Atiqoh Hanum
Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, STIT Al-Washliyah Binjai

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PERAN INTERAKSI MATA DALAM PEMBENTUKAN KONEKSI SARAF SOSIAL ANAK USIA 4-6 TAHUN Astini Rambe; Dara Faurina; Sumiati Br Angkat; Atiqoh Hanum; Kholis Thohir
Jurnal Embun Fitrah Pendidikan Islam Anak Usia Dini Vol. 2 No. 1 (2026): Edisi Januari-Juni 2026
Publisher : STIT al-Washliyah Binjai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Interaksi mata (eye contact) merupakan bentuk komunikasi nonverbal yang krusial dalam perkembangan sosial anak usia dini. Periode usia 4–6 tahun dikenal sebagai masa kritis perkembangan saraf sosial, di mana sistem saraf otak yang berperan dalam mengenali ekspresi wajah, membaca emosi, dan menjalin hubungan sosial mengalami pertumbuhan pesat. Studi literatur ini bertujuan menelaah peran interaksi mata dalam pembentukan koneksi saraf sosial anak pada rentang usia tersebut. Berdasarkan analisis terhadap 25 artikel ilmiah (2015–2024), ditemukan bahwa interaksi mata yang konsisten berkontribusi pada aktivasi area sosial otak seperti amigdala, korteks prefrontal medial, dan sulkus temporal superior. Aktivitas seperti bermain peran, mendongeng, dan penggunaan boneka jari terbukti meningkatkan frekuensi eye contact serta mendukung perkembangan empati dan regulasi emosi. Sebaliknya, paparan berlebihan terhadap gadget terbukti menurunkan kualitas eye contact dan berisiko menghambat pembentukan saraf sosial. Hasil ini menegaskan pentingnya stimulasi sosial yang berkualitas dalam pendidikan anak usia dini, khususnya melalui aktivitas yang mendorong kontak mata alami.
PENGARUH MAKANAN SIAP SAJI TERHADAP PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK USIA DINI Sindi Mutia Sari; Sri Novisanti; Halimatun Saddiah; Atiqoh Hanum; Mardiah
Jurnal Embun Fitrah Pendidikan Islam Anak Usia Dini Vol. 2 No. 1 (2026): Edisi Januari-Juni 2026
Publisher : STIT al-Washliyah Binjai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konsumsi makanan siap saji telah merubah kebiasaan pola makan masyarakat secara intens untuk memenuhi kebutuhan pangan setiap hari dan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Makanan siap saji tidak hanya dikonsumsi bagi orang dewasa tapi juga anak-anak. Makanan siap saji seperti nugget, sosis, burger, mie instan, dan sejenisnya lebih disukai anak-anak namun terdapat banyak kandungan zat aditif (perasa dan pengawet) yang akan merusak tubuh anakdan kognitif anak. Mengingat semakin banyaknya variasi dan kandungan bahan dalam makanan siap saji tentu akan memberikan dampak buruk terutama kesehatan anak dan menyebabkan penyakit berbahaya kemudian hari. Penelitian saat ini dilakukan untuk menganalisis Pengaruh Makanan Siap Saji Terhadap Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini. Analisis data dilakukan melalui studi literature yang diambil dari 25 jurnal terdahulu. Hasil analisis temuan penelitian menunjukkan bahwa makanan siap saji yang dikonsumsi secara intens dan berlebihan akan berpengaruh buruk pada pertumbuhan, kognitif, dan perkembangan serta kesehatan lainnya anak. Anak-anak akan mengalami pengaruh yaitu dapat memicu penyakit jangka pendek dan Panjang.
IMPLEMENTASI NEUROSAINS DALAM PERKEMBANGAN BAHASA ANAK USIA DINI Huzaimah Azlah Lubis; Sherly Apriliana; Tiara Nadila; Atiqoh Hanum; Masithah Ulfah
Jurnal Embun Fitrah Pendidikan Islam Anak Usia Dini Vol. 2 No. 1 (2026): Edisi Januari-Juni 2026
Publisher : STIT al-Washliyah Binjai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemahaman neurosains menjadi kunci penting dalam pendidikan anak usia dini, khususnya dalam mendukung perkembangan bahasa dan kognitif. Tujuan kajian ini adalah menelaah peran neurosains dalam pembelajaran PAUD dan bagaimana guru dapat menerapkannya secara efektif. Metode yang digunakan berupa studi literatur dari berbagai jurnal terkini. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa strategi pembelajaran yang selaras dengan cara kerja otak anak, seperti bercerita, bernyanyi, bermain kata, dan penggunaan media interaktif, mampu merangsang perkembangan bahasa secara optimal. Dukungan lingkungan, keterlibatan orang tua, serta pemanfaatan teknologi seperti robot pembelajaran juga berperan besar. Diperlukan pelatihan dan dukungan sumber daya agar guru mampu mengaplikasikan prinsip neurosains secara maksimal dalam kegiatan belajar mengajar.