Anna Mariani Kartasamita
Universitas Binawan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Burnout, Work-Life Balance, and Employee ProductivityIn a Hybrid Work Environment: A Qualitative Study in Indonesia Ratnasartika Aprilyani; Sri Ratnawati; Anna Mariani Kartasamita
CAKRAWALA : Management Science Journal Vol. 3 No. 1 (2026): Cakrawala Management Science Journal - Mei
Publisher : Yayasan Edukasi Cakrawala Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63541/tw5exh58

Abstract

The rapidly expanding hybrid work environment post-COVID-19 pandemic presents complex challenges for human resource management, particularly regarding burnout, work-life balance, and employee productivity. This study aims to thoroughly analyze how burnout and work-life boundary ambiguity affect employee productivity within Indonesia's hybrid work system. Employing a qualitative phenomenological approach through in-depth interviews, focus group discussions (FGD), and observation with 12 cross-sector informants, this research identifies four primary themes: (1) multidimensional burnout manifesting differently in hybrid contexts compared to traditional offices; (2) endemic work-life boundary ambiguity in hybrid arrangements; (3) contextual and non-linear productivity; and (4) the critical role of managerial support as a moderator. This study's novelty lies in conceptualizing the Hybrid Burnout Paradox, wherein hybrid work flexibility simultaneously reduces and exacerbates burnout depending on employees' psychological boundary quality. These findings challenge assumptions that hybrid flexibility inherently improves well-being, offering a new analytical framework relevant to HR practitioners and Indonesian employment policymakers. Practical implications include recommendations for hybrid policy development centered on structured autonomy, psychological boundary management training, and adaptive managerial role design.
PERAN EMPATI SOSIAL DALAM MENGURANGI PERILAKU AGRESIF DI RUANG DIGITAL Anna Mariani Kartasamita; Rio Nardo
KENDALI: Economics and Social Humanities Vol. 4 No. 3 (2026): KENDALI: Economics and Social Sciences Humanities, Maret 2026
Publisher : ASIAN PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58738/kendali.v4i3.1274

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan terhadap pola interaksi sosial masyarakat, namun juga menimbulkan peningkatan perilaku agresif di ruang digital seperti cyberbullying, flaming, dan ujaran kebencian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran empati sosial dalam menurunkan perilaku agresif di ruang digital melalui pendekatan Systematic Literature Review (SLR) berdasarkan pedoman PRISMA. Data diperoleh secara purposif dari 13 artikel penelitian nasional dan internasional yang terbit pada periode 2020–2025 dengan kata kunci “social empathy”, “digital empathy”, dan “cyber aggression”. Hasil analisis menunjukkan bahwa empati sosial berperan sebagai mekanisme psikososial multidimensi yang melibatkan aspek kognitif, afektif, moral, dan sosial budaya. Secara kognitif-afektif, empati membantu individu memahami serta merasakan kondisi emosional orang lain, sehingga menurunkan kecenderungan perilaku agresif. Secara moral, empati sosial berfungsi menghambat Moral Disengagement yang memungkinkan pembenaran terhadap perilaku menyakiti. Sementara secara sosial budaya, empati diperkuat oleh nilai gotong royong, spiritualitas, dan dukungan keluarga yang mendorong perilaku prososial di dunia maya. Integrasi teori Empathy (Davis, 2018), Moral Disengagement (Bandura dalam Chen & Chen, 2025), dan Social Information Processing (Talalu et al., 2022) menunjukkan bahwa empati sosial berfungsi sebagai pengendali moral dan sosial dalam interaksi digital. Dengan demikian, empati sosial menjadi fondasi penting dalam membangun budaya digital yang etis, beradab, dan berlandaskan nilai kemanusiaan.