Latar Belakang: Perundungan di pesantren merupakan permasalahan serius yang dapat mengganggu kesehatan mental, proses belajar, serta hubungan sosial santri. Fenomena ini kerap muncul karena faktor senioritas, perbedaan fisik, maupun perilaku individu yang dianggap lemah, sehingga memunculkan dominasi yang berujung pada praktik kekerasan verbal, fisik, maupun sosial. Tujuan: Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk perundungan yang terjadi di Pondok Pesantren Al-Mustaqim serta merumuskan strategi pencegahan yang tepat dalam konteks pendidikan pesantren. Metode: Metode yang digunakan adalah Participatory Action Research dengan pendekatan Focus Group Discussion bersama dua puluh orang pengurus dan pengajar pondok pesantren. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa perundungan verbal merupakan bentuk yang paling dominan, berupa ejekan, pemberian julukan merendahkan, dan pemanggilan nama yang tidak pantas, sementara perundungan fisik, psikologis, dan sosial juga ditemukan meskipun dengan frekuensi lebih rendah. Pelaku perundungan umumnya adalah santri senior atau sebaya dengan korban, sedangkan pemicunya antara lain rasa superioritas, perbedaan fisik, dan kurangnya pengawasan asrama. Kesimpulan: dari kegiatan ini adalah perlunya intervensi yang bersifat edukatif, suportif, dan preventif dengan menekankan peran guru sebagai teladan akhlak, penguatan komunikasi antarpihak, serta program rutin yang membangun budaya antiperundungan di lingkungan pesantren.