Sri Oetami Madyowati
Program Studi Budidaya Perairan, Fakultasnya Teknologi Pangan dan Perikanan, Universitas Dr. Soetomo, Surabaya, Indonesia

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Pengaruh Kepadatan pada Transportasi Basah Tertutup Dari Kediri ke Surabaya terhadap Kelangsungan Hidup Benih Ikan Bawal Air Tawar (Colossoma macropomum): Effect of Stocking Density on Survival and Water Quality of Freshwater Pomfret (Colossoma macropomum) Fry During Closed Wet Transportation Hermanto Hermanto; Sri Oetami Madyowati; Sumaryam Sumaryam
Jurnal Perikanan Kamasan: Smart, Fast, & Professional Services Vol. 7 No. 1 (2026): JURNAL PERIKANAN KAMASAN
Publisher : Akademi Perikanan Kamasan Biak Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58950/jpk.v7i1.103

Abstract

Transportasi benih ikan dalam sistem basah tertutup berisiko menurunkan kualitas air akibat akumulasi hasil respirasi dan ekskresi, terutama pada kepadatan tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kepadatan terhadap sintasan dan kualitas air benih ikan bawal air tawar (Colossoma macropomum) ukuran 3–5 cm selama transportasi darat tertutup. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan empat perlakuan kepadatan, yaitu 50, 75, 100, dan 125 ekor per kantong, masing-masing enam ulangan. Transportasi dilakukan pada rute Kediri–Surabaya dengan durasi sekitar 4 jam. Parameter yang diamati meliputi kelangsungan hidup, suhu, derajat keasaman (pH), dan oksigen terlarut sebelum dan sesudah transportasi. Data dianalisis menggunakan analisis ragam dan dilanjutkan dengan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup benih. Kepadatan 50, 75, dan 100 ekor per kantong menghasilkan sintasan berturut-turut sebesar 98,33%, 96,89%, dan 94,50%, serta tidak berbeda nyata. Sebaliknya, kepadatan 125 ekor per kantong menurunkan sintasan menjadi 80,93%, disertai penurunan oksigen terlarut hingga 4,23 mg/L, penurunan pH menjadi 6,65, dan peningkatan suhu menjadi 27,75°C. Disimpulkan bahwa kepadatan hingga 100 ekor per kantong merupakan batas aman untuk mempertahankan sintasan benih bawal air tawar selama transportasi basah tertutup berdurasi sekitar 4 jam.
Deteksi dan Prevalensi Infeksi (Enterocytozoon Hepatopenaei) pada Benur Udang Vanname (Litopenaeus Vannamei) di Jawa Timur : Detection and Prevalence of Enterocytozoon hepatopenaei Infection in Pacific White Shrimp (Litopenaeus vannamei) Post-Larvae in East Java, Indonesia Nunuk Ari Setyawati; Sri Oetami Madyowati; Achmad Kusyairi
Jurnal Perikanan Kamasan: Smart, Fast, & Professional Services Vol. 6 No. 2 (2026): JURNAL PERIKANAN KAMASAN
Publisher : Akademi Perikanan Kamasan Biak Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58950/jpk.v6i2.104

Abstract

Udang vanname (Litopenaeus vannamei) merupakan salah satu komoditas akuakultur bernilai ekonomi tinggi yang rentan terhadap hepatopancreatic microsporidiosis akibat infeksi Enterocytozoon hepatopenaei (EHP). Infeksi EHP pada stadia benur umumnya tidak menunjukkan gejala klinis yang jelas sehingga deteksi dini diperlukan untuk mencegah penyebaran penyakit ke tambak pembesaran. Penelitian ini bertujuan mendeteksi keberadaan EHP dan menentukan prevalensi infeksinya pada benur udang vanname stadia PL16–PL20 yang berasal dari empat lokasi di Jawa Timur. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan teknik purposive sampling. Sebanyak 80 sampel benur dikumpulkan dari Banyuwangi, Situbondo, Sidoarjo, dan Tuban, masing-masing sebanyak 20 sampel. Deteksi EHP dilakukan melalui ekstraksi deoxyribonucleic acid (DNA), amplifikasi menggunakan polymerase chain reaction (PCR) dengan target fragmen 510 pasangan basa, dan visualisasi menggunakan elektroforesis gel agarosa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh sampel dari Banyuwangi dan Situbondo negatif terhadap EHP dengan prevalensi 0%. Sebaliknya, lima dari 20 sampel benur asal Sidoarjo terdeteksi positif dengan prevalensi 25%, sedangkan tiga dari 20 sampel asal Tuban positif dengan prevalensi 15%. Temuan ini menunjukkan bahwa infeksi EHP dapat terjadi sejak stadia benur dan memperlihatkan variasi prevalensi antarwilayah. Oleh karena itu, penerapan biosekuriti yang ketat, pengelolaan kualitas air yang optimal, serta penggunaan induk dan benur bersertifikat bebas patogen perlu diprioritaskan untuk mengurangi risiko penyebaran EHP pada sistem budidaya udang vanname.
Prevalensi dan Keanekaragaman Ektoparasit pada Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) yang Dipelihara pada Berbagai Tipe Dasar Kolam di Kabupaten Jember: Prevalence and Diversity of Ectoparasites in Gourami (Osphronemus gouramy) Reared in Ponds with Different Bottom Types in Jember Regency I Dewa Made Jaka Budi Kurniawan; Sri Oetami Madyowati; Sumaryam
Jurnal Perikanan Kamasan: Smart, Fast, & Professional Services Vol. 6 No. 2 (2026): JURNAL PERIKANAN KAMASAN
Publisher : Akademi Perikanan Kamasan Biak Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58950/jpk.v6i2.109

Abstract

Ikan gurami (Osphronemus gouramy) merupakan komoditas budidaya air tawar bernilai ekonomi tinggi yang rentan mengalami penurunan produktivitas akibat infestasi ektoparasit. Perbedaan tipe dasar kolam diduga memengaruhi kondisi lingkungan yang mendukung perkembangan parasit. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis ektoparasit dan menentukan prevalensinya pada ikan gurami yang dipelihara pada berbagai tipe dasar kolam di Kabupaten Jember. Penelitian dilaksanakan pada November 2025 menggunakan metode deskriptif dengan pengambilan sampel secara purposive terhadap 30 ekor ikan gurami yang berasal dari tiga tipe kolam, yaitu dasar tanah, beton, dan terpal, masing-masing sebanyak 10 ekor. Pemeriksaan ektoparasit dilakukan secara klinis dan mikroskopis pada lendir, sirip, dan insang, sedangkan prevalensi dihitung berdasarkan persentase ikan yang terinfeksi. Kualitas air diamati melalui pengukuran suhu, pH, dan oksigen terlarut. Hasil penelitian mengidentifikasi empat jenis ektoparasit, yaitu Trichodina sp., Dactylogyrus sp., Gyrodactylus sp., dan Oodinium sp. Jumlah ektoparasit tertinggi ditemukan pada kolam dasar tanah (290 individu), diikuti kolam beton (157 individu) dan kolam terpal (106 individu). Trichodina sp. merupakan ektoparasit yang paling dominan dengan prevalensi tertinggi mencapai 100% pada kolam dasar tanah. Kisaran kualitas air selama penelitian, yaitu suhu 27,0–29,9 °C, pH 7,0, dan oksigen terlarut 4,0–5,7 mg/L, masih mendukung kehidupan ikan sekaligus memungkinkan perkembangan ektoparasit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tipe dasar kolam berhubungan dengan tingkat infestasi ektoparasit sehingga pengelolaan dasar kolam dan pengendalian akumulasi bahan organik perlu diterapkan untuk mengurangi risiko infeksi pada budidaya ikan gurami
Prevalensi dan Identifikasi Ektoparasit pada Ikan Lele (Clarias sp.) yang Dilalulintaskan melalui Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Satuan Pelayanan Ketapang Banyuwangi: Prevalence and Identification of Ectoparasites in Catfish (Clarias sp.) Examined at the Animal, Fish, and Plant Quarantine Service Unit, Ketapang, Banyuwangi Hery Saputro; Sri Oetami Madyowati; Sumaryam
Jurnal Perikanan Kamasan: Smart, Fast, & Professional Services Vol. 6 No. 2 (2026): JURNAL PERIKANAN KAMASAN
Publisher : Akademi Perikanan Kamasan Biak Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58950/jpk.v6i2.111

Abstract

Lalu lintas ikan hidup berpotensi menjadi jalur penyebaran ektoparasit apabila tidak disertai dengan pemeriksaan kesehatan ikan yang memadai. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis ektoparasit dan menentukan prevalensi infeksi pada ikan lele (Clarias sp.) yang dilalulintaskan melalui Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Satuan Pelayanan Ketapang Banyuwangi. Penelitian dilaksanakan pada November–Desember 2025 menggunakan pendekatan deskriptif laboratoris. Sebanyak 120 ekor ikan lele diperiksa, terdiri atas 56 ekor berasal dari Kabupaten Banyuwangi dan 64 ekor dari Kabupaten Jember. Pemeriksaan meliputi pengamatan klinis, pembuatan preparat lendir, sirip, dan insang, yang dilanjutkan dengan identifikasi ektoparasit secara mikroskopis. Prevalensi infeksi dihitung berdasarkan proporsi ikan yang terinfeksi terhadap jumlah ikan yang diperiksa, sedangkan kualitas air dievaluasi melalui pengukuran suhu, pH, dan oksigen terlarut (DO). Hasil penelitian mengidentifikasi tiga genus ektoparasit, yaitu Trichodina sp., Gyrodactylus sp., dan Dactylogyrus sp. Trichodina sp. merupakan ektoparasit yang paling dominan dengan prevalensi masing-masing sebesar 68% pada ikan asal Banyuwangi dan 81% pada ikan asal Jember. Prevalensi Gyrodactylus sp. tercatat sebesar 36% dan 48%, sedangkan Dactylogyrus sp. menunjukkan prevalensi terendah, yaitu 9% dan 11%. Ektoparasit terutama ditemukan pada insang, diikuti oleh kulit dan sirip. Selain itu, media pembawa ikan dari Jember memiliki kadar DO yang lebih rendah dibandingkan Banyuwangi, yang mengindikasikan kondisi lingkungan yang kurang optimal bagi kesehatan ikan. Hasil penelitian ini menegaskan pentingnya pemeriksaan mikroskopis secara rutin sebagai bagian dari tindakan karantina untuk mendukung pengawasan kesehatan ikan dan mencegah penyebaran ektoparasit melalui lalu lintas ikan hidup.
Pengaruh Dosis Minyak Sereh (Cymbopogon nardus) terhadap Kelangsungan Hidup Benih Ikan Koi (Cyprinus carpio) pada Transportasi Sistem Basah Tertutup: Effect of Citronella Oil (Cymbopogon nardus) Dosage on the Survival of Koi (Cyprinus carpio) Fingerlings during Closed Wet Transportation Rio Prastono; Achmad Kusyairi; Sri Oetami Madyowati
Jurnal Perikanan Kamasan: Smart, Fast, & Professional Services Vol. 7 No. 1 (2026): JURNAL PERIKANAN KAMASAN
Publisher : Akademi Perikanan Kamasan Biak Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58950/jpk.v7i1.114

Abstract

Transportasi benih ikan koi (Cyprinus carpio) dengan sistem basah tertutup berpotensi meningkatkan stres, konsumsi oksigen, dan mortalitas akibat keterbatasan ruang angkut. Minyak sereh (Cymbopogon nardus), yang mengandung sitronelal, geraniol, dan sitronelol, berpotensi digunakan sebagai sedatif alami untuk mengurangi respons stres selama transportasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh dosis minyak sereh terhadap kelangsungan hidup benih koi serta menentukan dosis yang paling efektif untuk transportasi sistem basah tertutup. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dosis minyak sereh (1, 2, 3, dan 4 mL/L), masing-masing enam ulangan. Setiap unit percobaan terdiri atas 30 ekor benih koi berukuran 10–12 cm yang diangkut selama lima jam dalam kantong plastik berisi 8 L air dan oksigen murni. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) yang dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis minyak sereh berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup benih koi. Dosis 2 mL/L menghasilkan survival rate tertinggi sebesar 97,78%, sedangkan dosis 1, 3, dan 4 mL/L masing-masing menghasilkan 79,44%, 57,22%, dan 15,00%. Selama transportasi, kualitas air masih berada pada kisaran layak, yaitu suhu 25,8–26,4°C, pH 6,8–7,2, dan oksigen terlarut 5,2–6,8 mg/L. Dengan demikian, dosis 2 mL/L direkomendasikan sebagai dosis efektif minyak sereh untuk meningkatkan keberhasilan transportasi benih koi pada sistem basah tertutup.