Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Terapi Relaksasi Benson untuk Menurunkan Tekanan Darah pada Hipertensi dalam Asuhan Keperawatan Keluarga di Desa Cihanjuang Rahayu: Studi Kasus M. Iqbal Sutisna; Elsa Sandari Ayudia Nirwanti; Syfa Rahma Nur Alifiyah; Mochamad Gibran Adrian Kusumah; Amelia; Sri Winangsih
Jurnal ABDIMAS-HIP Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal ABDIMAS-HIP Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : LPPM Akbid Harapan Ibu Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37402/abdimaship.vol7.iss1.501

Abstract

Hypertension is a condition where blood pressure remains above normal for a long period, influenced by age, psychological stress, genetic factors, unhealthy lifestyle, and sleep disorders. Uncontrolled Hypertension can lead to complications, one of which is stroke. Non-adherence to pharmacological therapy becomes an obstacle to blood pressure control, thus non-pharmacological alternatives are needed. Benson Relaxation therapy is a deep breathing relaxation technique combined with belief and has the potential to lower blood pressure. This Family Nursing Care aims to determine the effectiveness of Benson Relaxation therapy in reducing blood pressure in hypertensive patients. The method used is a case study with an evidence-based nursing practice approach. The therapy is administered once a day for three days with a duration of 15–20 minutes. The results show a decrease in blood pressure in clients with Hypertension after the implementation of Benson relaxation therapy. Benson Relaxation therapy is recommended to be applied in family nursing care and developed in community settings to broaden the scope of Interventions and support Hypertension control in the community.
Studi Kasus: Pengaruh Terapi Rendam Kaki Air Jahe Hangat terhadap Tekanan Darah pada Pasien Hipertensi: Case Study: The Effect of Warm Ginger Foot Bath Therapy on Blood Pressure in Hypertensive Patients M. Iqbal Sutisna; Ririn Kurniati; Irmida Juneja; Lutfia Zahra; Rahma Aulia; Yusuf Tajiri
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 8 No 2 (2026): EDISI FEBRUARI
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v8i1.286

Abstract

Latar Belakang: Hipertensi adalah kondisi tekanan darah sistolik yang menunjukkan hasil lebih dari 140/90 mmHg. Hipertensi terjadi akibat peningkatan tekanan darah yang menetap di pembuluh arteri. Jahe merah yang mengandung senyawa gingerol yang mempunyai efek memperlebar pembuluh darah (vasodilatasi), merangsang saraf dibagian tubuh yang terolesi kaki untuk mengaktifkan syaraf parasimpatis, sehingga diharapkan dapat melancarkan peredaran darah dan perubahan pada tekanan darah. Tujuan penelitian ini adalah menerapkan terapi rendam kaki air hangat jahe hangat pada pasien hipertensi pre dan post intervensi. Metode: Penelitian dilakukan secara diskriptif studi kasus pada 1(satu) pasien yang mengalami hipertensi, melakukan terapi rendam kaki air hangat jahe selama 3 hari berturut-turut. Jahe merah 50gram digeprek, kemudian direbus dengan suhu air 39°C, merendam kaki sampai batas mata kaki selama 15 menit. Hasil: Terjadi penurunan tekanan darah dari 152/94 mmHg menjadi 130/80 mmHg. Kesimpulan: Terapi rendam kaki dengan air jahe hangat dapat menurunkan tekanan darah sistolik pasien hipertensi, mengurangi edema kaki, menimbulkan respon sitemik yang terjadi melalui vasodilitasi pelebaran pembuluh darah.
Aplikasi Asuhan Keperawatan pada Pasien Hipertensi dengan Penerapan Teknik Relaksasi Napas Dalam di Desa Cihanjuang Rahayu Bandung Barat : Nursing Care Application for Hypertensive Patients with the Application of Deep Breathing Relaxation Techniques in Cihanjuang Rahayu Village, West Bandung Tentry Fuji Purwanti; M. Iqbal Sutisna; Pepi Lasnawati; Aa Ridwan Ajis M; Nazwa Kamila Hasan; Riki Risdianto; Shakira Najwa Zahra; Siti Nurfauziah
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 8 No 2 (2026): EDISI FEBRUARI
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v8i1.289

Abstract

Pendahuluan: Hipertensi dikenal sebagai penyakit silent killer karena sering tanpa gejala spesifik. Intervensi nonfarmakologis seperti teknik relaksasi napas dalam dapat diterapkan sebagai pengendalian tekanan darah di tingkat komunitas. Penelitian ini bertujuan meningkatkan  pengetahuan dan kemampuan melakukan latihan relaksasi napas dalam pada pasien hipertensi.Metode menggunakan studi kasus deskriptif kualitatif pada Tn. B (58 tahun) di Desa Cihanjuang Rahayu, Bandung Barat, selama 3 hari (20-23 Desember 2025), mencakup pengkajian, diagnosis, implementasi (edukasi, demonstrasi, latihan 10-15 menit/hari), dan evaluasi melalui observasi, wawancara, serta pengukuran tekanan darah. Hasil menunjukkan penurunan tekanan darah dari 170/100 mmHg menjadi 150/80 mmHg, disertai pengurangan keluhan subjektif (sakit kepala, tengkuk berat, kelelahan), peningkatan pengetahuan, dan kemandirian pasien dalam teknik relaksasi. Kesimpulan, intervensi teknik relaksasi napas berperan menurunkan tekanan darah dan meningkatkan pengelolaan hipertensi nonfarmakologis pada pasien di komunitas
Studi Kasus: Pengaruh Terapi Manuver Brandt-Daroff terhadap Pencegahan Kekambuhan Vertigo: Case Study: The Effect of Brandt-Daroff Maneuver Therapy on the Prevention of Vertigo Recurrence Tentry Fuji Purwanti; M. Iqbal Sutisna; Muhammad Ghibran Al-fathir; Risma Wati Nurmaulida; Nabila Septiani Putri; Neng Dila Nur Sifadilah; Renaldi Kurnia Pratama; Riana Aprilia
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 8 No 2 (2026): EDISI FEBRUARI
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v8i1.304

Abstract

Latar Belakang: Vertigo didefinisikan sebagai suatu gejala berupa sensasi seolah-olah diri sendiri atau lingkungan sekitar bergerak atau berputar, yang umumnya disertai mual dan gangguan keseimbangan tubuh. Berdasarkan klasifikasinya, kasus vertigo perifer lebih banyak ditemukan, dengan persentase sekitar 75%, dibandingkan vertigo sentral. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi kasus berupa pemberian asuhan keperawatan dengan terapi Brandt-Daroff terhadap nyeri akut (pusing berputar) pada pasien vertigo. Tn.H berusia 73 tahun dengan keluhan utama pusing berputar saat perubahan posisi kepala rasa tidak seimbang. Intervensi utama yang diberikan adalah terapi Brandt-Daroff sebagai bagian dari manajeman nyeri, pencegahan cedera, peningkatan toleransi aktivitas, dan dukungan tidur. Hasil: Evaluasi menunjukkan adanya penurunan intesitas nyeri akut (pusing berputar), peningkatan kemampuan aktivitas secara bertahap, berkurangnya risiko jatuh, serta perbaikan pola tidur pasien. Kesimpulan: Penerapan terapi Brandt-Daroff secara teratur dan mandiri dapat membantu adaptasi sistem vesribular serta berperan dalam mengurangi gejala vertigo pasien.
Pemberian Edukasi Keluarga Mengenai Hipertensi Dan Pemanfaatan Jus Mentimun Sebagai Terapi Pendamping Rizky Gumilang Pahlawan; M. Iqbal Sutisna; Elisa Sophia Nur Rohmani; Elvira Malia Chandra; Linda Mayliana; Mega Nazwah Fadila; Mia Amelianti; Nazwa Nur Hanifah
Jurnal Medika: Medika Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/kfwkry56

Abstract

Hipertensi merupakan masalah kesehatan kronis yang memerlukan pengelolaan berkelanjutan melalui pendekatan farmakologis dan nonfarmakologis. Salah satu upaya nonfarmakologis yang dapat diterapkan di masyarakat adalah edukasi kesehatan disertai pemanfaatan terapi herbal. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan keluarga serta mendukung pengendalian tekanan darah melalui edukasi kesehatan keluarga dan pemanfaatan jus mentimun sebagai terapi pendamping. Kegiatan dilaksanakan melalui tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi dengan melibatkan satu orang pasien hipertensi beserta keluarganya. Edukasi kesehatan mengenai pengelolaan hipertensi diberikan, dilanjutkan dengan pemaksaan dan pemberian jus mentimun sebanyak 250 ml satu kali sehari selama tiga hari berturut-turut. Evaluasi dilakukan dengan mengamati perubahan tekanan darah dan pemahaman target. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman sasaran dan keluarga serta penurunan tekanan darah setelah pelaksanaan kegiatan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini memberikan manfaat langsung sebagai upaya pendampingan dalam pengelolaan hipertensi secara nonfarmakologis.
Penerapan Senam Hipertensi sebagai Intervensi Non-Farmakologis Berbasis Body Movement Therapy untuk Pengendalian Tekanan Darah di Komunitas Tentry Fuji Purwanti; M. Iqbal Sutisna; Nazwa Putria Azzahra; Diana Angelia; Muhamad Diova Wira Pratama; Esti Perawati; Lira Destria Wahyuni
Jurnal Medika: Medika in progres
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/bsb87086

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit tidak menular kronis yang ditandai oleh peningkatan tekanan darah ≥140/90 mmHg dan menjadi salah satu penyebab utama kematian dini di dunia menurut WHO. Secara global, jumlah penderita mencapai sekitar 1,4 miliar pada tahun 2024 dan sebagian besar berasal dari negara berpendapatan rendah hingga menengah. Di Indonesia, hipertensi masih menjadi faktor risiko dominan penyebab kematian, sementara banyak kasus belum terdeteksi. Pengendalian hipertensi tidak hanya mengandalkan obat, tetapi juga membutuhkan pendekatan non-farmakologis berkelanjutan seperti body movement therapy. Studi kasus ini bertujuan menjelaskan penerapan senam hipertensi sebagai bentuk terapi gerak dalam membantu menurunkan tekanan darah dan memperbaiki perfusi perifer di komunitas. Metode penelitian menggunakan pendekatan asuhan keperawatan komunitas terhadap empat lansia perempuan dengan hipertensi disertai keluhan pusing, kesemutan, dan akral dingin. Intervensi dilakukan selama tiga hari berturut melalui edukasi kesehatan, pemantauan hemodinamik, perawatan sirkulasi, serta senam hipertensi selama 20-30 menit per hari. Hasil menunjukkan adanya penurunan tekanan darah secara bertahap, akral terasa hangat, capillary refill <3 detik, serta berkurangnya gejala. Senam hipertensi terbukti efektif untuk menurunkan tekanan darah, memperbaiki sirkulasi, dan meningkatkan pemahaman pasien mengenai pengelolaan hipertensi di tingkat komunitas.
Implementasi Kombinasi Jus Wortel dan Madu Sebagai Terapi Komplementer Dalam Menurunkan Tekanan Darah pada Penderita Hipertensi di Padasuka, Bandung 2026 M. Iqbal Sutisna; Tsulits Alaziza Adiguna Fikhra; Vindi Intan Nurani; Wulandina Wulandina; Indri Setiawati; Kurniawan Kurniawan; Bella Noviyanti Ruhiyat
Jurnal Medika: Medika in progres
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/r43aee42

Abstract

Hipertensi sering disebut sebagai silent killer karena dapat menyebabkan kematian tanpa gejala yang jelas. Kondisi ini terjadi ketika tekanan darah melebihi 140/90 mmHg dan berpotensi menimbulkan berbagai komplikasi serius. Untuk menangani penyakit ini, salah satu pendekatan yang bisa dilakukan adalah terapi komplementer menggunakan herbal, yaitu pemberian jus wortel dan madu. Kombinasi ini dipercaya efektif menurunkan tekanan darah berkat kandungan kalium dan antioksidannya. Kegiatan ini bertujuan untuk melihat perbedaan tekanan darah pada lansia penderita hipertensi yang mengonsumsi jus wortel dan madu di Padasuka, Bandung. Kegiatan ini melibatkan responden yang dipilih secara purposive sampling. Hasil kegiatan membuktikan terjadi penurunan tekanan darah yang signifikan, yaitu tekanan sistolik turun dari rata-rata 152 mmHg menjadi 138 mmHg dan tekanan diastolik dari 91 mmHg menjadi 85 mmHg. kesimpulannya adalah ada perbedaan tekanan darah yang signifikan sebelum dan sesudah diberi jus wortel dan madu, sehingga kombinasi ini bisa dijadikan salah satu pilihan terapi komplementer pada penderita hipertensi.
STUDI KASUS PENERAPAN INTERVENSI KEPERAWATAN BERBASIS MINDFULNESS UNTUK MENURUNKAN ANSIETAS PASCA KEHILANGAN PASANGAN Ahmad Arifin; M. Iqbal Sutisna; Nova Triwahyuni; Aisyah Amini; Alya Dwi Agustantina; Nadila Ariyanti; Fauzan Nurhidayat Syaputera
Jurnal Ilmu Kesehatan MAKIA Vol 16 No 1 (2026): Jurnal Ilmu Kesehatan MAKIA
Publisher : LPPM ISTeK ICsada Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37413/mzxpy117

Abstract

Kehilangan pasangan hidup merupakan pengalaman traumatis yang dapat menimbulkan gangguan psikososial berupa kecemasan. Kondisi ini sering dialami individu usia dewasa madya yang menghadapi perubahan peran dalam keluarga serta keterbatasan dukungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan asuhan keperawatan komunitas pada pasien dengan kecemasan pasca kematian pasangan. Metode penelitian menggunakan studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan, meliputi pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi, dan evaluasi. Subjek penelitian adalah seorang perempuan berusia 52 tahun dengan skor Generalized Anxiety Disorder-7 (GAD-7) menunjukkan kecemasan sedang. Intervensi yang diberikan meliputi reduksi ansietas melalui latihan mindfulness pernapasan dan body scan, dukungan emosional, serta edukasi kesehatan mengenai teknik relaksasi. Implementasi dilakukan selama tiga hari dengan sesi pagi dan sore. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan skor GAD-7 dari 12 (kecemasan sedang) menjadi 5 (kecemasan ringan). Pasien juga memperlihatkan peningkatan kemampuan koping, keterlibatan sosial, serta pemahaman dan keterampilan dalam praktik mindfulness. Evaluasi akhir menunjukkan pasien lebih mampu mengontrol kecemasan, terbuka dalam mengekspresikan perasaan, serta mandiri melakukan latihan relaksasi. Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa intervensi berbasis mindfulness yang dikombinasikan dengan dukungan emosional efektif dalam menurunkan tingkat kecemasan dan meningkatkan koping adaptif pada pasien dengan kehilangan pasangan. Disarankan agar tenaga kesehatan komunitas mengintegrasikan terapi mindfulness ke dalam program dukungan psikososial untuk meningkatkan kesejahteraan mental masyarakat.