Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Pelaksanaan Layanan Bimbingan Belajar untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa di SMA Katolik Karitas Tomohon Justina Bernadetta; Rinna Y. Kasenda; Meike Endang Hartati
Indo Green Journal Vol. 4 No. 2 (2026): Green 2026
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v4i2.336

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan layanan bimbingan belajar dalam meningkatkan motivasi belajar siswa di SMA Katolik Karitas Tomohon. Motivasi belajar merupakan usaha yang dilakukan untuk membangkitkan dorongan dalam diri seseorang atau sekelompok individu agar mereka bertindak atau melakukan sesuatu. Motivasi berperan sebagai faktor utama yang mendorong seseorang untuk mengambil tindakan dan mencapai tujuan yang diinginkan. Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling (PTBK) dengan desain model Kemmis dan McTaggart yang dilaksanakan dalam dua siklus, meliputi tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian berjumlah empat orang siswa yang memiliki permasalahan motivasi bekajar. Teknik pengumpulan data menggunakan angket motivasi belajar dan observasi, sedangkan analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat motivasi siswa berada pada kategori rendah.Setelah melaksanakan Siklus I dan berbaikan tindakan pada Siklus II,Terjadi peningkatan motivasi siswa sehingga berada pada kategori tinggi. Dengan demikian ,penerapan layanan bimbingan belajar dalam meningkatkan motivasi belajar siswa di SMA Katolik Karitas Tomohon.
Layanan Konseling Realitas dalam Peningkatan Kedisiplinan Belajar Peserta Didik SMP Advent Pioneer Tondano Rivaldo Karundeng; Rinna Y. Kasenda; Meike Endang Hartati
Indo Green Journal Vol. 4 No. 2 (2026): Green 2026
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v4i2.345

Abstract

Kedisiplinan belajar merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung keberhasilan proses pembelajaran dan pembentukan tanggung jawab peserta didik. Namun, pada kenyataannya masih ditemukan peserta didik yang menunjukkan perilaku belajar kurang disiplin, seperti terlambat masuk kelas, menunda penyelesaian tugas, serta kurang mematuhi jadwal belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas layanan konseling realitas dalam meningkatkan kedisiplinan belajar siswa di SMP Advent Pioneer Tondano. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi eksperimen melalui model one group pretest-posttest design. Subjek penelitian berjumlah 10 siswa yang memiliki tingkat kedisiplinan belajar rendah. Teknik pengumpulan data menggunakan angket kedisiplinan belajar dan observasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial menggunakan uji paired sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kedisiplinan belajar siswa setelah diberikan layanan konseling realitas. Perbedaan skor pretest dan posttest menunjukkan bahwa layanan konseling realitas efektif dalam meningkatkan kedisiplinan belajar siswa, khususnya dalam aspek ketepatan waktu, kepatuhan terhadap aturan belajar, dan tanggung jawab akademik. Dengan demikian, layanan konseling realitas dapat digunakan sebagai salah satu alternatif layanan bimbingan dan konseling untuk meningkatkan kedisiplinan belajar siswa disekolah.
Pelaksanaan Layanan Bimbingan Belajar untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa di SMA Katolik Karitas Tomohon Justina Bernadetta; Rinna Y. Kasenda; Meike Endang Hartati
Indo Green Journal Vol. 4 No. 2 (2026): Green 2026
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v4i2.336

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan layanan bimbingan belajar dalam meningkatkan motivasi belajar siswa di SMA Katolik Karitas Tomohon. Motivasi belajar merupakan usaha yang dilakukan untuk membangkitkan dorongan dalam diri seseorang atau sekelompok individu agar mereka bertindak atau melakukan sesuatu. Motivasi berperan sebagai faktor utama yang mendorong seseorang untuk mengambil tindakan dan mencapai tujuan yang diinginkan. Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling (PTBK) dengan desain model Kemmis dan McTaggart yang dilaksanakan dalam dua siklus, meliputi tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian berjumlah empat orang siswa yang memiliki permasalahan motivasi bekajar. Teknik pengumpulan data menggunakan angket motivasi belajar dan observasi, sedangkan analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat motivasi siswa berada pada kategori rendah.Setelah melaksanakan Siklus I dan berbaikan tindakan pada Siklus II,Terjadi peningkatan motivasi siswa sehingga berada pada kategori tinggi. Dengan demikian ,penerapan layanan bimbingan belajar dalam meningkatkan motivasi belajar siswa di SMA Katolik Karitas Tomohon.
Layanan Konseling Realitas dalam Peningkatan Kedisiplinan Belajar Peserta Didik SMP Advent Pioneer Tondano Rivaldo Karundeng; Rinna Y. Kasenda; Meike Endang Hartati
Indo Green Journal Vol. 4 No. 2 (2026): Green 2026
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v4i2.345

Abstract

Kedisiplinan belajar merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung keberhasilan proses pembelajaran dan pembentukan tanggung jawab peserta didik. Namun, pada kenyataannya masih ditemukan peserta didik yang menunjukkan perilaku belajar kurang disiplin, seperti terlambat masuk kelas, menunda penyelesaian tugas, serta kurang mematuhi jadwal belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas layanan konseling realitas dalam meningkatkan kedisiplinan belajar siswa di SMP Advent Pioneer Tondano. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi eksperimen melalui model one group pretest-posttest design. Subjek penelitian berjumlah 10 siswa yang memiliki tingkat kedisiplinan belajar rendah. Teknik pengumpulan data menggunakan angket kedisiplinan belajar dan observasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial menggunakan uji paired sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kedisiplinan belajar siswa setelah diberikan layanan konseling realitas. Perbedaan skor pretest dan posttest menunjukkan bahwa layanan konseling realitas efektif dalam meningkatkan kedisiplinan belajar siswa, khususnya dalam aspek ketepatan waktu, kepatuhan terhadap aturan belajar, dan tanggung jawab akademik. Dengan demikian, layanan konseling realitas dapat digunakan sebagai salah satu alternatif layanan bimbingan dan konseling untuk meningkatkan kedisiplinan belajar siswa disekolah.
Perbedaan Motivasi Belajar Mahasiswa Program Studi Bimbingan Konseling Universitas Negeri Manado Pengguna Artificial Intelligence (ChatGPT) Berdasarkan Jenis Kelamin Tania R. A. Gultom; Meisie L. Mangantes; Rinna Y. Kasenda
Indo Green Journal Vol. 4 No. 2 (2026): Green 2026
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v4i2.572

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah ada perbedaan motivasi belajar antara mahasiswa laki-laki dan perempuan yang menggunakan Artificial Intelligence (ChatGPT) di Program Studi Bimbingan dan Konseling, Universitas Negeri Manado. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif-korelasional dengan rancangan ex post facto. Dari total populasi 188 mahasiswa aktif angkatan 2023-2025, diambil sampel sebanyak 128 responden (26 laki-laki dan 102 perempuan) melalui teknik disproportionate stratified random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Likert yang terdiri dari 14 butir pernyataan. Selain statistik deskriptif, analisis data juga dilakukan melalui uji normalitas (Shapiro-Wilk dan Kolmogorov-Smirnov), uji homogenitas Levene, serta uji t (Independent Sample T-Test) untuk menguji hipotesis utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor motivasi belajar antara kedua kelompok tersebut sangat mirip, yaitu 51,62 (SD = 7,047) untuk mahasiswa laki-laki dan 51,82 (SD = 6,361) untuk mahasiswi perempuan. Perbedaan yang sangat kecil, yaitu hanya 0,16 poin ini, menghasilkan nilai signifikansi 2-tailed sebesar 0,929 (p > 0,05), sehingga H0 diterima. Dengan demikian, data ini membuktikan bahwa faktor gender tidak memberikan perbedaan yang nyata secara statistik terhadap motivasi belajar mahasiswa pengguna ChatGPT. Temuan ini menunjukkan bahwa dorongan dan semangat belajar mahasiswa sebenarnya tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin, melainkan lebih ditentukan oleh faktor lain seperti karakteristik pribadi, kebutuhan tugas kuliah, serta tingkat literasi digital mereka. Abstract This study aims to examine whether there are differences in learning motivation between male and female students who use Artificial Intelligence (ChatGPT) in the Guidance and Counseling Program at Manado State University. This study employed a descriptive-correlational quantitative approach with an ex post facto design. From a total population of 188 active students in the 2023-2025 cohort, a sample of 128 respondents (26 male and 102 female) was selected using disproportionate stratified random sampling. Data were collected using a Likert-scale questionnaire consisting of 14 statements. In addition to descriptive statistics, data analysis was conducted using normality tests (Shapiro-Wilk and Kolmogorov-Smirnov), Levene’s test for homogeneity of variances, and an independent samples t-test to test the main hypothesis. The results showed that the mean learning motivation scores between the two groups were very similar: 51.62 (SD = 7.047) for male students and 51.82 (SD = 6.361) for female students. This very small difference-only 0.16 points-resulted in a two-tailed significance value of 0.929 (p > 0.05), so H0 was accepted. Thus, these data demonstrate that gender does not have a statistically significant effect on the learning motivation of students who use ChatGPT. These findings suggest that students’ motivation and enthusiasm for learning are not actually influenced by gender, but are instead determined by other factors such as personal characteristics, academic assignment requirements, and their level of digital literacy.
Perbedaan Motivasi Belajar Mahasiswa Program Studi Bimbingan Konseling Universitas Negeri Manado Pengguna Artificial Intelligence (ChatGPT) Berdasarkan Jenis Kelamin Tania R. A. Gultom; Meisie L. Mangantes; Rinna Y. Kasenda
Indo Green Journal Vol. 4 No. 2 (2026): Green 2026
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v4i2.572

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah ada perbedaan motivasi belajar antara mahasiswa laki-laki dan perempuan yang menggunakan Artificial Intelligence (ChatGPT) di Program Studi Bimbingan dan Konseling, Universitas Negeri Manado. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif-korelasional dengan rancangan ex post facto. Dari total populasi 188 mahasiswa aktif angkatan 2023-2025, diambil sampel sebanyak 128 responden (26 laki-laki dan 102 perempuan) melalui teknik disproportionate stratified random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Likert yang terdiri dari 14 butir pernyataan. Selain statistik deskriptif, analisis data juga dilakukan melalui uji normalitas (Shapiro-Wilk dan Kolmogorov-Smirnov), uji homogenitas Levene, serta uji t (Independent Sample T-Test) untuk menguji hipotesis utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor motivasi belajar antara kedua kelompok tersebut sangat mirip, yaitu 51,62 (SD = 7,047) untuk mahasiswa laki-laki dan 51,82 (SD = 6,361) untuk mahasiswi perempuan. Perbedaan yang sangat kecil, yaitu hanya 0,16 poin ini, menghasilkan nilai signifikansi 2-tailed sebesar 0,929 (p > 0,05), sehingga H0 diterima. Dengan demikian, data ini membuktikan bahwa faktor gender tidak memberikan perbedaan yang nyata secara statistik terhadap motivasi belajar mahasiswa pengguna ChatGPT. Temuan ini menunjukkan bahwa dorongan dan semangat belajar mahasiswa sebenarnya tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin, melainkan lebih ditentukan oleh faktor lain seperti karakteristik pribadi, kebutuhan tugas kuliah, serta tingkat literasi digital mereka. Abstract This study aims to examine whether there are differences in learning motivation between male and female students who use Artificial Intelligence (ChatGPT) in the Guidance and Counseling Program at Manado State University. This study employed a descriptive-correlational quantitative approach with an ex post facto design. From a total population of 188 active students in the 2023-2025 cohort, a sample of 128 respondents (26 male and 102 female) was selected using disproportionate stratified random sampling. Data were collected using a Likert-scale questionnaire consisting of 14 statements. In addition to descriptive statistics, data analysis was conducted using normality tests (Shapiro-Wilk and Kolmogorov-Smirnov), Levene’s test for homogeneity of variances, and an independent samples t-test to test the main hypothesis. The results showed that the mean learning motivation scores between the two groups were very similar: 51.62 (SD = 7.047) for male students and 51.82 (SD = 6.361) for female students. This very small difference-only 0.16 points-resulted in a two-tailed significance value of 0.929 (p > 0.05), so H0 was accepted. Thus, these data demonstrate that gender does not have a statistically significant effect on the learning motivation of students who use ChatGPT. These findings suggest that students’ motivation and enthusiasm for learning are not actually influenced by gender, but are instead determined by other factors such as personal characteristics, academic assignment requirements, and their level of digital literacy.