Sumaryam
Program Studi Budidaya Perairan, Fakultasnya Teknologi Pangan dan Perikanan, Universitas Dr. Soetomo, Surabaya, Indonesia

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Pengaruh Kepadatan pada Pengangkutan Sistem Basah Tertutup terhadap Kelangsungan Hidup Benih Ikan Lele (Clarias sp.) Umur 30 Hari: Effect of Different Stocking Densities during Closed Wet Transportation on the Survival of 30-Day-Old Catfish (Clarias sp.) Fry Doni Setiyo Wahyudi; Sumaryam; Achmad Kusyairi
Jurnal Perikanan Kamasan: Smart, Fast, & Professional Services Vol. 6 No. 2 (2026): JURNAL PERIKANAN KAMASAN
Publisher : Akademi Perikanan Kamasan Biak Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58950/jpk.v6i2.105

Abstract

Distribusi benih ikan lele memerlukan sistem pengangkutan yang mampu mempertahankan tingkat kelangsungan hidup selama proses transportasi. Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan transportasi adalah kepadatan benih dalam media pengangkutan, karena kepadatan yang terlalu tinggi dapat meningkatkan stres dan menurunkan kualitas lingkungan media. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kepadatan berbeda dalam sistem pengangkutan basah tertutup terhadap kelangsungan hidup benih ikan lele (Clarias sp.) umur 30 hari serta menentukan kepadatan yang paling efektif. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan kepadatan, yaitu 125, 150, 175, dan 200 ekor per kantong dalam 1,5 L air, masing-masing dengan enam ulangan. Benih dipuasakan selama 24 jam sebelum diangkut selama ±5 jam menggunakan perbandingan air dan oksigen 1:2. Parameter yang diamati meliputi tingkat kelangsungan hidup, suhu, dan pH media. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup benih. Kelangsungan hidup tertinggi diperoleh pada kepadatan 125 ekor/kantong sebesar 99,20%, diikuti 150 ekor/kantong sebesar 98,56%, 175 ekor/kantong sebesar 97,24%, dan 200 ekor/kantong sebesar 83,08%. Suhu akhir berkisar antara 26,7–26,9 °C dan pH antara 6,3–6,6. Berdasarkan hasil penelitian, kepadatan 125 ekor/kantong direkomendasikan sebagai kepadatan yang paling aman untuk pengangkutan benih ikan lele selama lima jam dalam sistem basah tertutup.
Prevalensi dan Keanekaragaman Ektoparasit pada Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) yang Dipelihara pada Berbagai Tipe Dasar Kolam di Kabupaten Jember: Prevalence and Diversity of Ectoparasites in Gourami (Osphronemus gouramy) Reared in Ponds with Different Bottom Types in Jember Regency I Dewa Made Jaka Budi Kurniawan; Sri Oetami Madyowati; Sumaryam
Jurnal Perikanan Kamasan: Smart, Fast, & Professional Services Vol. 6 No. 2 (2026): JURNAL PERIKANAN KAMASAN
Publisher : Akademi Perikanan Kamasan Biak Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58950/jpk.v6i2.109

Abstract

Ikan gurami (Osphronemus gouramy) merupakan komoditas budidaya air tawar bernilai ekonomi tinggi yang rentan mengalami penurunan produktivitas akibat infestasi ektoparasit. Perbedaan tipe dasar kolam diduga memengaruhi kondisi lingkungan yang mendukung perkembangan parasit. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis ektoparasit dan menentukan prevalensinya pada ikan gurami yang dipelihara pada berbagai tipe dasar kolam di Kabupaten Jember. Penelitian dilaksanakan pada November 2025 menggunakan metode deskriptif dengan pengambilan sampel secara purposive terhadap 30 ekor ikan gurami yang berasal dari tiga tipe kolam, yaitu dasar tanah, beton, dan terpal, masing-masing sebanyak 10 ekor. Pemeriksaan ektoparasit dilakukan secara klinis dan mikroskopis pada lendir, sirip, dan insang, sedangkan prevalensi dihitung berdasarkan persentase ikan yang terinfeksi. Kualitas air diamati melalui pengukuran suhu, pH, dan oksigen terlarut. Hasil penelitian mengidentifikasi empat jenis ektoparasit, yaitu Trichodina sp., Dactylogyrus sp., Gyrodactylus sp., dan Oodinium sp. Jumlah ektoparasit tertinggi ditemukan pada kolam dasar tanah (290 individu), diikuti kolam beton (157 individu) dan kolam terpal (106 individu). Trichodina sp. merupakan ektoparasit yang paling dominan dengan prevalensi tertinggi mencapai 100% pada kolam dasar tanah. Kisaran kualitas air selama penelitian, yaitu suhu 27,0–29,9 °C, pH 7,0, dan oksigen terlarut 4,0–5,7 mg/L, masih mendukung kehidupan ikan sekaligus memungkinkan perkembangan ektoparasit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tipe dasar kolam berhubungan dengan tingkat infestasi ektoparasit sehingga pengelolaan dasar kolam dan pengendalian akumulasi bahan organik perlu diterapkan untuk mengurangi risiko infeksi pada budidaya ikan gurami
Prevalensi dan Identifikasi Ektoparasit pada Ikan Lele (Clarias sp.) yang Dilalulintaskan melalui Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Satuan Pelayanan Ketapang Banyuwangi: Prevalence and Identification of Ectoparasites in Catfish (Clarias sp.) Examined at the Animal, Fish, and Plant Quarantine Service Unit, Ketapang, Banyuwangi Hery Saputro; Sri Oetami Madyowati; Sumaryam
Jurnal Perikanan Kamasan: Smart, Fast, & Professional Services Vol. 6 No. 2 (2026): JURNAL PERIKANAN KAMASAN
Publisher : Akademi Perikanan Kamasan Biak Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58950/jpk.v6i2.111

Abstract

Lalu lintas ikan hidup berpotensi menjadi jalur penyebaran ektoparasit apabila tidak disertai dengan pemeriksaan kesehatan ikan yang memadai. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis ektoparasit dan menentukan prevalensi infeksi pada ikan lele (Clarias sp.) yang dilalulintaskan melalui Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Satuan Pelayanan Ketapang Banyuwangi. Penelitian dilaksanakan pada November–Desember 2025 menggunakan pendekatan deskriptif laboratoris. Sebanyak 120 ekor ikan lele diperiksa, terdiri atas 56 ekor berasal dari Kabupaten Banyuwangi dan 64 ekor dari Kabupaten Jember. Pemeriksaan meliputi pengamatan klinis, pembuatan preparat lendir, sirip, dan insang, yang dilanjutkan dengan identifikasi ektoparasit secara mikroskopis. Prevalensi infeksi dihitung berdasarkan proporsi ikan yang terinfeksi terhadap jumlah ikan yang diperiksa, sedangkan kualitas air dievaluasi melalui pengukuran suhu, pH, dan oksigen terlarut (DO). Hasil penelitian mengidentifikasi tiga genus ektoparasit, yaitu Trichodina sp., Gyrodactylus sp., dan Dactylogyrus sp. Trichodina sp. merupakan ektoparasit yang paling dominan dengan prevalensi masing-masing sebesar 68% pada ikan asal Banyuwangi dan 81% pada ikan asal Jember. Prevalensi Gyrodactylus sp. tercatat sebesar 36% dan 48%, sedangkan Dactylogyrus sp. menunjukkan prevalensi terendah, yaitu 9% dan 11%. Ektoparasit terutama ditemukan pada insang, diikuti oleh kulit dan sirip. Selain itu, media pembawa ikan dari Jember memiliki kadar DO yang lebih rendah dibandingkan Banyuwangi, yang mengindikasikan kondisi lingkungan yang kurang optimal bagi kesehatan ikan. Hasil penelitian ini menegaskan pentingnya pemeriksaan mikroskopis secara rutin sebagai bagian dari tindakan karantina untuk mendukung pengawasan kesehatan ikan dan mencegah penyebaran ektoparasit melalui lalu lintas ikan hidup.
Deteksi dan Prevalensi White Spot Syndrome Virus (WSSV) pada Lobster Bambu (Panulirus versicolor) Menggunakan Nested PCR di Jawa Timur: Detection and Prevalence of White Spot Syndrome Virus (WSSV) in Bamboo Lobster (Panulirus versicolor) Using Nested PCR in East Java Destik Rosyana; Maria Agustin; Sumaryam
Jurnal Perikanan Kamasan: Smart, Fast, & Professional Services Vol. 6 No. 2 (2026): JURNAL PERIKANAN KAMASAN
Publisher : Akademi Perikanan Kamasan Biak Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58950/jpk.v6i2.112

Abstract

Lobster bambu (Panulirus versicolor) merupakan komoditas krustasea bernilai ekonomi tinggi yang berpotensi menjadi pembawa berbagai agen penyakit, termasuk White Spot Syndrome Virus (WSSV). Penelitian ini bertujuan mendeteksi keberadaan WSSV dan menentukan prevalensinya pada lobster bambu yang dilalulintaskan melalui sistem karantina di Jawa Timur. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan molekuler terhadap 20 ekor lobster bambu asal Sumenep, Madura, yang diperiksa pada periode November–Desember 2025. Jaringan insang dan pleopod diekstraksi menggunakan silica extraction kit dan dianalisis menggunakan nested Polymerase Chain Reaction (PCR) dengan primer 146F1/146R1 dan 146F2/146R2. Produk amplifikasi divisualisasikan melalui elektroforesis gel agarosa 1,5%. Hasil pengamatan klinis menunjukkan seluruh lobster tampak sehat tanpa gejala khas infeksi WSSV. Namun, hasil nested PCR mendeteksi satu sampel positif yang ditandai oleh pita DNA berukuran sekitar 941 bp, sedangkan 19 sampel lainnya menunjukkan hasil negatif. Berdasarkan hasil tersebut, prevalensi WSSV pada lobster bambu sebesar 5%. Temuan ini menunjukkan bahwa lobster bambu yang tampak sehat berpotensi berperan sebagai pembawa subklinis WSSV. Oleh karena itu, penerapan skrining molekuler secara rutin diperlukan untuk mendukung biosekuriti dan pengawasan lalu lintas komoditas krustasea melalui sistem karantina.
Pengaruh Dosis Minyak Serai (Cymbopogon sp.) terhadap Kelangsungan Hidup Benih Ikan Nila (Oreochromis niloticus) pada Transportasi Sistem Tertutup : Evaluation of Lemongrass Oil (Cymbopogon sp.) Dosages as a Natural Sedative for Improving the Survival of Nile Tilapia (Oreochromis niloticus) Fingerlings During Closed-System Transportation Bayu Prima Wisudhawanto; Maria Agustin; Sumaryam
Jurnal Perikanan Kamasan: Smart, Fast, & Professional Services Vol. 6 No. 2 (2026): JURNAL PERIKANAN KAMASAN
Publisher : Akademi Perikanan Kamasan Biak Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58950/jpk.v6i2.115

Abstract

Transportasi sistem tertutup merupakan metode yang umum digunakan dalam distribusi benih ikan nila (Oreochromis niloticus), namun berpotensi menimbulkan stres akibat penurunan kualitas air, akumulasi metabolit, dan keterbatasan ruang gerak selama pengangkutan. Penggunaan sedatif alami menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi aktivitas metabolisme ikan dan meningkatkan kelangsungan hidup selama transportasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh berbagai dosis minyak serai (Cymbopogon sp.) terhadap kelangsungan hidup benih ikan nila pada transportasi sistem tertutup. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan empat perlakuan dosis minyak serai, yaitu 0,01; 0,02; 0,03; dan 0,05 mL/L, masing-masing dengan enam ulangan. Setiap unit percobaan menggunakan 100 ekor benih ikan nila berukuran 5–7 cm. Parameter yang diamati meliputi kelangsungan hidup, suhu, pH, dan oksigen terlarut. Data dianalisis menggunakan analisis sidik ragam yang dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis minyak serai berpengaruh sangat nyata terhadap kelangsungan hidup benih ikan nila. Kelangsungan hidup tertinggi diperoleh pada dosis 0,02 mL/L sebesar 98,3%, diikuti dosis 0,01 mL/L sebesar 96,5%, dosis 0,03 mL/L sebesar 92,3%, dan dosis 0,05 mL/L sebesar 90,5%. Selama transportasi, suhu berkisar 26,3–27,5 °C, pH 6,8–7,2, dan oksigen terlarut 5,2–6,8 mg/L yang masih mendukung kehidupan ikan. Dosis minyak serai 0,02 mL/L direkomendasikan sebagai dosis optimum untuk meningkatkan kelangsungan hidup benih ikan nila pada transportasi sistem tertutup.