Rugayyah Alyidrus
Universitas Megarezky makassar

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

DETEKSI INFEKSI STAPHYLOCOCCUS AUREUS MELALUI UJI MOLEKULER POLYMERASE CHAIN REACTION (PCR) SEBAGAI DASAR INTERVENSI KEPERAWATAN DALAM PENCEGAHAN SEPSIS PADA LUKA ULKUS DIABETIK: Detection of S. Aureus Infection Through Molecular PCR Test as a Basis for Nursing Intervention in Preventing Sepsis in Diabetic Ulcer Wounds. Nur Laela Alydrus; anugerah hardianti; Andi Aridhasari Sudirman; Andi Sudirman; Ka'bah; Rugayyah Alyidrus
Media Keperawatan: Politeknik Kesehatan Makassar Vol 17 No 01 (2026): Media Keperawatan: Politeknik Kesehatan Makassar
Publisher : Jurusan Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/jmk.v17i01.2258

Abstract

Latar Belakang: Ulkus kaki diabetik merupakan komplikasi serius diabetes mellitus yang memiliki risiko tinggi mengalami infeksi dan berkembang menjadi sepsis. Identifikasi dini bakteri patogen, khususnya Staphylococcus aureus, sangat penting untuk mendukung intervensi keperawatan yang tepat waktu dan mencegah komplikasi sistemik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis deteksi Staphylococcus aureus melalui Polymerase Chain Reaction sebagai dasar intervensi keperawatan dalam pencegahan sepsis pada ulkus kaki diabetik. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif observasional dengan melibatkan 16 pasien ulkus kaki diabetik. Pengumpulan data dilakukan melalui pengkajian klinis dan pemeriksaan molekuler menggunakan Polymerase Chain Reaction untuk mendeteksi Staphylococcus aureus. Variabel yang diamati meliputi karakteristik pasien, kondisi luka, lama menderita ulkus, serta hasil Polymerase Chain Reaction. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien berjenis kelamin perempuan (69%) dan berusia 55–64 tahun (50%). Sebagian besar mengalami ulkus kronik dengan lama luka lebih dari satu bulan (69%). Kondisi luka bervariasi, dengan ulkus basah dan jaringan merah masing-masing sebesar 44%, serta luka bernanah sebesar 12%. Hasil Polymerase Chain Reaction menunjukkan bahwa hanya 6% pasien yang positif Staphylococcus aureus. Kasus positif ditemukan pada luka bernanah yang menunjukkan infeksi aktif. Meskipun prevalensi Staphylococcus aureus rendah, keberadaan luka kronik dan tanda infeksi klinis menunjukkan risiko tinggi terjadinya infeksi sistemik dan sepsis. Temuan ini menegaskan pentingnya integrasi deteksi molekuler dengan pengkajian klinis dalam praktik keperawatan. Kesimpulan: Polymerase Chain Reaction memiliki peran penting dalam deteksi dini Staphylococcus aureus dan mendukung intervensi keperawatan berbasis bukti dalam pencegahan sepsis pada ulkus kaki diabetik. Integrasi diagnostik molekuler cepat dengan pemantauan klinis diperlukan untuk meningkatkan luaran pasien dan menurunkan risiko komplikasi berat. Kata Kunci: ulkus kaki diabetik; Staphylococcus aureus; Polymerase Chain Reaction; pencegahan sepsis; intervensi keperawatan; luka kronik
IMPLIKASI TEMUAN TOXOPLASMA GONDII PADA PEMELIHARA KUCING LOKAL TERHADAP PERAN PERAWAT DALAM PENCEGAHAN ZOONOSIS DI MASYARAKAT: Implications of Toxoplasma gondii Findings Among Local Cat Owners for the Role of Nurses in Community Zoonosis Prevention Nur Laela Alyidrus; Andi Aridhasari Sudirman; Andi Sudirman; Rugayyah Alyidrus; Ambo Dalle
Media Keperawatan: Politeknik Kesehatan Makassar Vol 16 No 2 (2025): Media Keperawatan: Politeknik Kesehatan Makassar
Publisher : Jurusan Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/jmk.v16i2.1760

Abstract

ABSTRACT Background: Toxoplasmosis is a zoonotic disease caused by Toxoplasma gondii, with cats (Felis catus) serving as the definitive host. The parasite spreads through millions of oocysts shed in feline feces, which can survive in the environment for weeks. In Indonesia, the prevalence of toxoplasmosis remains high, especially in Makassar, where human seropositivity reaches 60%. Despite this, awareness of toxoplasmosis remains low, even though the infection can cause serious complications such as congenital toxoplasmosis, miscarriage, and encephalitis. Methods: This study used a descriptive observational design with secondary data from PCR testing for Toxoplasma gondii in blood samples of local cat owners in Antang Raya, Makassar. Characteristics assessed included age, gender, number of cats owned, duration of ownership, and hygiene practices. Results: The findings showed that 38.5% of respondents tested positive for Toxoplasma gondii, with the highest exposure occurring in the productive age group (16–30 years). The study also found that infection occurred regardless of routine hygiene practices, highlighting that animal hygiene alone is insufficient to prevent transmission. Conclusion:These results emphasize the strategic role of nurses in zoonotic disease prevention, particularly through community-based health education, early detection, environmental sanitation promotion, and reproductive health advocacy. Strengthening the role of nurses in preventive efforts is essential to reduce the risk of toxoplasmosis transmission and its impact on public health, especially among women of reproductive age. Keywords: Toxoplasma gondii, zoonosis, cat owners, nursing, prevention  ABSTRAK Latar Belakang: Toxoplasmosis merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan oleh parasit Toxoplasma gondii dan sering kali tidak disadari masyarakat karena gejalanya bersifat asimptomatik. Kucing lokal (Felis catus) sebagai hospes definitif memiliki peran besar dalam penyebaran ookista yang dapat mencemari lingkungan. Prevalensi toxoplasmosis di Indonesia tergolong tinggi, termasuk di Makassar yang mencapai 60%. Infeksi ini berpotensi berdampak serius terhadap kesehatan reproduksi, kehamilan, serta meningkatkan risiko gangguan sistem saraf, sehingga diperlukan upaya pencegahan berbasis keperawatan komunitas. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif observasional berdasarkan data sekunder hasil deteksi Toxoplasma gondii menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) pada darah pemelihara kucing lokal di Kecamatan Manggala, Makassar. Karakteristik responden meliputi usia, jenis kelamin, jumlah dan lama memelihara kucing, serta kebiasaan perawatan hewan. Hasil: Sebanyak 38,5% responden terdeteksi positif Toxoplasma gondii, dengan kelompok usia produktif (16–30 tahun) menunjukkan proporsi paparan tertinggi. Ditemukan bahwa infeksi tetap terjadi meskipun sebagian partisipan rutin menjaga kebersihan hewan, yang menunjukkan perlunya upaya pencegahan lebih menyeluruh. Kesimpulan: Tingginya angka infeksi Toxoplasma gondii pada pemelihara kucing lokal menunjukkan pentingnya intervensi pencegahan berbasis keperawatan. Perawat berperan strategis sebagai penyuluh kesehatan, fasilitator deteksi dini, promotor sanitasi lingkungan, dan advokat kesehatan reproduksi guna menekan penyebaran zoonosis di masyarakat. Kata kunci: Toxoplasma gondii, zoonosis, pemelihara kucing, peran perawat, pencegahan