Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MENURUT ISMAIL RAJI AL-FARUQI Hasanudin, Muhamad Ihsan
Syntax Idea Vol 1 No 2 (2019): Syntax Idea
Publisher : Ridwan Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dualisme, atau yang disebut juga dengan dikotomisme dalam pendidikan Islam adalah kondisi paradoksal yang terjadi dalam pendidikan yang berakhir pada pemisahan subjek kajian yang Isl ami, dan yang tidak Islami terhadap disiplin keilmuan dalam pendidikan. Kenyataan dikotomi dalam pendidikan Islam tidak lebih merupakan akibat distorsi dari konsep pendidikan luar (Barat) yang dianggap bukan berasal dari konsep Islam. Penelitian ini mengkaji konsep pendidikan Islam dalam perspektif Ismail Raji’ al-Faruqi. Studi ini berfokus pada : 1) bagaimana fitrah sebagai makluk serta dampaknya pada pendidikan Islam; 2) bagaimana dasar dan tujuan pendidikan Islam; 3) bagaimana isi/materi pendidikan Islam; 4) bagaimana lembaga pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan cara pandang teoritik, bahwa konsep pendidikan Islam yang diusahakan adalah ingin meninggalkan metode asal tiru dari Barat yang melahirkan sekularisme yang membahayakan itu, kemudian menggantikannya dengan konsep pendidikan baru yang mereka wujudkan dalam reformasi pendidikan Islam dalam satu wacana Islamisasi pengetahuan. Dalam hal ini, menurut usulan al-Faruqi, semua disiplin ilmu modern diberikan tujuan-tujuan dan visi baru yang konsisten dengan Islam. Setiap disiplin harus ditempa kembali sehingga memberikan relevansi Islam sepanjang sumbu Tauhid. Penelitian ini menggunakan pendekatan kepustakaan melalui metode dokumenter untuk mengumpulkan data penelitian. Data-data yang telah terkumpul tersebut kemudian dianalisis dengan menggunakan metode analisis isi. Berdasarkan hasil pembahasan, 1) bahwa teori ilmu pendidikan Islam mesti disandarkan pada konsep dasar mengenai Fitrah manusia. pembicaraan yang berkaitan dengan hal ini dirasa sangat mendasar dan perlu dijadikan pijakan dalam melakukan aktivitas pendidikan; 2) al-Faruqi meletakan tauhid sebagai dasar pendidikan, dan pendidikan bertujuan untuk menjadikan manusia dapat melaksanakan tugasnya sebagai khalifah, dan menjadika Tuhan sebagai tujuan akhir pendidikan Islam; 3) al-Faruqi menawarkan tiga prinsip isi/materi pendidikan Islam, yaitu : khazanah modern, khazanah Islam klasik, dan integrasi isi kurikulum pendidikan Islam; 4) menurut al-Faruqi lembaga pendidikan terbagi menjadi dua, yaitu ; lembaga formal dan lembaga informal. Konsep pendidikan yang ditawarkan oleh al-Faruqi berifat humanisme-teosentris. Karena konsep pendidikan tersebut dijiwai oleh norma-norma Ilahiyah dan nilainilai fundamental universal yang merupakan kebutuhan makluk yang selarasdengan fitrahnya.
KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MENURUT ISMAIL RAJI AL-FARUQI Muhamad Ihsan Hasanudin
Syntax Idea Vol 1 No 2 (2019): Syntax Idea
Publisher : Ridwan Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/syntax-idea.v1i2.16

Abstract

Dualisme, atau yang disebut juga dengan dikotomisme dalam pendidikan Islam adalah kondisi paradoksal yang terjadi dalam pendidikan yang berakhir pada pemisahan subjek kajian yang Isl ami, dan yang tidak Islami terhadap disiplin keilmuan dalam pendidikan. Kenyataan dikotomi dalam pendidikan Islam tidak lebih merupakan akibat distorsi dari konsep pendidikan luar (Barat) yang dianggap bukan berasal dari konsep Islam. Penelitian ini mengkaji konsep pendidikan Islam dalam perspektif Ismail Raji’ al-Faruqi. Studi ini berfokus pada : 1) bagaimana fitrah sebagai makluk serta dampaknya pada pendidikan Islam; 2) bagaimana dasar dan tujuan pendidikan Islam; 3) bagaimana isi/materi pendidikan Islam; 4) bagaimana lembaga pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan cara pandang teoritik, bahwa konsep pendidikan Islam yang diusahakan adalah ingin meninggalkan metode asal tiru dari Barat yang melahirkan sekularisme yang membahayakan itu, kemudian menggantikannya dengan konsep pendidikan baru yang mereka wujudkan dalam reformasi pendidikan Islam dalam satu wacana Islamisasi pengetahuan. Dalam hal ini, menurut usulan al-Faruqi, semua disiplin ilmu modern diberikan tujuan-tujuan dan visi baru yang konsisten dengan Islam. Setiap disiplin harus ditempa kembali sehingga memberikan relevansi Islam sepanjang sumbu Tauhid. Penelitian ini menggunakan pendekatan kepustakaan melalui metode dokumenter untuk mengumpulkan data penelitian. Data-data yang telah terkumpul tersebut kemudian dianalisis dengan menggunakan metode analisis isi. Berdasarkan hasil pembahasan, 1) bahwa teori ilmu pendidikan Islam mesti disandarkan pada konsep dasar mengenai Fitrah manusia. pembicaraan yang berkaitan dengan hal ini dirasa sangat mendasar dan perlu dijadikan pijakan dalam melakukan aktivitas pendidikan; 2) al-Faruqi meletakan tauhid sebagai dasar pendidikan, dan pendidikan bertujuan untuk menjadikan manusia dapat melaksanakan tugasnya sebagai khalifah, dan menjadika Tuhan sebagai tujuan akhir pendidikan Islam; 3) al-Faruqi menawarkan tiga prinsip isi/materi pendidikan Islam, yaitu : khazanah modern, khazanah Islam klasik, dan integrasi isi kurikulum pendidikan Islam; 4) menurut al-Faruqi lembaga pendidikan terbagi menjadi dua, yaitu ; lembaga formal dan lembaga informal. Konsep pendidikan yang ditawarkan oleh al-Faruqi berifat humanisme-teosentris. Karena konsep pendidikan tersebut dijiwai oleh norma-norma Ilahiyah dan nilainilai fundamental universal yang merupakan kebutuhan makluk yang selarasdengan fitrahnya.
Analisis Pemahaman Guru terhadap Capaian Standar Pembiayaan Di Tingkat SMP/MTs Di Kabupaten Bandung Hasanudin, Muhamad Ihsan; Rochman, Chaerul; Farida, Ida; Basri, Hasan; Erihadiana, Mohamad
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : CV. Ridwan Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.49 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v6i3.2380

Abstract

Peningkatan mutu pendidikan salah satunya berkaitan dengan pemenuhan standar pembiayaan. Pembiayaan dalam pendidikan menjadi sangat penting disebabkan berkaitan dengan sarana prasarana, pengembangan sumberdaya manusia dan komponen pendidikan lainnya. Selain itu, Pemahaman guru terhadap standar pembiayaan menjadi salah satu faktor yang sangat penting dalam pencapaian standar pembiayaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pencapaian standar pembiyaan sekolah tingkat SMP/MTs melalui pemahaman guru PAI dan non-PAI terhadap indikator Standar Pembiayaan. Metode yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif, data yang diperoleh menggunakan teknik observasi, angket dan wawancara. Analisis data dilakukan dengan analisis statistik sederhana, dan triangulasi terhadap indikator dengan skor terendah. Sampel yang digunakan berjumlah 5 guru PAI dan 5 guru non-PAI di tingkat SMP/MTs. Hasil penelitian menunjukan bahwa persentase pemahaman guru PAI 86% lebih besar dari persentase pemahaman guru non PAI sebesar 85%. Berdasarkan triangulasi terhadap indikator terendah, bahwa permasalahan standar pembiayaan meliputi adanya kesenjangan antara perencanan dan realisasi anggaran yang disebabkan keterbatasan dana, dan kurangnya keterlibatan guru dalam perencanaan dana investasi sarana dan prasarana.
Project Based Learning: Produk Belajar dan Karakter Siswa pada Masa New Normal Hasanudin, Muhamad Ihsan; Rochman, Chaerul; Farida, Ida; Tarsono, Tarsono; Baeti, Nurul
TERAMPIL: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Dasar Vol 9 No 1 (2022): TERAMPIL
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/terampil.v9i1.10328

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kompetensi yang dikuasasi siswa selama pembelajaran daring pada saat New Normal dengan menggunakan project based learning. Peneliti menggunakan metode kualitatif deskriptif. Penelitian ini dilakukan di SD IT Uswatun Hasanah dengan jumlah sampel 15 siswa yang terdiri dari 11 siswa laki-laki dan 4 siswa perempuan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pembelajaran daring dengan menggunakan model project based learning dapat dilaksanakan dengan efektif menggunakan media whatsapp dan zoom meeting. Kompetensi karakter lebih siswa kuasai dari pada kemampuan membuat produk, dan keduanya memiliki korelasi yang sangat kuat.  Maka dapat disimpulakn bahwa proses pembelajaran pada saat new normal dengan menggunakan project based learning menjadikan siswa lebih aktif dan dapat berkolaborasi dengan orangtua, lebih produktif dan juga dapat mengembangkan kompetensi karakter siswa. Kompetensi tersebut sangat berguna, terlebih pembelajaran abad ini mengharuskan siswa dapat berfikir kritis, komunikatif, kolaborasi dan dituntut untuk dapat melakukan berbagai inovasi.
From Asymmetric Coexistence to Inclusive-Relational PAI: Constructing the Meaning of Tolerance in Multicultural Schools Salsabila Yuspia Ali; Muhamad Ihsan Hasanudin; Muhammad Iqbal Fathurahman
AIM: Journal of Islamic Education Management Vol. 3 No. 2 (2025): AIM: Journal Of Islamic Management
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/aim.v3i2.55799

Abstract

This study examines how Muslim and non-Muslim students construct the meaning of tolerance within the learning ecosystem of Islamic Religious Education (Pendidikan Agama Islam, PAI) in a multicultural school. Employing a qualitative narrative-thematic design, the study was conducted at SMAN 1 Banjaran, Bandung Regency. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation involving Muslim students, non-Muslim students, PAI teachers, and guidance and counseling teachers. The findings indicate that tolerance cannot be understood merely as the absence of conflict. Rather, it is a relational experience shaped by language, religious humor, symbols, group work, and majority-minority relations. Interreligious relations among students tend to reflect asymmetric coexistence: students are able to befriend and cooperate with one another, yet their experiences of safety and recognition are not fully equal. This study proposes the concept of Inclusive-Relational PAI, an approach to PAI learning that remains rooted in Islamic teachings while being attentive to language, safe spaces, dialogue, and the experiences of students from different religious backgrounds. The findings highlight the important role of PAI teachers as curators of religious language and facilitators of fair interreligious interaction grounded in inclusive civility. Keywords: Islamic Religious Education; tolerance; multicultural school; asymmetric coexistence; Inclusive-Relational PAI.
Strengthening Mosque-Based Religious Education through Community Development and the Training of Trainers for Facilitator Cadres Marpuah; Hasanudin, Muhamad Ihsan; Yusran Azmi, Naufal; Shafa Zaidan Al Wahyudi, Afifah
Society : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 3 (2026): Mei
Publisher : Edumedia Solution

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55824/yygwa538

Abstract

This community service program aimed to establish an initial governance foundation for mosque-based religious education in Cinarusa Hamlet, Mandalawangi Village, Nagreg District, Bandung Regency. The program was initiated in response to the strong dependence of religious activities on particular individuals, the absence of simple operational tools, and the limited readiness of local cadres to support program sustainability. The activities were implemented through a participatory community development approach combined with training of trainers (ToT) and experiential learning. The preparation stage included initial coordination, field observation, participatory discussions, and informal interviews to identify the needs of the community partners. The core activities were conducted on February 7, 2026, involving 25 participants consisting of DKM members, prospective facilitator cadres, and representatives of the congregation and majelis taklim. The program implementation included restructuring the management system of mosque-based religious education, training facilitator cadres, conducting facilitation simulations, finalizing operational tools, and carrying out joint reflection. The results showed the establishment of an initial coordinating team structure, the development of a three-month activity calendar and a simple SOP for preventing activity cancellation, the implementation of ToT for core cadres, and the preparation of a concise facilitator module and basic administrative tools. Overall, the program produced an initial operational foundation that supports stronger governance, cadre development, and the sustainability of mosque-based religious education in a more structured and participatory manner