Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Evaluasi Kinerja Sistem PLTS 100 Wp dan 200 Wp Dalam Memenuhi Kebutuhan Energi Beban Skala Kecil Irfan Nofri; Abdul Aziz; Rafsanzani Pane; Sawirman; Sudirman Lubis; Iqbal Tanjung; Muharnif M; Muhammad Husin Gultom
Jurnal MESIL (Mesin Elektro Sipil) Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal MESIL (Mesin Elektro Sipil)
Publisher : Cered Indonesia Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53695/jm.v7i1.1589

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan kinerja panel surya 100 Wp dan 200 Wp berdasarkan daya keluaran dan kemampuan pengisian baterai pada sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) skala kecil. Metode yang digunakan adalah eksperimen lapangan dengan melakukan pengukuran intensitas cahaya matahari, tegangan, dan arus selama 7 hari berturut-turut dengan interval satu jam. Data yang diperoleh digunakan untuk menghitung daya keluaran serta mengevaluasi performa sistem dalam kondisi operasional nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa panel surya 200 Wp menghasilkan daya maksimum sebesar 120 W, sedangkan panel 100 Wp hanya sebesar 52 W. Selain itu, panel 200 Wp mampu mengisi baterai hingga 68% per hari, sedangkan panel 100 Wp hanya mencapai 36%. Kemampuan suplai energi juga menunjukkan bahwa panel 200 Wp mampu memenuhi kebutuhan beban lebih dari 24 jam, sedangkan panel 100 Wp hanya sekitar 12 jam. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa panel surya 200 Wp memiliki kinerja yang lebih efektif dan efisien dibandingkan panel 100 Wp dalam memenuhi kebutuhan energi pada sistem PLTS skala kecil.
Analisis Pengisian Baterai dan Durasi Suplai Energi pada Sistem PLTS Berbasis Beban Terbatas Fahrul Roji; Irfan Nofri; Rafsanzani Pane; Sawirman; Irwansyah Putra; Aminah Asmara Dewi
Jurnal MESIL (Mesin Elektro Sipil) Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal MESIL (Mesin Elektro Sipil)
Publisher : Cered Indonesia Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53695/jm.v7i1.1590

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengisian baterai dan durasi suplai energi pada sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berbasis beban terbatas. Metode yang digunakan adalah eksperimen lapangan dengan melakukan pengukuran tegangan, arus, dan daya keluaran panel surya selama 7 hari berturut-turut dengan interval satu jam. Data yang diperoleh digunakan untuk menghitung energi yang dihasilkan, energi yang tersimpan dalam baterai, serta durasi suplai energi terhadap beban. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem d nengan panel surya 200 Wp memiliki kemampuan pengisian baterai yang lebih tinggi dibandingkan panel 100 Wp, dengan persentase pengisian mencapai sekitar 68%, sedangkan panel 100 Wp hanya sekitar 36%. Energi yang tersimpan pada sistem 200 Wp mencapai 818 Wh, lebih besar dibandingkan sistem 100 Wp sebesar 432 Wh. Hal ini berdampak pada durasi suplai energi, di mana sistem 200 Wp mampu menyuplai energi hingga lebih dari 24 jam, sedangkan sistem 100 Wp hanya sekitar 12 jam. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa kapasitas panel surya berpengaruh signifikan terhadap jumlah energi yang tersimpan dalam baterai dan durasi suplai energi, sehingga sistem dengan kapasitas lebih besar lebih efektif dalam memenuhi kebutuhan energi pada kondisi beban terbatas.
ANALISIS PENGARUH JUMLAH SUDU TURBIN TERHADAP KELUARAN DAYA LISTRIK PADA PEMBANGKIT LISTRIK PIKO HIDRO sawirman; irfan nofri
Journal of Telecommunication and Electrical Scientific Vol. 2 No. 02 (2025): Journal of Telecommunication and Electrical Scientific (JTElS)
Publisher : Universitas Harapan Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24010/jtels.v2i02.1269

Abstract

Turbin air merupakan suatu peralatan konversi energi fluida kerja air dan salah satu jenis turbin air diantaranya adalah turbin pelton. Turbin pelton adalah jenis turbin air yang digunakan pada tinggi jatuh air yang besar dikarenakan jenis turbin ini menggunakan nosel hingga menghasilkan energi listrik yang besar pula. Dalam mencapai performa kinerja dari turbin pelton, sudu mempunyai peranan penting dikarenakan pemanfaatan energi air yang di tembakkan Nosel ke titik lingkaran tusuk ini dilakukan dua kali, yang pertama energi pancaran air pada sudu-sudu pada saat air mulai masuk, dan yang kedua adalah daya dorong air pada sudu-sudu saat air akan meninggalkan runner. Adapun yang menjadi tujuan umumnya untuk mengetahui pengaruh jumlah sudu terhadap unjuk kerja Turbin Pelton. Adapun tujuan khususnya (1) Mendapatkan nilai torsi yang terjadi pada poros. (2) Menghitung daya yang dihasilkan kerja Turbin. (3) Menganalisa nilai efisiensi dari kerjaTurbin. Metode yang digunakan untuk menghitung daya turbin adalah dengan cara membaca pergerakan pertambahan beban yang terjadi setelah turbin berputar. Sebelum turbin berputar beban dihitung dulu berat awalnya. kemudian setalah turbin berputar catat pertambahan berat beban. Dan lakukan pengamatan kecepatan putar turbin saat poros berputar. Pada hasil pengujian optimal pada jumlah 20 Bucket dengan putaran = 583,1 Rpm, Daya = 55,53 Watt , Torsi = 13,53 Nm dan Efisiensi = 1,43 %.
Optimasi Kapasitas PLTS Berdasarkan Ketersediaan Lahan Rooftop Menggunakan Helioscope Nofri, Irfan; Rohana, Rohana; Lubis, Sudirman; Nasution, Sawirman
SURYA TEKNIKA Vol 13 No 1 (2026): JURNAL SURYA TEKNIKA
Publisher : Fakultas Teknik UMRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37859/jst.v13i1.11472

Abstract

The increasing demand for electrical energy in buildings requires the utilization of renewable energy as an alternative power source. One of the applicable solutions is the implementation of rooftop photovoltaic (PV) systems. This study aims to optimize the rooftop PV system capacity based on the available installation area at the BKD Building of Tebing Tinggi City using Helioscope software. The research method was carried out through building electrical load data collection, electrical energy requirement analysis, PV system capacity calculation, installation area requirement analysis, rooftop simulation using Helioscope software, and simple economic analysis. The results showed that the total electrical energy demand of the building was 304,212 Wh/day, with motor loads dominating energy consumption by 91% of the total electrical usage. The required PV system capacity to supply the entire building load was 82.393 kWp with a required installation area of 552.08 m². Based on the Helioscope simulation results, the available effective rooftop area was only 346.8 m², indicating that the PV system for supplying the entire building load was not feasible to implement. The optimization results showed that the most optimal PV configuration was supplying electronic and lighting loads with a capacity of 7,777.15 Wp using 79 solar modules and requiring an installation area of 52.93 m². The economic analysis indicated that the proposed PV system has a simple payback period of approximately 11 years, demonstrating its feasibility for long-term implementation in government buildings. This study demonstrates that rooftop validation using Helioscope software is essential to produce a realistic rooftop PV design that matches actual building conditions.
Comparative evaluation of post-weld heat treatment (PWHT) temperature effects on GMAW-welded SS400 and AISI 1045 Steels Rafsanzani Pane; Sudirman Lubis; Benny Oktrialdi; Sawirman Sawirman; Irfan Nofri
Jurnal Polimesin Vol 24, No 4 (2026): August
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jpl.v24i4.8885

Abstract

Post-weld heat treatment (PWHT) can modify the microstructure and mechanical properties of welded steels through recovery, recrystallization, and grain growth. This study investigated the effect of PWHT temperature on the mechanical properties and microstructure of SS400 and AISI 1045 steels welded using the gas metal arc welding (GMAW) process. The welded joints were prepared using a single-V groove configuration with a constant welding current of 130 A, ER70S-6 filler metal, and CO₂ shielding gas. After welding, SS400 specimens were subjected to PWHT at 400, 500, and 600 °C, while AISI 1045 specimens were treated at 600, 700, and 800 °C, followed by furnace cooling. Vickers hardness was measured across the base metal, heat-affected zone, and weld metal, while tensile testing was performed on AISI 1045 and SS400 specimens in accordance with ASTM standards. Microstructures were examined using optical microscopy. For SS400, PWHT at 500 °C produced the most favorable hardness response and a more homogeneous ferrite–pearlite microstructure, whereas treatment at 600 °C reduced hardness, consistent with grain coarsening. For AISI 1045, tensile strength decreased with increasing PWHT temperature, while hardness showed an increasing tendency. The highest tensile strength was obtained at 600 °C, whereas higher temperatures promoted microstructural coarsening. These results indicate that PWHT temperature strongly influences the mechanical and microstructural response of GMAW-welded steels and should be selected according to the material and required mechanical properties.