Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Representasi Guru dalam Wacana Publik: Studi Kasus Komentar Netizen pada Isu Pendidikan Sri Wahyuni; Abdiyatus Sholehah; Lailiyatut Tamamah; Ria Kasanova
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 2 (2026): April - Juni
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i2.968

Abstract

Perkembangan media sosial telah mengubah ruang komunikasi publik menjadi arena produksi wacana yang memengaruhi pembentukan persepsi sosial, termasuk terhadap profesi guru. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana representasi guru dikonstruksi dalam komentar netizen pada isu pendidikan di media sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Analisis Wacana Kritis model Ruth Wodak melalui Discourse-Historical Approach. Data penelitian berupa 30 komentar netizen yang diperoleh dari unggahan TikTok yang membahas isu kesejahteraan guru, status guru honorer, serta kebijakan pengangkatan ASN dan PPPK. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi, kemudian dianalisis dengan mengidentifikasi strategi diskursif yang meliputi nomination, predication, argumentation, perspectivization, serta intensification and mitigation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi guru dalam wacana digital didominasi oleh isu ketidakpastian status kepegawaian dan kesejahteraan yang belum memadai. Di sisi lain, guru juga direpresentasikan sebagai profesi yang memiliki dedikasi tinggi dan peran penting dalam sistem pendidikan nasional. Komentar netizen membangun konstruksi sosial guru melalui penamaan yang beragam, penilaian terhadap kondisi sosial-ekonomi, serta argumentasi yang menekankan pentingnya penghargaan berdasarkan masa pengabdian. Selain itu, beragam sudut pandang dan penguatan makna menunjukkan adanya dinamika persepsi publik terhadap profesi guru. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa representasi guru dalam media sosial merupakan konstruksi wacana yang kompleks, yang tidak hanya mencerminkan kritik terhadap kebijakan pendidikan, tetapi juga apresiasi terhadap peran strategis guru dalam pembangunan pendidikan nasional.
Dekonstruksi Oposisi Biner Dalam Kumpulan Cerpen Hantu Ulang Alik Karya Ratri Ninditya Iis Dahlia; Sri Wahyuni; Milani Putri; Halilatur Rohemah; Putri Masitoh Amin; Anisa Fajriana Oktasari
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 2 (2026): Maret - Juni
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i2.10656

Abstract

Oposisi biner dalam karya sastra sering membentuk hierarki makna yang menempatkan satu unsur sebagai pusat dan unsur lainnya sebagai pihak yang dimarginalkan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk oposisi biner serta mengungkap proses pembongkaran dan pembalikan hierarki makna dalam cerpen Anarkocheng dan Film Sadis yang terdapat dalam kumpulan cerpen Hantu Ulang Alik karya Ratri Ninditya berdasarkan perspektif dekonstruksi Jacques Derrida. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis teks. Sumber data berupa kata, frasa, kalimat, dialog, dan narasi yang mengandung representasi oposisi biner, sedangkan pengumpulan data dilakukan melalui teknik baca dan catat. Analisis data meliputi identifikasi oposisi biner, pembongkaran hierarki makna, serta interpretasi makna baru yang muncul melalui pembacaan dekonstruktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua cerpen menghadirkan berbagai oposisi biner, seperti normal–tidak normal, religius–menyimpang, laki-laki–perempuan, mayoritas–minoritas, tertib–anarkis, waras–gila, fakta–konspirasi, sehat–sakit, rasional–irasional, serta dominan–marginal. Oposisi-oposisi tersebut tidak bersifat tetap karena mengalami pembalikan posisi sehingga unsur yang semula dimarginalkan justru menjadi pusat pembentukan makna. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dekonstruksi memperlihatkan ketidakstabilan makna dan menggugat konstruksi sosial yang dianggap mapan, sekaligus membuka ruang bagi munculnya interpretasi yang lebih plural terhadap identitas, pengetahuan, dan relasi kuasa dalam sastra kontemporer Indonesia.