Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Strategi Persuasif dalam Iklan TikTok Skintific: Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough Warda Maulidya; Iis Dahlia; Aisah Juli Yanti; Ria Kasanova
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 2 (2026): April - Juni
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i2.723

Abstract

Penelitian ini mengkaji strategi persuasif dalam iklan TikTok Skintific melalui pendekatan Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada meningkatnya penggunaan media sosial sebagai ruang utama pemasaran digital, khususnya dalam industri kecantikan yang turut membentuk konstruksi sosial mengenai standar kecantikan perempuan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana bahasa, visual, dan praktik sosial dalam iklan TikTok Skintific membangun wacana kecantikan digital yang bersifat persuasif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan sumber data berupa satu video iklan resmi Skintific di TikTok yang memiliki jumlah penayangan tinggi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, dokumentasi, dan transkripsi data, sedangkan analisis data menggunakan tiga dimensi Analisis Wacana Kritis Fairclough, yaitu analisis teks, praktik diskursif, dan praktik sosial budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iklan Skintific menggunakan bahasa hiperbolis, klaim ilmiah, dan hibriditas bahasa untuk membangun daya tarik emosional dan rasional secara bersamaan. Selain itu, algoritma TikTok dan budaya partisipatif audiens memperkuat penyebaran dan reproduksi pesan iklan secara luas. Pada tingkat sosial budaya, iklan ini mereproduksi standar kecantikan hegemonik yang menempatkan kulit glowing dan flawless sebagai ideal tubuh perempuan modern. Kesimpulannya, iklan TikTok Skintific tidak hanya berfungsi sebagai media promosi produk, tetapi juga sebagai praktik wacana yang berperan dalam membentuk persepsi masyarakat terhadap kecantikan, tubuh, dan identitas perempuan dalam era digital.
Dekonstruksi Oposisi Biner Dalam Kumpulan Cerpen Hantu Ulang Alik Karya Ratri Ninditya Iis Dahlia; Sri Wahyuni; Milani Putri; Halilatur Rohemah; Putri Masitoh Amin; Anisa Fajriana Oktasari
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 2 (2026): Maret - Juni
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i2.10656

Abstract

Oposisi biner dalam karya sastra sering membentuk hierarki makna yang menempatkan satu unsur sebagai pusat dan unsur lainnya sebagai pihak yang dimarginalkan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk oposisi biner serta mengungkap proses pembongkaran dan pembalikan hierarki makna dalam cerpen Anarkocheng dan Film Sadis yang terdapat dalam kumpulan cerpen Hantu Ulang Alik karya Ratri Ninditya berdasarkan perspektif dekonstruksi Jacques Derrida. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis teks. Sumber data berupa kata, frasa, kalimat, dialog, dan narasi yang mengandung representasi oposisi biner, sedangkan pengumpulan data dilakukan melalui teknik baca dan catat. Analisis data meliputi identifikasi oposisi biner, pembongkaran hierarki makna, serta interpretasi makna baru yang muncul melalui pembacaan dekonstruktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua cerpen menghadirkan berbagai oposisi biner, seperti normal–tidak normal, religius–menyimpang, laki-laki–perempuan, mayoritas–minoritas, tertib–anarkis, waras–gila, fakta–konspirasi, sehat–sakit, rasional–irasional, serta dominan–marginal. Oposisi-oposisi tersebut tidak bersifat tetap karena mengalami pembalikan posisi sehingga unsur yang semula dimarginalkan justru menjadi pusat pembentukan makna. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dekonstruksi memperlihatkan ketidakstabilan makna dan menggugat konstruksi sosial yang dianggap mapan, sekaligus membuka ruang bagi munculnya interpretasi yang lebih plural terhadap identitas, pengetahuan, dan relasi kuasa dalam sastra kontemporer Indonesia.