Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Developing an Ethno-Ecotourism Environmental Education Model for Sustainable Coastal Tourism in Aceh Indonesia Dian Aswita; Nafisah Hanim; Cut Ratna Dewi; Nur Aisyah Ainun; Firdaus Daud; Syamsul Rizal
Jurnal Ilmiah Peuradeun Vol. 14 No. 2 (2026): Jurnal Ilmiah Peuradeun
Publisher : SCAD Independent

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26811/peuradeun.v14i2.2561

Abstract

Tourism expansion in environmentally sensitive coastal areas continues to intensify ecological pressures, while conventional environmental education often remains disconnected from indigenous socio-cultural realities. Although customary institutions have long contributed to environmental stewardship, limited research has transformed indigenous governance into a structured educational framework for sustainable tourism. This study aimed to develop and validate an Ethno-ecotourism-based Environmental Education Model that operationalizes Acehnese customary institutions as pedagogical mechanisms for sustainability education. Using a Research and Development (R&D) approach through the Four-D framework and a sequential explanatory mixed-method design, data were collected through interviews and observations involving 15 key informants, expert validation by seven specialists, and practicality testing with 30 tourism practitioners. Qualitative data were analyzed using the interactive model of Huberman and Saldaña, while quantitative data were examined using descriptive statistics. The findings indicated that the model was both valid and practical, with the social system emerging as its strongest component. The study demonstrated that indigenous governance could serve as an educational infrastructure that strengthened environmental responsibility, community-based conservation, and sustainable tourism. By integrating customary law into a validated pedagogical framework, this research contributes to the theory of environmental education and provides a culturally responsive pathway to sustainability in indigenous and coastal communities.
Penguatan Peran Pemerintah Distrik dan Kampung melalui Pendekatan Community Action Plan di Kabupaten Teluk Bintuni Suleman Samuda Sangadji; Dian Aswita; Citra Puspita Tohamba; Andi Asti Handayani; Tuti Supatminingsih
Lebah Vol. 19 No. 3 (2026): January: Pengabdian
Publisher : IHSA Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35335/lebah.v19i3.519

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat peran pemerintah distrik dan kampung dalam mendukung pengembangan ekonomi kawasan berbasis sumber daya alam di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat. Permasalahan utama yang dihadapi adalah tingginya ketergantungan ekonomi terhadap aktivitas industri, keterbatasan kapasitas perencanaan di tingkat lokal, serta lemahnya koordinasi lintas kampung dan distrik dalam merumuskan arah pengembangan ekonomi pasca aktivitas utama industri. Melalui kegiatan ini, tim pelaksana memfasilitasi proses perencanaan partisipatif dengan menggunakan pendekatan Community Action Plan yang menempatkan pemerintah distrik dan kampung sebagai aktor utama dalam mengidentifikasi permasalahan, memetakan potensi dan aset lokal, serta menyusun rencana aksi bersama. Metode pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui analisis situasi awal, diskusi kelompok terarah, lokakarya partisipatif, dan pendampingan dalam perumusan rencana aksi yang bersifat operasional dan kontekstual. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta terhadap tantangan dan peluang pengembangan ekonomi kawasan, terpetakannya potensi lokal secara lebih sistematis, serta tersusunnya rencana aksi komunitas yang disepakati bersama. Dampak positif lainnya terlihat dari mulai menguatnya peran pemerintah distrik dan kampung dalam proses perencanaan ekonomi kawasan. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal penguatan kapasitas perencanaan partisipatif yang berkelanjutan dalam mendukung pembangunan ekonomi kawasan di Kabupaten Teluk Bintuni
Local Capacity Development pada Organisasi Masyarakat Adat melalui Pendampingan YPMS menuju Engaged Society Dian Aswita; Jendri Mamangkey; Adi Pramuda; Ahmad Suryadi; Dewi Febriyanti; Suleman Samuda
Lebah Vol. 19 No. 6 (2026): July: Pengabdian
Publisher : IHSA Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35335/lebah.v19i6.603

Abstract

Kapasitas organisasi masyarakat adat sering kali belum berkembang sejalan dengan mandat sosial yang diemban, sehingga perannya dalam advokasi dan pemberdayaan komunitas menjadi kurang optimal. Artikel ini membahas kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat berupa pendampingan Yayasan Pengembangan Masyarakat Sumuri (YPMS) sebagai upaya pengembangan kapasitas lokal organisasi adat. Permasalahan utama yang dihadapi adalah lemahnya tata kelola kelembagaan, belum jelasnya arah strategis organisasi, serta terbatasnya kemampuan perencanaan program. Kegiatan dilaksanakan selama 7 hari melibatkan 12 orang peserta yang terdiri dari pengurus harian dan perwakilan tiga marga adat melalui pendekatan partisipatif yang mencakup asesmen kebutuhan, pelatihan, diskusi reflektif, dan pendampingan kelembagaan.  Berdasarkan analisis data pre-test dan post-test, rata-rata pemahaman awal peserta sebesar 42,25% meningkat menjadi 70,83% pada akhir program, menandakan adanya perolehan N-Gain sebesar 0,50. Kenaikan kuantitatif ini mengonfirmasi bahwa internalisasi materi pembagian kerja struktural, fungsi koordinasi antar-marga, dan hak-hak konstitusional kelembagaan berhasil diserap secara optimal oleh seluruh perwakilan pengurus dan marga. Hasil kualitatif menunjukkan adanya penguatan fondasi organisasi, tersusunnya kembali visi dan misi yang lebih operasional, meningkatnya kemampuan pengurus dalam menyusun perencanaan berbasis masalah, serta tumbuhnya kesadaran kolektif mengenai peran YPMS sebagai lembaga advokasi dan pemersatu sosial. Meski menghadapi kendala berupa keterbatasan kapasitas awal, sensitivitas sosial, dan durasi pendampingan yang singkat, proses ini menandai perubahan awal menuju organisasi yang lebih adaptif dan partisipatif. Kegiatan ini menegaskan bahwa pengembangan kapasitas berbasis partisipasi merupakan langkah penting dalam memperkuat peran organisasi masyarakat adat dalam pembangunan lokal