Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Integrasi Psikologi Pendidikan dalam Tafsir Tarbawi dalam Analisis Teori Motivasi Maslow dan ERG terhadap Ayat-Ayat Al-Qur'an Ahmad Yusam Thobroni; Mey Kusnia Dewi; Muhammad Salman Alfarisi
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 2 (2026): April - Juni
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i2.1064

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya kesenjangan antara teori psikologi pendidikan modern dengan nilai-nilai transendental dalam teks suci, di mana praktisi pendidikan Islam seringkali kekurangan panduan psikologis yang berakar langsung pada wahyu. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menganalisis relevansi teori motivasi Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow dan teori ERG Clayton Alderfer dalam perspektif Tafsir Tarbawi, serta merumuskan konsep motivasi belajar yang integratif. Metode yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Data primer bersumber dari Al-Qur'an dan karya orisinal para tokoh, sementara teknik analisis data menggunakan analisis isi dan komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur'an memvalidasi kebutuhan eksistensi manusia (QS. Quraisy: 4) dan hubungan interpersonal (QS. Luqman: 13). Namun, Al-Qur'an memperluas konsep motivasi melampaui aspek material melalui dimensi spiritual ibtila’ (ujian) sebagai stimulus kesabaran (QS. Al-Baqarah: 155) dan pencapaian falah sebagai puncak pertumbuhan (growth) manusia. Kesimpulannya, integrasi psikologi pendidikan ke dalam Tafsir Tarbawi membuktikan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar adalah prasyarat krusial yang harus diseimbangkan dengan tujuan transendental untuk membentuk karakter Insan Kamil. Implementasi praktis bagi pendidik adalah dengan menciptakan ekosistem belajar yang menjamin keamanan fisik dan emosional siswa sekaligus mengarahkan potensi fitrah mereka pada nilai-nilai ketakwaan.
Reaktualisasi Konsep Al-Nafs Ibnu Miskawaih: Strategi Pendidikan Karakter Berbasis Self-Regulation di Era Digital Mey Kusnia Dewi; MOH. Sahrul Gunawan Noviandi; Hisyam Nasirudin Ramadhan
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - September
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i3.1189

Abstract

Pendidikan karakter di lingkungan kampus saat ini menghadapi tantangan yang berbeda dari satu dekade lalu. Mahasiswa tumbuh dalam lingkungan digital yang menuntut mereka mengelola dorongan, emosi, dan perhatian secara mandiri, sementara kerangka pendidikan karakter yang tersedia masih banyak bertumpu pada nilai-nilai normatif tanpa mekanisme psikologis yang jelas tentang bagaimana nilai tersebut diinternalisasi. Artikel ini mengkaji kembali konsep al-nafs (jiwa) dalam pemikiran Ibnu Miskawaih, khususnya pembagian tiga daya jiwa—al-syahwiyyah, al-ghadhabiyyah, dan al-nathiqah—serta empat kebajikan utama (al-hikmah, al-'iffah, al-syaja'ah, al-'adalah), dan menempatkannya sebagai kerangka konseptual untuk strategi self-regulation di ruang digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka (library research) yang bersifat analitis-konseptual, menelaah teks primer Tahdzib al-Akhlaq beserta literatur sekunder tentang self-regulated learning dan dinamika psikologi digital kontemporer. Hasil kajian menunjukkan bahwa kerangka al-nafs Ibnu Miskawaih memiliki struktur yang paralel dengan model regulasi diri Zimmerman, terutama pada fungsi al-nathiqah sebagai instans pengawas (monitoring) yang menyerupai tahap self-reflection, sementara al-syahwiyyah dan al-ghadhabiyyah memetakan dorongan impulsif yang dalam literatur modern dikaitkan dengan kecanduan media sosial, FOMO, dan perilaku cyberbullying. Artikel ini menawarkan tiga strategi penerapan—pembiasaan (al-'adah) dalam bentuk digital detox terjadwal, keteladanan (al-adab) melalui netiket kampus, dan muhasabah digital sebagai bentuk refleksi mingguan—yang dirumuskan sebagai jembatan operasional antara etika klasik dan kebutuhan literasi digital generasi Z. Implikasinya, pendidikan karakter berbasis al-nafs tidak perlu diposisikan sebagai doktrin yang terpisah dari psikologi modern, melainkan sebagai fondasi filosofis yang memberi makna dan arah bagi praktik regulasi diri yang sudah lebih dulu dikenal dalam dunia pendidikan kontemporer.