Abstrak Diabetes melitus tercatat sebagai salah satu dari lima besar penyakit terbanyak di wilayah kerja Puskesmas Kelir, Desa Pesucen, Banyuwangi, dengan total 126 kasus selama lima tahun terakhir. Edukasi kesehatan yang ada cenderung teoritis dan kurang aplikatif, serta masih ditemukan miskonsepsi terkait pola konsumsi di masyarakat. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan peserta posyandu mengenai pencegahan diabetes melitus melalui penguatan pemahaman kontekstual sebagai upaya pengendalian faktor risikonya. Sasaran kegiatan adalah 61 ibu peserta posyandu ILP di Dusun Krajan, Bangunrejo, dan Padangbaru, Desa Pesucen. Metode pelaksanaan meliputi ceramah dan tanya jawab dengan pendekatan komunikatif berbasis partisipasi aktif, menggunakan media lembar balik dan leaflet berbasis contoh konkret makanan dan minuman, disertai penjelasan batas konsumsi gula, garam, dan lemak serta klarifikasi miskonsepsi. Kegiatan dilaksanakan pada Januari 2026 dengan evaluasi menggunakan desain one group pre-test dan post-test dengan uji normalitas Shapiro-Wilk dan paired samples t-test. Hasil menunjukkan peningkatan pengetahuan yang signifikan pada seluruh dusun pada taraf kepercayaan 95% (p < 0,001), dengan rerata kenaikan skor di Dusun Krajan (16,82), Bangunrejo (21,67), dan Padangbaru (16,67). Capaian ini membuktikan bahwa pendekatan edukasi kontekstual berbasis contoh nyata dan klarifikasi miskonsepsi efektif meningkatkan pemahaman peserta terkait pencegahan diabetes melitus. Kata kunci: diabetes melitus; miskonsepsi; pola konsumsi; posyandu; promosi kesehatan. Abstract Diabetes mellitus ranks among the top five most common diseases in the service area of the Kelir Community Health Center (Puskesmas) in Pesucen Village, Banyuwangi, with a total of 126 cases over the past five years. Existing health education tends to be theoretical and lacks practical application, and misconceptions regarding dietary habits still persist within the community. This activity aims to enhance the knowledge of Posyandu participants regarding diabetes prevention by strengthening contextual understanding as a means of managing risk factors. The target group consists of 61 mothers participating in the ILP Posyandu program in Krajan, Bangunrejo, and Padangbaru hamlets, Pesucen Village. Implementation methods included lectures and question-and-answer sessions using a communicative approach based on active participation, utilizing flip charts and leaflets featuring concrete examples of foods and beverages, accompanied by explanations of consumption limits for sugar, salt, and fat, as well as clarification of misconceptions. The activity was conducted in January 2026, with evaluation using a one-group pre-test and post-test design, employing the Shapiro-Wilk normality test and a paired samples t-test. The results showed a significant increase in knowledge across all hamlets at a 95% confidence level (p < 0.001), with average score increases in Krajan Hamlet (16.82), Bangunrejo (21.67), and Padangbaru (16.67). These findings demonstrate that a contextual educational approach based on real-life examples and the clarification of misconceptions effectively enhances participants’ understanding of diabetes prevention. Keywords: community health posts; diabetes mellitus; dietary patterns; health promotion; misconceptions.