Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Tantangan Teknis dalam Peningkatan Skala Produksi dan Standardisasi Terapi Bebas Sel Berbasis Sekretom: Sebuah Tinjauan Pustaka Akbar Kurniawan; Tjandra Yoga Aditama; Kamal Anas; Restu Syamsul Hadi
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 2 (2026): Maret - Juni
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i2.9466

Abstract

Perkembangan kedokteran regeneratif pada saat ini telah meningkatkan minat terhadap terapi bebas sel berbasis sekretom sebagai alternatif menjanjikan untuk terapi sel punca konvensional. Sekretom mengandung berbagai molekul bioaktif, termasuk faktor pertumbuhan, sitokin, vesikel ekstraseluler (EV), dan eksosom, yang berkontribusi pada regenerasi jaringan, angiogenesis, imunomodulasi, dan regulasi inflamasi. Terlepas dari potensi terapeutiknya, translasi klinis dari terapi sekretom masih terbatas oleh beberapa tantangan teknis, khususnya dalam produksi skala besar dan standardisasi produk. Tinjauan pustaka ini bertujuan untuk mengidentifikasi tantangan utama dalam peningkatan skala produksi dan standardisasi terapi bebas sel berbasis sekretom serta mengevaluasi strategi optimasi saat ini yang mendukung aplikasi klinis dan industri. Literatur dikumpulkan dari PubMed, Scopus, ScienceDirect, SpringerLink, dan Google Scholar menggunakan pendekatan tinjauan naratif. Hasil tinjauan pada penelitian ini menunjukkan bahwa variabilitas donor, perbedaan sumber sel, kondisi kultur, sistem bioreaktor, teknik isolasi, dan metode kontrol kualitas secara signifikan memengaruhi konsistensi dan aktivitas biologis sekretom. Teknologi bioproses tingkat lanjut yakni, termasuk sistem kultur 3D, media bebas serum, bioreaktor, dan produksi berbasis Good Manufacturing Practice (GMP)/Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB), menunjukkan potensi untuk meningkatkan stabilitas dan reproduksibilitas produk. Protokol manufaktur yang terstandardisasi dan kontrol kualitas yang ketat sangat penting untuk mendukung translasi klinis masa depan dari terapi berbasis sekretom ini
Kejadian Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) pada Personil TNI AU Depo Pemeliharaan 10 Lanud Husein Sastranegara Bandung Berdasarkan Kuesioner Puma dan Tinjauannya Menurut Pandangan Islam Rania Siti Hanifah; Tjandra Yoga Aditama; Muhammad Fazlurrahman; Qomariyah Sachrowardi
Junior Medical Journal Vol. 3 No. 5 (2025): September 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/jmj.v3i5.4705

Abstract

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan salah satu penyebab utama kematian di dunia, dengan angka kematian global mencapai sekitar 3 juta jiwa pada tahun 2019. Di Indonesia, prevalensi PPOK mencapai 3,7%, setara dengan sekitar 9,2 juta jiwa menurut Riset Kesehatan Dasar 2013. Merokok menjadi faktor risiko utama dalam pengembangan PPOK, di mana perokok menunjukkan prevalensi gejala pernapasan yang lebih tinggi dibandingkan non-perokok. Namun, kurang dari 50% perokok berat mengalami PPOK, menunjukkan bahwa faktor risiko lain, seperti paparan asap rokok pasif, juga berperan. Dengan prevalensi merokok di Indonesia yang mencapai 33,8%, kondisi ini memperburuk angka kejadian PPOK. Menariknya, sekitar 60-85% penderita PPOK tidak menyadari penyakit yang diderita, termasuk di Indonesia, di mana banyak pasien tidak melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Hasil menunjukkan bahwa didapatkan 82.1% tidak risiko PPOK dan 17.9% risiko PPOK. Oleh karena itu, diagnosis dini dan penanganan yang tepat sangat penting. Penelitian ini bertujuan untuk memahami kejadian PPOK di kalangan personil TNI AU Depo Pemeliharaan 10 Lanud Husein Sastranegara Bandung berdasarkan Kuesioner PUMA, yang baru dikembangkan untuk mendeteksi risiko PPOK dengan hasil lebih baik dibandingkan alat sebelumnya.