Dzaky Nabil Al-Hakim
Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

IMPLEMENTASI METODE IBTIDAI UNTUK MENINGKATKAN MAHARAH QIRA’AH PADA KELAS WUSTHO 2 MADRASAH DINIYAH AL MANSHUR POPONGAN KLATEN Muhammad Ilham Burhanudin; Dzaky Nabil Al-Hakim; Pitri Nurmandani; Habib Muhammad Abdush Shomad; Fauzi Annur
Al Ibrah: Journal of Arabic Language Education Vol. 9 No. 1 (2026): Al Ibrah: Journal of Arabic Language Education
Publisher : Universitas Islam Negeri Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24256/jale.v9i1.10464

Abstract

Inappropriate Arabic teaching methods often hinder students’ ability to comprehend kitab kuning (classical Islamic texts). In the Wustho 2 Class at Madrasah Diniyah Al-Manshur Popongan Klaten, students face difficulties in independently understanding religious texts despite possessing basic grammatical knowledge. This study aims to analyze the implementation of the Ibtidai method, along with its supporting and inhibiting factors, in enhancing maharah qira’ah fiqh (reading skills in jurisprudence). The novelty of this research lies in its integrative analysis using E. Mulyasa’s educational taxonomy and Mulyadi’s implementation framework. This study employed a qualitative approach with a case study design. Data were gathered through semi-structured interviews and further validated via non-participant observation and documentary analysis, then analyzed using the Miles and Huberman interactive model. The results indicate that the Ibtidai method effectively facilitates students’ literacy transition by shifting the focus of difficulty from technical-mechanical aspects toward analytical-conceptual skills. The primary constraints identified are the heavy dominance of rote learning and low self-regulated learning among students. Ketidaktepatan metode pembelajaran bahasa Arab sering kali menghambat kemampuan literasi kitab kuning santri. Di Kelas Wustho 2 Madrasah Diniyah Al-Manshur Popongan Klaten, santri mengalami kesulitan memahami teks keagamaan secara mandiri meskipun telah memiliki dasar gramatikal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi metode Ibtidai serta faktor pendukung dan penghambatnya dalam meningkatkan maharah qira’ah fiqh. Kontribusi kebaruan penelitian ini terletak pada pengkajian integratif menggunakan taksonomi pendidikan E. Mulyasa dan perspektif implementasi Mulyadi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan desain studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode Ibtidai efektif memfasilitasi masa transisi literasi santri dengan menggeser fokus kesulitan dari aspek teknis-mekanis menuju kemampuan analitis-konseptual. Kendala utama yang ditemukan adalah tingginya dominasi hafalan murni (rote learning) dan rendahnya kemandirian belajar santri (self-regulated learning).
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA JOGOSETRAN MELALUI EDUKASI GIZI, PENDIDIKAN, DAN LINGKUNGAN Dzaky Nabil Al-Hakim
Masyarakat: Jurnal Pengabdian Vol. 2 No. 4 (2026)
Publisher : Yayasan Pendidikan Dan Pengembangan Harapan Ananda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58740/m-jp.v2i4.521

Abstract

Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) oleh Tim KKN 156 Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta bertujuan mewujudkan perubahan sosial berkelanjutan melalui edukasi gizi seimbang, pembinaan karakter anak, pemberdayaan perempuan, dan pelestarian lingkungan untuk mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) terkait kesehatan, pendidikan, dan lingkungan hidup. Pelaksanaan dilakukan dengan pendekatan partisipatif dan kolaboratif melalui tiga tahapan yaitu observasi masalah melalui wawancara dan pemetaan pada 25–29 Juli 2025, pelaksanaan kegiatan tematik seperti revitalisasi TPQ, Taman Belajar dan Baca, sosialisasi anti-bullying, pencegahan stunting, serta aksi reboisasi pada Juli 2025, dan evaluasi internal melalui diskusi reflektif untuk perbaikan program. Kegiatan berlangsung di Dusun 2, Desa Jogosetran, Kecamatan Kalikotes, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah selama 25 Juli hingga 31 Agustus 2025. Hasil pengabdian meliputi aktivasi TPQ dengan partisipasi 80 anak di tiga masjid, Taman Belajar dan sosialisasi anti-bullying yang diikuti 30 anak dan 60 siswa, program pencegahan stunting dengan 50 ibu-ibu, serta aksi reboisasi di enam RW. Implikasi positif bagi masyarakat mencakup peningkatan literasi agama, pengetahuan gizi, empati sosial, kreativitas ibu-ibu, dan kesadaran ekologis serta memperkuat resiliensi lokal dan solidaritas warga dalam mendukung keberlanjutan program.
Integrasi Tasawuf Akhlaki Al-Ghazālī Dalam Keberlanjutan Lingkungan: Paradigma Spiritual Menghadapi Krisis Ekologi Dzaky Nabil Al-Hakim; Hafizhah Nuri Rahma Mufidah; Hema Ismawati; Fauzi Annur
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 6 No. 1 (2026): Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v6i1.191

Abstract

Abstract This study explores the integration of al-Ghazālī’s Sufi ethics into the framework of environmental sustainability as a spiritual and ethical paradigm addressing contemporary ecological crises. Employing an emic-oriented qualitative analytical library research methodology, the investigation examines al-Ghazālī’s seminal work, Ihya’ Ulūm al-Dīn, alongside secondary sources from accredited journals to understand how maqāmāt such as at-taubat, asy-syukr, az-zuhd, and al-mahabbah constitute an ethical transformation framework connecting spiritual, moral, and behavioral dimensions of human life. Findings indicate that pillars of environmental sustainability, including Planetary Boundaries, Life Cycle Assessment, and Sustainable Development Goals, are mutually complementary with religious agency, with Sufi ethics serving as a value-driven catalyst for ecological practices at individual, communal, and institutional levels. Universal values across faiths, including metanoia in Christianity, karma purification in Hinduism, and moral purification in Buddhism, exhibit intrinsic resonance with al-Ghazālī’s maqāmāt, facilitating interfaith collaboration in environmental stewardship. Content analysis reveals that integrating Sufi ethics promotes sustainable behavioral transformation through inner purification, gratitude, consumption restraint, and universal love, effectively addressing root causes of ecological crises such as anthropocentrism and consumerism. This study proposes an integrative conceptual model bridging spirituality, ethics, and ecology, with practical implications for religious education, governmental policy, and community engagement, emphasizing that environmental sustainability can be realized through a holistic synergy of moral, spiritual, and social dimensions. Abstrak Penelitian ini mengeksplorasi integrasi tasawuf akhlaki al-Ghazālī dalam kerangka keberlanjutan lingkungan sebagai paradigma spiritual dan etis untuk merespons krisis ekologi kontemporer. Menggunakan metodologi studi kepustakaan analitis kualitatif berbasis emic, kajian ini menelaah karya utama al-Ghazālī, Ihya’ Ulūm al-Dīn, serta literatur sekunder dari jurnal terakreditasi untuk memahami bagaimana maqāmāt seperti At-Taubat, Asy-Syukr, Az-Zuhd, dan AlMahabbah membentuk kerangka transformasi etis yang menghubungkan dimensi spiritual, moral, dan perilaku manusia. Hasil analisis menunjukkan bahwa pilar keberlanjutan lingkungan, termasuk Planetary Boundaries, Life Cycle Assessment, dan Sustainable Development Goals, saling melengkapi dengan agensi keagamaan, di mana tasawuf akhlaki berfungsi sebagai sumber nilai yang mendorong praktik ekologis pada tingkat individu, komunitas, dan institusi. Nilai-nilai universal lintas agama, seperti metanoia dalam Kristen, karma purification dalam Hindu, dan moral purification dalam Buddha, menunjukkan resonansi intrinsik dengan maqāmāt al-Ghazālī, membuka peluang kolaborasi interfaith untuk pelestarian lingkungan. Kajian ini mengungkap bahwa integrasi tasawuf akhlaki memfasilitasi perubahan perilaku berkelanjutan melalui penyucian batin, rasa syukur, pengendalian konsumsi, dan cinta universal, yang efektif menghadapi akar krisis ekologi seperti antroposentrisme dan konsumerisme. Temuan ini menawarkan model konseptual integratif antara spiritualitas, etika, dan ekologi, dengan implikasi praktis untuk pendidikan agama, kebijakan pemerintah, dan partisipasi masyarakat, sekaligus menegaskan bahwa keberlanjutan lingkungan dapat diwujudkan melalui sinergi moral, spiritual, dan sosial yang holistik.