Awaliyah Muslimah Suwetty
STIKES Maranatha Kupang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Fragmentasi Layanan dan Determinan Sosial: Analisis Kualitatif Kegagalan Discharge Planning dan Rekomendasi Model Kolaboratif Lintas Sektor (Sehati) Yohana Teodosia Setu; Saverinus Suhardin; Imakulata Bete; Awaliyah Muslimah Suwetty; Moses Filmon Nennogasu; Adhytrio Yohanes Nubatonis
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 7 (2026): Volume 6 Nomor 7 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i7.23910

Abstract

ABSTRACT High readmission rates among Patients with Mental Disorders (ODGJ) are often linked to Discharge Planning (DP) failures. This study aims to deeply explore systemic barriers and the need for community-based solutions to prevent DP from functioning as an effective Transitional Care (TC) mechanism at Naimata Mental Hospital, Kupang. This descriptive phenomenological qualitative research involved 14 key participants (Mental Hospital Health Personnel, Community Health Center Nurses, ODGJ Patients, and Families/Caregivers) through In-depth Interviews. Data were analyzed using thematic methods to identify major barriers in the post-discharge continuum of care. Eight main themes were found, which include: (1) Massive handoff failure, manifested as "Silent Discharge" due to the absence of formal coordination (WA Group) between the Mental Hospital and Community Health Centers (Puskesmas). (2) Medication non-adherence is triggered by Social Determinants of Health (SDH), especially the "Medication vs. Food" dilemma and high transportation costs. (3) Families experience an extreme Caregiver Burden crisis, inducing High Expressed Emotion (EE) due to inadequate Family Psychoeducation (FPE). (4) The analysis justifies the need for the SEHATI Collaborative Model as a bridging mechanism. Service fragmentation, coupled with unaddressed SDH and high Caregiver Burden, drives readmission. The SEHATI Model is recommended to formalize coordination, integrate local initiatives (Gentar Sejiwa), and provide holistic psychoeducation to prevent relapse. Keywords: Discharge Planning, Handoff Failure, Caregiver Burden, Social Determinants of Health, SEHATI Model.  ABSTRAK Angka readmisi yang tinggi pada Pasien Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) sering dikaitkan dengan kegagalan Discharge Planning (DP). Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi secara mendalam hambatan sistemik dan kebutuhan solusi berbasis komunitas yang mencegah DP berfungsi sebagai mekanisme Transitional Care (TC) yang efektif di RS Jiwa Naimata Kupang. Penelitian kualitatif fenomenologi deskriptif ini melibatkan 14 partisipan kunci (Tenaga Kesehatan RSJ, Perawat Puskesmas, Pasien ODGJ, dan Keluarga/Caregiver) melalui In-depth Interview. Data dianalisis menggunakan metode tematik untuk mengidentifikasi hambatan utama dalam kontinum layanan pasca-pulang. Ditemukan delapan tema utama, yang menunjukkan: (1) Kegagalan handoff yang masif, termanifestasi sebagai “Pulang Senyap” (Silent Discharge) karena ketiadaan koordinasi formal (WA Grup) antara RSJ dan Puskesmas. (2) Non-adherence obat dipicu oleh Determinan Sosial Kesehatan (SDH), terutama dilema "Obat vs. Nasi" dan tingginya biaya transportasi. (3) Keluarga mengalami krisis Beban Caregiver yang ekstrem, memicu High Expressed Emotion (EE) akibat kegagalan Family Psychoeducation (FPE). (4) Analisis memvalidasi kebutuhan Model Kolaboratif SEHATI sebagai mekanisme penghubung. Fragmentasi layanan, ditambah SDH yang terabaikan dan Caregiver Burden tinggi, mendorong readmisi. Model SEHATI direkomendasikan untuk memformalkan koordinasi, mengintegrasikan inisiatif lokal (Gentar Sejiwa), dan memberikan psikoedukasi holistik guna mencegah kekambuhan. Kata Kunci: Discharge Planning, Kegagalan Handoff, Beban Caregiver, Determinan Sosial Kesehatan, Model SEHATI.
Herbal Corner untuk Kesehatan Psikososial: Edukasi dan Pemanfaatan Tanaman Herbal dalam Pencegahan Kecemasan dan Insomnia Awaliyah Muslimah Suwetty; Camelia Bakker; Kornelis Nama Beni; Venida Lakapu
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 7 (2026): Volume 9 Nomor 7 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i7.26230

Abstract

ABSTRAK Kecemasan dan insomnia adalah masalah kesehatan psikososial yang umum terjadi dan berdampak negatif terhadap kualitas hidup, produktivitas, dan fungsi sosial. Di Indonesia, jutaan orang mengalami gangguan kecemasan dan gangguan tidur; namun, pengetahuan masyarakat mengenai pendekatan pencegahan dan komplementer masih terbatas. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan tanaman herbal melalui pengembangan Pojok Herbal sebagai upaya pencegahan kecemasan dan insomnia. Kegiatan ini menggunakan pendekatan Pengembangan Masyarakat Berbasis Aset (ABCD), yang menekankan penggunaan sumber daya lokal dan partisipasi aktif masyarakat. Program ini dilaksanakan melalui beberapa tahapan, termasuk persiapan, identifikasi aset masyarakat, pendidikan kesehatan mental, demonstrasi dan praktik pemanfaatan tanaman herbal, pendirian Pojok Herbal, dan evaluasi. Program ini melibatkan anggota masyarakat, pemimpin lokal, kader kesehatan, serta dosen dan mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai kesehatan mental dan manfaat tanaman herbal seperti jahe, serai, mint, dan lavender dalam meningkatkan relaksasi dan kualitas tidur. Pendirian Pojok Herbal juga menyediakan platform pendidikan berkelanjutan untuk pembelajaran dan praktik masyarakat. Program Pojok Herbal merupakan strategi pemberdayaan masyarakat yang efektif untuk meningkatkan kesehatan mental dan mendukung pencegahan kecemasan dan insomnia. Kata Kunci: Pojok Herbal, Promosi Kesehatan Mental, Kecemasan, Insomnia, Pemberdayaan Masyarakat.  ABSTRACT Anxiety and insomnia are prevalent mental health problems that negatively affect quality of life, productivity, and social functioning. In Indonesia, millions of people experience anxiety disorders and sleep disturbances; however, public knowledge regarding preventive and complementary approaches remains limited. This community service program aimed to improve community knowledge and skills in utilizing herbal plants through the development of a Herbal Corner as an effort to prevent anxiety and insomnia. The activity employed the Asset Based Community Development (ABCD) approach, which emphasizes the use of local resources and active community participation. The program was implemented through several stages, including preparation, community asset identification, health education on mental health, demonstration and practice of herbal plant utilization, establishment of the Herbal Corner, and evaluation. The program involved community members, local leaders, health cadres, as well as lecturers and students. The results indicated an increase in community awareness and knowledge regarding mental health and the benefits of herbal plants such as ginger, lemongrass, mint, and lavender in promoting relaxation and improving sleep quality. The establishment of the Herbal Corner also provided a sustainable educational platform for community learning and practice. In conclusion, the Herbal Corner program represents an effective community empowerment strategy to promote mental health and support the prevention of anxiety and insomnia. Keywords: Herbal Corner, Mental Health Promotion, Anxiety, Insomnia, Community Empowerment.