Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Strategi Administrasi Kesehatan dalam Meningkatkan Ketahanan Komunitas melalui Inovasi Teknologi dan Pemberdayaan untuk Keberlanjutan Layanan Kesehatan Munandar; Nurfida; Monaris Daralina; Siti Nurafifah Qarimah
Seumike : Society Progress Journal Vol. 1 No. 2 (2025): SEUMIKE
Publisher : Bansigom Na Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64826/seumike.v1i2.0060

Abstract

Ketahanan komunitas menjadi indikator penting keberlanjutan sistem kesehatan nasional, namun tantangan seperti literasi digital rendah, keterbatasan akses teknologi, dan lemahnya integrasi administrasi kesehatan masih menghambat pencapaian layanan yang inklusif. Penelitian ini bertujuan mengkaji strategi administrasi kesehatan dalam meningkatkan ketahanan komunitas melalui penerapan inovasi teknologi dan pemberdayaan masyarakat untuk mendukung keberlanjutan layanan kesehatan. Pendekatan kualitatif deskriptif berbasis Participatory Action Research (PAR) diterapkan dalam kegiatan kolaboratif antara KABA Academic Society (Indonesia) dan KRIRK University (Thailand), yang dilaksanakan secara hybrid di Bangkok pada 30 Juni–2 Juli 2025. Program mencakup empat tahap: identifikasi kebutuhan, pengembangan teknologi tepat guna (komposter rumah tangga, digitalisasi pemasaran UMKM), pelatihan literasi digital, dan evaluasi dampak sosial-lingkungan. Hasil menunjukkan peningkatan keterampilan manajemen lingkungan, adopsi teknologi digital, serta partisipasi komunitas hingga 75% dengan penurunan limbah organik ±30%. Temuan ini menegaskan bahwa strategi administrasi yang mengintegrasikan inovasi teknologi dan pemberdayaan komunitas mampu memperkuat kapasitas lokal dan keberlanjutan layanan kesehatan, sekaligus menjadi model kolaborasi internasional yang efektif.
Pengalaman Hidup Penyintas Covid-19 yang Melakukan Vaksinasi di Kota Banda Aceh: Studi Fenomenologi Reca Melati Phonna; Muhammad Reza Rizki; Monaris Daralina; Nabella Nabella
Journal of Language and Health Vol. 6 No. 3 (2025): Journal of Language and Health: September 2025
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v6i3.442

Abstract

Pengalaman adalah sebagai hasil dari proses yang pernah dijalani, dialami, atau dirasakan seseorang, baik di masa lalu maupun baru saja terjadi. Bagi penyintas COVID-19, vaksinasi merupakan langkah pencegahan penting untuk meningkatkan kekebalan tubuh. Meskipun vaksinasi dinilai relatif aman, tetap terdapat kemungkinan munculnya Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) dengan tingkat keparahan yang bervariasi, mulai dari ringan hingga berat. KIPI umumnya muncul sebagai respons tubuh terhadap vaksin, seperti reaksi lokal (nyeri, kemerahan, dan pembengkakan di area suntikan) maupun reaksi sistemik (demam, nyeri otot, atau sakit kepala). Partisipan dipilih dengan metode purposive sampling hingga mencapai saturasi data, dengan jumlah delapan orang yang memenuhi kriteria penelitian. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Hasil analisis mengidentifikasi dua tema utama. Pertama, respons fisiologis pasca vaksinasi yang meliputi: (1) reaksi lokal seperti nyeri, kemerahan, dan bengkak pada lokasi suntikan, (2) reaksi sistemik seperti demam, nyeri otot, nyeri sendi, tubuh lemas, dan sakit kepala, serta (3) reaksi lain di luar kategori tersebut. Kedua, respons psikologis pasca vaksinasi yang mencakup: (1) gejala stres akut seperti peningkatan denyut jantung, napas cepat, mulut kering, keringat berlebih, dan kesemutan, (2) respons nasovagal seperti penurunan denyut jantung, gangguan penglihatan, dan sinkop, serta (3) gejala disosiatif neurologis berupa kelemahan otot. Temuan penelitian ini memperlihatkan bahwa penyintas COVID-19 dapat mengalami reaksi yang beragam, baik dari aspek fisiologis maupun psikologis, setelah menerima vaksin. Kesimpulannya, pengalaman penyintas COVID-19 pasca vaksinasi mencerminkan adanya kombinasi respon tubuh dan kondisi mental yang berbeda-beda pada setiap individu.