The sustainability of traditional cultural industries is increasingly challenged by globalisation and market competition. Previous studies have examined Islamic branding, batik innovation, and culture-based creative economies; however, limited attention has been given to how Islamic symbolic heritage functions as a mechanism for cultural sustainability within religious branding practices. This study analyses how Javanese Islamic values are reinterpreted and integrated into the heritage branding practices of Demak Batik. A qualitative ethnographic approach was employed to examine cultural practices within the batik artisan community. Data were collected through participant observation, in-depth interviews with artisans, business operators, community leaders, and consumers, as well as analyses of visual documentation and promotional materials. The findings reveal that motifs of the Demak Grand Mosque and the Bledek Gate function not only as aesthetic elements but also as media for reinterpreting Javanese Islamic values, including itqan, tawazun, and spiritual awareness. These values shape a branding narrative that positions batik production as an ethical and religiously meaningful creative practice. This study demonstrates that Islamic heritage branding can support cultural sustainability by integrating religious symbolism, production ethics, and community identity within a value-based branding system. The findings situate Demak Batik within broader discussions of ethical branding and religion-based cultural economies while showing how local Islamic heritage can strengthen cultural identity and sustain creative industries. The study also highlights the need for comparative and mixed-methods research to examine the broader economic impact of religious branding across batik-producing regions. Keberlanjutan industri budaya tradisional semakin ditantang oleh globalisasi dan kompetisi pasar. Penelitian-penelitian sebelumnya telah mengkaji pelabelan merek Islam (Islamic branding), inovasi batik, dan ekonomi kreatif berbasis budaya; namun, perhatian yang diberikan pada bagaimana warisan simbolis Islam berfungsi sebagai mekanisme keberlanjutan budaya dalam praktik pelabelan merek berbasis agama masih terbatas. Penelitian ini menganalisis bagaimana nilai-nilai Islam Jawa diinterpretasikan kembali dan diintegrasikan ke dalam praktik pelabelan merek warisan budaya pada Batik Demak. Pendekatan etnografi kualitatif diterapkan untuk mengkaji praktik-praktik budaya di dalam komunitas pengrajin batik. Data dikumpulkan melalui observasi partisipan, wawancara mendalam dengan para pengrajin, pelaku usaha, tokoh masyarakat, dan konsumen, serta analisis dokumentasi visual dan materi promosi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa motif Masjid Agung Demak dan Pintu Bledek tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika, tetapi juga sebagai media untuk menginterpretasikan kembali nilai-nilai Islam Jawa, termasuk itqan, tawazun, dan kesadaran spiritual. Nilai-nilai ini membentuk narasi pelabelan merek yang memosisikan produksi batik sebagai sebuah praktik kreatif yang etis dan bermakna secara religius. Penelitian ini menunjukkan bahwa pelabelan merek warisan Islam dapat mendukung keberlanjutan budaya dengan mengintegrasikan simbolisme agama, etika produksi, dan identitas komunitas ke dalam sistem pelabelan merek berbasis nilai. Temuan ini menempatkan Batik Demak ke dalam diskusi yang lebih luas mengenai pelabelan merek yang etis (ethical branding) dan ekonomi budaya berbasis agama, sekaligus menunjukkan bagaimana warisan Islam lokal dapat memperkuat identitas budaya dan mempertahankan industri kreatif. Penelitian ini juga menyoroti perlunya penelitian komparatif dan metode campuran (mixed-methods) untuk mengkaji dampak ekonomi yang lebih luas dari pelabelan merek berbasis agama di berbagai wilayah penghasil batik.