Ceysea Febry Permata
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Dampak Kebijakan Tarif Resiprokal Amerika Serikat Era Trump Terhadap Perekonomian Indonesia Tahun 2025: Penelitian Ceysea Febry Permata; Hendra Riofita; Gunila Safira
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 4 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 4 April - Juni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i4.6667

Abstract

Rencana kebijakan tarif resiprokal yang diumumkan oleh pemerintahan Donald Trump pada April 2025, dengan usulan pengenaan tarif sebesar 32% terhadap produk ekspor Indonesia, berpotensi menciptakan guncangan eksternal terhadap perekonomian nasional. Penelitian ini menganalisis dampak potensial kebijakan tersebut terhadap neraca perdagangan, respons investor, dan pendapatan nasional Indonesia menggunakan pendekatan kualitatif studi literatur. Metode yang digunakan adalah studi literatur kualitatif dengan pendekatan analisis isi terhadap 25 dokumen yang terdiri dari artikel jurnal, laporan lembaga internasional (World Bank, IMF, UNCTAD, ADB), dokumen kebijakan nasional (BKPM, BPS, Kemenkeu), dan pemberitaan media kredibel periode 2018-2025. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, kebijakan tarif Trump 32% berdampak negatif terhadap ekspor Indonesia dengan proyeksi penurunan volume ekspor 8-10% dan potensi penurunan PDB sebesar 0,3-0,5% jika tanpa mitigasi. Sektor paling terdampak adalah tekstil (penurunan pesanan 15%), furnitur (53% ekspor bergantung pada pasar AS), alas kaki, dan produk elektronik. Kedua, respons investor terhadap kebijakan ini terbagi menjadi tiga kelompok: 45% wait and see, 30% optimis, dan 25% pesimis. Sektor agribisnis dan logistik merespon positif, sementara sektor properti dan manufaktur padat karya cenderung wait and see karena kekhawatiran kenaikan suku bunga. Ketiga, pemerintah Indonesia merespons melalui empat strategi utama yaitu keterlibatan diplomatik (pengiriman delegasi ke Washington DC, kesepakatan negosiasi 60 hari), konsesi perdagangan (penurunan bea masuk produk AS dari 5-10% menjadi 0-5%, penurunan tarif elektronik menjadi 0,5%), reformasi regulasi (penyederhanaan perizinan melalui OSS-RBA, relaksasi PPh badan), serta strategi jangka panjang berupa diversifikasi pasar ekspor ke kawasan non-tradisional (Uni Eropa, Timur Tengah, Afrika, Asia Selatan), penguatan KEK, dan keanggotaan BRICS. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan Indonesia dalam menghadapi kebijakan tarif proteksionisme global sangat bergantung pada tata kelola fiskal yang baik, diversifikasi pasar ekspor, serta skema pembiayaan yang tidak mengganggu stabilitas makroekonomi.
Dampak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terhadap Pengangguran, Iklim Investasi, dan Pendapatan Nasional: Penelitian Ceysea Febry Permata; Hendra Riofita
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 5 Nomor 1 (Juli 2026 -
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v5i1.7388

Abstract

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan kebijakan unggulan pemerintahan Prabowo-Gibran 2024-2029 dengan anggaran Rp 71 triliun per tahun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara kualitatif dampak program MBG terhadap tiga variabel ekonomi makro yaitu pengangguran, iklim investasi, dan pendapatan nasional. Metode yang digunakan adalah studi literatur kualitatif dengan pendekatan analisis isi terhadap 25 dokumen yang terdiri dari artikel jurnal, laporan lembaga internasional (World Bank, IMF, ADB, ILO), dan dokumen kebijakan nasional periode 2015-2025. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, program MBG berpotensi menyerap 1,5 hingga 2,5 juta tenaga kerja baru melalui tiga jalur yaitu sektor pertanian (petani, peternak), sektor pengolahan dan distribusi (dapur sekolah, logistik), serta sektor jasa pendukung. Kedua, respons investor terhadap program MBG bersifat sektoral; investor di sektor agribisnis, pangan, dan logistik merespon positif, sementara investor di sektor properti dan manufaktur padat karya cenderung wait and see akibat potensi kenaikan suku bunga. Ketiga, program MBG berpotensi meningkatkan pendapatan nasional melalui jalur konsumsi, peningkatan produktivitas tenaga kerja jangka panjang, dan efek multiplier dari belanja pemerintah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan program MBG dalam mencapai ketiga dampak positif tersebut sangat bergantung pada tata kelola yang baik, keterlibatan UMKM dan petani lokal, serta skema pendanaan yang tidak mengganggu stabilitas fiskal.