Hanita Christiandari
Politeknik Kesehatan Permata Indonesia Yogyakarta

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Peningkatan Literasi Keamanan Kosmetik Remaja melalui Edukasi Interaktif di SMAN 1 Sedayu Idlohatud Dilalah; Jarot Yogi Hernawan; Hanita Christiandari; Edy Suprasetya; Wahyu Kumil Laila
Jurnal Pengabdian Masyarakat Farmasi : Pharmacare Society Vol 5, No 2 (2026)
Publisher : State University of Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/phar.soc.v5i2.38002

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya penggunaan kosmetik di kalangan remaja yang belum diimbangi dengan tingkat literasi keamanan produk yang memadai. Rendahnya pemahaman mengenai kandungan, legalitas, dan potensi risiko kosmetik dapat berdampak pada kesehatan kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas edukasi interaktif dalam meningkatkan pengetahuan remaja terkait pemilihan kosmetik yang aman. Metode yang digunakan berupa penyuluhan berbasis ceramah interaktif dan diskusi, diikuti dengan evaluasi menggunakan kuesioner pasca intervensi. Kegiatan dilaksanakan di SMAN 1 Sedayu Bantul dengan melibatkan 30 responden yang dipilih secara acak. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa 83,3% responden memperoleh skor 100 dan 16,7% memperoleh skor 90, yang mengindikasikan tingkat pemahaman yang sangat baik setelah edukasi. Temuan ini menunjukkan bahwa edukasi interaktif efektif dalam meningkatkan literasi kesehatan remaja terkait keamanan kosmetik. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi model intervensi promotif-preventif dalam meningkatkan kesadaran penggunaan kosmetik yang aman di kalangan remaja.
Peningkatan Literasi Keamanan Kosmetik Remaja melalui Edukasi Interaktif di SMAN 1 Sedayu Idlohatud Dilalah; Jarot Yogi Hernawan; Hanita Christiandari; Edy Suprasetya; Wahyu Kumil Laila
Jurnal Pengabdian Masyarakat Farmasi : Pharmacare Society Vol 5, No 2 (2026)
Publisher : State University of Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/phar.soc.v5i2.38002

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya penggunaan kosmetik di kalangan remaja yang belum diimbangi dengan tingkat literasi keamanan produk yang memadai. Rendahnya pemahaman mengenai kandungan, legalitas, dan potensi risiko kosmetik dapat berdampak pada kesehatan kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas edukasi interaktif dalam meningkatkan pengetahuan remaja terkait pemilihan kosmetik yang aman. Metode yang digunakan berupa penyuluhan berbasis ceramah interaktif dan diskusi, diikuti dengan evaluasi menggunakan kuesioner pasca intervensi. Kegiatan dilaksanakan di SMAN 1 Sedayu Bantul dengan melibatkan 30 responden yang dipilih secara acak. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa 83,3% responden memperoleh skor 100 dan 16,7% memperoleh skor 90, yang mengindikasikan tingkat pemahaman yang sangat baik setelah edukasi. Temuan ini menunjukkan bahwa edukasi interaktif efektif dalam meningkatkan literasi kesehatan remaja terkait keamanan kosmetik. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi model intervensi promotif-preventif dalam meningkatkan kesadaran penggunaan kosmetik yang aman di kalangan remaja.
GAMBARAN PENGGUNAAN OBAT ANTI EPILEPSI PADA PASIEN DEWASA DI INSTALASI FARMASI RAWAT JALAN RUMAH SAKIT “JIH” YOGYAKARTA PERIODE TAHUN 2023 Hanita Christiandari; Meylinda Putri Pamungkas; Jarot Yogi Hernawan
Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna Vol 5 No 1 (2026): Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), Institut Teknologi Dan Kesehatan (ITK) Avicenna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69677/avicenna.v5i1.265

Abstract

Latar belakang: WHO memperkirakan bahwa setiap tahun terdapat sekitar 5 juta individu yang didiagnosis mengalami epilepsi. Di Indonesia, jumlah penderita epilepsi juga tergolong tinggi, yaitu sekitar 8,2 kasus per 1.000 penduduk. Selain itu, laporan WHO menunjukkan bahwa negara-negara berkembang memiliki prevalensi epilepsi tertinggi pada kelompok usia 20 hingga 50 tahun Tujuan: Mengidentifikasi pola penggunaan obat antiepilepsi pada pasien dewasa dengan mempertimbangkan jenis kelamin, klasifikasi obat, tipe kejang, serta bentuk terapi yang diberikan Metode: Penelitian bersifat deskriptif dengan pemanfaatan data historis. Sampel penelitian menggunakan seluruh populasi pasien epilepsy sejumlah 75 pasien. Data dianalisis dengan analisis kuantitatif. Hasil: Penggunaan obat anti epilepsi pada perempuan (52%) adalah Levetiracetam (33%), laki-laki (48%) adalah Fenitoin (42%). Golongan obat yang paling banyak yaitu Hidantoin (33%). Obat untuk kejang umum paling banyak yaitu Fenitoin (35%), kejang fokal dengan Levetiracetam (33%), kejang tidak diketahui dengan Fenitoin (36%). Jenis terapi obat yang adalah monoterapi (65%) dengan Fenitoin dan politerapi sebesar (35%) dengan kombinasi Fenitoin dengan Clonazepam (5%). Simpulan: Penggunaan obat antiepilepsi pada populasi penelitian menunjukkan bahwa Levetiracetam merupakan pilihan yang paling sering digunakan pada pasien perempuan, sedangkan Fenitoin lebih dominan pada pasien laki-laki. Secara keseluruhan, golongan obat yang paling umum diresepkan adalah Hidantoin. Untuk penatalaksanaan kejang, Fenitoin paling banyak digunakan pada tipe kejang umum, sementara Levetiracetam lebih sering dipilih untuk kejang fokal. Selain itu, pola terapi yang paling sering diterapkan adalah monoterapi.
EVALUASI KETEPATAN PENGOBATAN ANTIDIABETES TERHADAP OUTCOME KLINIK PASIEN DIABETES MELITUS TIPE II RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT PURI HUSADA Hanita Christiandari; Siti Ayu Fitria Iswatun; Ratih Purwanti; Edy Suprasetya
Jurnal Farmasi (Journal of Pharmacy) Vol. 15 No. 1 (2026): Jurnal Farmasi (Journal of Pharmacy), April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nasional & Pengurus Cabang Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Sukoharjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.373013/3d62mm36

Abstract

Diabetes melitus (DM) merupakan gangguan metabolik kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah akibat kelainan pada sekresi insulin, resistensi insulin, atau kombinasi keduanya. Keberhasilan pengelolaan penyakit ini sangat bergantung pada penggunaan terapi farmakologis yang rasional disertai pemantauan terapi secara berkala. Penilaian efektivitas pengobatan dilakukan melalui beberapa indikator klinis, antara lain kadar glukosa darah puasa (GDP), glukosa darah sewaktu (GDS), glukosa darah dua jam postprandial (GD2PP), serta hemoglobin terglikasi (HbA1c). Penelitian ini bertujuan untuk menilai ketepatan pemilihan obat antidiabetes dan menganalisis hubungannya dengan pencapaian outcome klinik pada pasien DM tipe II rawat jalan di RS Puri Husada selama periode Maret–Mei 2024. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan secara retrospektif dari rekam medis pasien. Sebanyak 191 sampel dipilih melalui teknik purposive sampling. Evaluasi ketepatan terapi meliputi aspek kesesuaian diagnosis, indikasi, karakteristik pasien, serta dosis. Outcome klinik ditentukan berdasarkan keberhasilan mencapai target kontrol glikemik. Analisis statistik hubungan antarvariabel dilakukan menggunakan uji chi-square. Karakteristik responden menunjukkan mayoritas berjenis kelamin perempuan (63,35%), berada pada rentang usia 41–60 tahun (52,35%), serta memiliki berat badan 71–100 kg (53,40%). Ketepatan pada aspek diagnosis, indikasi, dan pasien mencapai 100%, sedangkan ketepatan dosis dan pemilihan obat masing-masing sebesar 97,90%. Target outcome klinik berhasil dicapai oleh 76,97% pasien. Uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara ketepatan pemilihan obat dengan pencapaian outcome klinik (p=0,003; OR=0,214). Kesesuaian pemilihan terapi antidiabetes berpengaruh signifikan terhadap keberhasilan pengendalian glikemik. Oleh karena itu, penerapan prinsip penggunaan obat yang rasional menjadi faktor penting dalam meningkatkan efektivitas terapi pada pasien DM tipe II.