan meliputi teori komunikasi lintas budaya Edward T. Hall, teori konstruktivisme Alexander Wendt, teori komunikasi organisasi Katz dan Kahn, serta analisis SWOT melalui IFAS dan EFAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi peningkatan komunikasi SEMPU dilaksanakan melalui standardisasi prosedur komunikasi berbasis NATO, pelatihan komunikasi lintas budaya, penggunaan teknologi komunikasi terintegrasi, serta penguatan koordinasi antarunsur misi. Namun, pelaksanaannya masih menghadapi kendala berupa keterbatasan infrastruktur komunikasi, perbedaan kemampuan personel, dan perbedaan konteks budaya yang memengaruhi efektivitas koordinasi. Oleh karena itu, strategi peningkatan komunikasi perlu diarahkan pada penguatan interoperabilitas sistem komunikasi, peningkatan kemampuan bahasa asing, dan pembinaan komunikasi lintas budaya secara lebih terstruktur.