Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Gambaran Deskriptif Jumlah Bayi Lahir dan Prevalensi Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Lima Kabupaten Provinsi Lampung Tahun 2024: Khorina Fatin Bilqis Khorina Fatin Bilqis
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 10 No. 1 (2026): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v10i1.pp16-19

Abstract

Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) merupakan salah satu indikator utama dalam mengukur derajat kesehatan ibu dan anak, karena kondisinya berkaitan dengan meningkatnya risiko kematian pada masa neonatal, kejadian morbiditas, serta potensi gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak di kemudian hari. Upaya pencegahan BBLR sangat dipengaruhi oleh kualitas pelayanan Antenatal Care (ANC), yang berfungsi untuk memantau kesehatan ibu dan janin, mengidentifikasi faktor risiko sejak dini, serta memberikan intervensi medis dan edukasi kesehatan selama masa kehamilan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran deskriptif mengenai jumlah bayi lahir dan prevalensi BBLR di lima kabupaten Provinsi Lampung pada tahun 2024. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif deskriptif dengan desain cross-sectional berbasis data sekunder yang diperoleh dari publikasi Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung tahun, Lampung Dalam Angka 2025. Unit analisis dalam penelitian ini adalah tingkat kabupaten, dengan variabel utama meliputi jumlah kelahiran hidup dan jumlah kasus BBLR dengan berat lahir kurang dari 2.500 gram. Analisis data dilakukan secara deskriptif melalui perhitungan distribusi frekuensi serta estimasi prevalensi BBLR pada masing-masing wilayah. Hasil analisis menunjukkan terdapat 67.392 kelahiran hidup dengan 1.470 kasus BBLR, sehingga diperoleh prevalensi sebesar 2,18%. Kabupaten Lampung Timur mencatat prevalensi tertinggi sebesar 4,84%, sedangkan prevalensi terendah terdapat di Kabupaten Lampung Barat sebesar 0,62%. Perbedaan ini mengindikasikan adanya variasi kondisi kesehatan ibu dan akses pelayanan kesehatan antarwilayah. Secara keseluruhan, meskipun angka prevalensi relatif rendah, terdapat ketimpangan antar kabupaten yang memerlukan perhatian khusus sebagai dasar perencanaan dan evaluasi program kesehatan ibu dan anak di lima kabupaten Provinsi Lampung.
Dinamika Epidemiologi Malaria dan Demam Berdarah Dengue di Kabupaten Pesawaran dan Pesisir Barat (2024): Analisis Insidensi dan Implikasi Kebijakan Kesehatan: Khorina Fatin Bilqis, Shellya Puti Sudesty, Sri Octa Handayani Khorina Fatin Bilqis; Shellya Puti Sudesty; Sri Octa Handayani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 13 No. 1 (2026): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v13i1.pp101-108

Abstract

Malaria dan Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit menular berbasis vektor yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, termasuk di Provinsi Lampung. Kondisi geografis, lingkungan, kepadatan penduduk, dan akses pelayanan kesehatan memengaruhi dinamika epidemiologi kedua penyakit tersebut pada setiap wilayah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika epidemiologi malaria dan DBD di Kabupaten Pesawaran dan Kabupaten Pesisir Barat tahun 2024 serta mengkaji implikasi kebijakan kesehatan berdasarkan pola insidensi penyakit. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan studi data sekunder. Data diperoleh dari publikasi kesehatan Provinsi Lampung tahun 2024 yang meliputi angka kasus malaria dan DBD per 1000 penduduk. Variabel penelitian terdiri atas insidensi malaria, insidensi DBD, risiko lingkungan penyakit, akses pelayanan kesehatan, dan prioritas kebijakan kesehatan daerah. Data dianalisis secara deskriptif melalui penyajian tabel dan interpretasi antarwilayah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kabupaten Pesawaran memiliki angka kasus malaria lebih tinggi yaitu sebesar 4,41 per 1000 penduduk dibandingkan Kabupaten Pesisir Barat sebesar 0,01 per 1000 penduduk. Sebaliknya, angka kasus DBD di Kabupaten Pesisir Barat lebih tinggi yaitu sebesar 174,62 per 1000 penduduk dibandingkan Kabupaten Pesawaran sebesar 101,74 per 1000 penduduk. Perbedaan pola epidemiologi tersebut dipengaruhi oleh karakteristik lingkungan, curah hujan, kepadatan penduduk, dan akses pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, kebijakan kesehatan daerah perlu disesuaikan dengan karakteristik epidemiologi masing-masing wilayah melalui penguatan surveilans penyakit, pengendalian vektor, edukasi masyarakat, dan peningkatan akses pelayanan kesehatan guna menurunkan risiko penularan malaria dan DBD.
PENINGKATAN PEMAHAMAN MASYARAKAT TENTANG RISIKO PERNIKAHAN USIA DINI DI PEKON AIR KUBANG KECAMATAN AIR NANINGAN KABUPATEN TANGGAMUS Khorina Fatin Bilqis; Hendri Busman; Bambang Irawan; Shellya Puti Sudesty; Sri Octa Handayani
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 11 No. 1 (2026): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v11i1.3828

Abstract

Pernikahan usia dini masih menjadi permasalahan sosial yang berdampak luas terhadap kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai risiko pernikahan usia dini di Pekon Air Kubang, Kecamatan Air Naningan, Kabupaten Tanggamus. Metode yang digunakan adalah sosialisasi interaktif dengan pendekatan edukatif partisipatif yang melibatkan 30 peserta terdiri dari remaja dan orang tua. Kegiatan dilaksanakan melalui tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Instrumen yang digunakan berupa pretest dan posttest dengan 10 pertanyaan untuk mengukur tingkat pemahaman peserta sebelum dan sesudah kegiatan. Hasil menunjukkan adanya peningkatan rata-rata nilai dari 58,4 pada pretest menjadi 87,2 pada posttest, dengan peningkatan sebesar 28,8 poin. Selain itu, terjadi perubahan distribusi kategori pemahaman, di mana pada awalnya 53% peserta berada pada kategori rendah, namun setelah sosialisasi tidak terdapat lagi peserta dalam kategori tersebut dan 83% peserta berada pada kategori tinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa kegiatan sosialisasi efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai bahaya pernikahan usia dini. Oleh karena itu, kegiatan serupa perlu dilakukan secara berkelanjutan sebagai upaya preventif dalam menekan angka pernikahan usia dini serta mendukung terbentuknya generasi yang sehat, berpendidikan, dan berkualitas.
EDUKASI KESEHATAN SISTEM REPRODUKSI MANUSIA DI DESA RANTAU TIJANG, KECAMATAN PUGUNG, KABUPATEN TANGGAMUS Khorina Fatin Bilqis; Shellya Puti Sudesty; Sri Octa Handayani
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 11 No. 1 (2026): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Edukasi kesehatan reproduksi berbasis masyarakat merupakan strategi penting dalam meningkatkan literasikesehatan dan mendorong perilaku reproduksi yang bertanggung jawab. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa RantauTijang dengan sasaran masyarakat dewasa, khususnya kelompok usia di atas 30 tahun yang berperan sebagai orangtua dan pengambil keputusan dalam keluarga. Partisipasi peserta tergolong baik dan konsisten hingga akhir sesi.Diskusi menunjukkan antusiasme tinggi, dengan fokus pada pemilihan kontrasepsi aman bagi perempuan usia >35tahun, risiko kehamilan usia lanjut, keputihan, serta tanda peringatan dini kanker payudara dan serviks. Peserta jugamenyatakan memperoleh pemahaman sistematis mengenai fungsi fisiologis sistem reproduksi dan upayapencegahan penyakit. Tinjauan literatur mendukung efektivitas pendidikan kesehatan reproduksi dalammeningkatkan pengetahuan, penggunaan kontrasepsi yang tepat, serta menurunkan perilaku seksual berisiko dankehamilan tidak diinginkan. Namun, implementasi pendidikan reproduksi di Indonesia masih bersifat parsial danbelum terintegrasi optimal antara sekolah, keluarga, dan layanan kesehatan. Kegiatan ini belum menggunakan desainevaluasi kuantitatif pretest-posttest sehingga dampak peningkatan pengetahuan belum terdokumentasi secaranumerik. Secara keseluruhan, intervensi berbasis ceramah interaktif dan diskusi kontekstual budaya menunjukkanefektivitas dalam meningkatkan pemahaman masyarakat. Integrasi evaluasi kuantitatif direkomendasikan untukmemperkuat validitas dampak program di masa mendatang.
ANALISIS SOSIODEMOGRAFI TERHADAP DOMINASI BIDAN SEBAGAI PENOLONG PERSALINAN : STUDI KOMPARATIF KABUPATEN LAMPUNG UTARA, LAMPUNG TENGAH, DAN WAY KANAN khorina fatin bilqis
Plenary Health : Jurnal Kesehatan Paripurna Vol. 3 No. 2 (2026)
Publisher : LPPI Yayasan Almahmudi bin Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/plenaryhealth.v3i2.1795

Abstract

Pemilihan tenaga penolong persalinan merupakan indikator penting dalam menilai kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak serta berperan dalam upaya menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih seperti bidan dan dokter spesialis kandungan dapat meningkatkan keselamatan ibu dan bayi melalui deteksi dini serta penanganan komplikasi obstetri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika perubahan pemilihan tenaga penolong persalinan antara bidan dan dokter spesialis kandungan di tiga kabupaten di Provinsi Lampung, yaitu Lampung Tengah, Lampung Utara, dan Way Kanan pada periode 2023–2024. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan analisis data sekunder yang bersumber dari publikasi Badan Pusat Statistik dalam laporan Lampung Dalam Angka 2025. Data yang dianalisis meliputi persentase persalinan yang ditolong oleh bidan dan dokter spesialis kandungan. Analisis dilakukan secara deskriptif komparatif dengan membandingkan persentase antar tahun serta menghitung selisih (gap) antara penggunaan bidan dan dokter kandungan untuk mengidentifikasi dominasi tenaga kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Lampung Tengah mengalami pergeseran signifikan dari dominasi bidan menuju dokter spesialis kandungan, sementara Lampung Utara masih menunjukkan penguatan dominasi bidan. Kabupaten Way Kanan menunjukkan tren transisi dengan meningkatnya penggunaan dokter kandungan meskipun bidan masih dominan. Perbedaan pola tersebut diduga dipengaruhi oleh faktor akses terhadap fasilitas kesehatan, kondisi sosial ekonomi, tingkat pendidikan, serta distribusi tenaga kesehatan di masing-masing wilayah. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan kolaborasi antara bidan dan dokter spesialis melalui sistem rujukan yang efektif untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan maternal dan menurunkan risiko komplikasi persalinan.
Evaluation of The Dynamics of Active Family Planning Program Participant Coverage as A Bkkbn Program Performance Indicator: A Comparative Analysis of Three Districts in Lampung Province (2020–2024) Khorina Fatin Bilqis
Jurnal Kesehatan Vol 19, No 2 (2026): Jurnal Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jk.v19i2.16532

Abstract

Pendahuluan: Keluarga berencana melalui penggunaan kontrasepsi modern tetap menjadi strategi kesehatan masyarakat yang penting untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak sekaligus mengendalikan pertumbuhan penduduk. Meskipun Indonesia telah mencapai cakupan kontrasepsi yang relatif tinggi secara nasional, kesenjangan antarwilayah masih terjadi; hal ini mencerminkan perbedaan dalam pelaksanaan program, aksesibilitas layanan, dan kapasitas sistem kesehatan daerah. Oleh karena itu, memahami tren regional sangat penting untuk mengevaluasi kinerja program dan mendukung perumusan kebijakan berbasis bukti. Studi ini bertujuan untuk menganalisis tren penggunaan kontrasepsi di kalangan wanita kawin usia subur (15–49 tahun) di Kabupaten Tulang Bawang, Tulang Bawang Barat, dan Mesuji, Provinsi Lampung, selama periode 2020–2024. Metode: Studi deskriptif kuantitatif ini menggunakan data sekunder dari publikasi *Lampung dalam Angka 2025* yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung. Indikator utama yang dianalisis adalah persentase wanita berstatus kawin berusia 15–49 tahun yang menggunakan kontrasepsi. Analisis komparatif dilakukan untuk mengkaji perbedaan besaran dan pola perubahan di ketiga kabupaten tersebut. Hasil: Temuan menunjukkan adanya tren regional yang beragam. Tulang Bawang menunjukkan peningkatan paling konsisten, naik dari 63,36% pada tahun 2020 menjadi 68,71% pada tahun 2024, yang mencerminkan peningkatan kumulatif sebesar 5,35 poin persentase. Tulang Bawang Barat menunjukkan tren yang fluktuatif namun mencatat peningkatan keseluruhan sebesar 4,08 poin persentase. Mesuji mengalami penurunan tajam pada tahun 2021, diikuti oleh pemulihan bertahap hingga mencapai 69,41% pada tahun 2024, sedikit di atas angka dasar tahun 2020. Kesimpulan: Temuan ini menyoroti perlunya strategi yang berkelanjutan dan spesifik sesuai konteks wilayah untuk mendorong peningkatan penggunaan kontrasepsi secara merata di berbagai daerah.   Introduction: Family planning through modern contraceptive use remains an important public health strategy for improving maternal and child health outcomes while managing population growth. Although Indonesia has achieved relatively high contraceptive coverage nationally, disparities persist across regions, reflecting differences in program implementation, service accessibility, and local health system capacity. Therefore, understanding regional trends is essential for evaluating program performance and supporting evidence-based policymaking. This study aimed to analyze trends in contraceptive use among married women of reproductive age (15–49 years) in Tulang Bawang, Tulang Bawang Barat, and Mesuji, Lampung Province, from 2020 to 2024. Method: This quantitative descriptive study used secondary data from Lampung in Figures 2025, published by the Central Statistics Agency (BPS) of Lampung Province. The primary indicator analyzed was the percentage of currently married women aged 15–49 years who were using contraception. Comparative analysis was conducted to examine differences in the magnitude and patterns of change across the three regencies. Results: The findings indicated heterogeneous regional trends. Tulang Bawang showed the most consistent increase, rising from 63.36% in 2020 to 68.71% in 2024, representing a cumulative increase of 5.35 percentage points. Tulang Bawang Barat showed fluctuating trends but an overall increase of 4.08 percentage points. Mesuji experienced a sharp decline in 2021, followed by gradual recovery, reaching 69.41% in 2024, slightly above its 2020 baseline. Conclusion: These findings highlight the need for context-specific and sustainable strategies to promote equitable increases in contraceptive use across regions.