Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

The Effect of Animated Video Learning on ESI Triage Knowledge and Student Satisfaction of Nursing Polytechnic Health Ministry of Health Makassar Andi Aridhasari Sudirman; Kumboyono Kumboyono; Suryanto Suryanto
Jurnal Health Sains Vol. 5 No. 6 (2024): Journal Health Sains
Publisher : Syntax Corporation Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/jhs.v5i6.1292

Abstract

Triage at the hospital's Emergency Room (ER) is critical for prioritizing the care of emergency patients. Triage errors can be dangerous and endanger patient safety, so nursing students should have a solid understanding of triage. This study investigates the impact of ESI triage learning media containing PowerPoint and animated films on knowledge, triage decision-making (TDM), and participant satisfaction. The research used a quantitative approach with a Quasi-Experimental pretest-posttest method involving 36 5th semester Diploma Nursing students at the Makassar Ministry of Health Polytechnic. The study was divided into two groups, experimental (animated video learning) and control (PowerPoint learning), to evaluate the effect of treatment on knowledge, triage decision-making, and student satisfaction in ESI triage learning. The results of the data analysis show a significant increase in knowledge about ESI Triage and student satisfaction after the intervention, with significant values ​​of 0.001 and 0.018, respectively (p-value < 0.05). Although there was no significant increase in Triage decision-making abilities between the groups that used animated videos and Microsoft PowerPoint (p = 0.440), the use of animated videos overall increased student responses and satisfaction. MANOVA analysis confirmed that the implementation of animated videos significantly influenced knowledge and satisfaction in students with a p-value <0.05. The use of animated videos increases student knowledge and satisfaction significantly compared to PowerPoint, although it does not affect triage decision-making.
Pendidikan Kesehatan Manajemen Nyeri Sebagai Upaya Terapi Non Farmakologi pada Pasien dan Keluarga di Rumah Sakit Pelamonia Makassar Sudirman, Andi Aridhasari; Rahmawati; Hasanuddin, Fitria
Omni Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2025): Maret
Publisher : Bantayang Omni Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65277/opm.v2i1.63

Abstract

Nyeri merupakan pengalaman subjektif yang bersifat sensoris dan emosional yang dapat memengaruhi kenyamanan serta proses penyembuhan pasien. Apabila tidak ditangani sejak awal, nyeri dapat berkembang menjadi krisis nyeri yang memicu ketidakstabilan hemodinamika. Banyak pasien dan keluarga belum memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai dalam melakukan manajemen nyeri secara mandiri. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pasien dan keluarga dalam manajemen nyeri non-farmakologis. Metode yang digunakan adalah ceramah edukatif mengenai jenis dan pengkajian nyeri serta manajemen nyeri non-farmakologis, dilanjutkan dengan diskusi kelompok dan demonstrasi teknik seperti kompres, reposisi tubuh, dan latihan pernapasan. Sebanyak 33 peserta terdiri dari 12 pasien, 15 pendamping, dan 6 pengunjung mengikuti kegiatan ini. Evaluasi dilakukan dengan desain pretest-posttest satu kelompok menggunakan kuesioner 10 item dan daftar periksa keterampilan. Hasil uji t berpasangan menunjukkan peningkatan skor pengetahuan dari 52% menjadi 91% (p < 0.001) dan keterampilan manajemen nyeri dari 47% menjadi 89% (p < 0.001). Edukasi terstruktur secara signifikan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam mengelola nyeri. Program serupa direkomendasikan untuk diterapkan secara rutin di lingkungan klinis maupun komunitas.
DETEKSI INFEKSI STAPHYLOCOCCUS AUREUS MELALUI UJI MOLEKULER POLYMERASE CHAIN REACTION (PCR) SEBAGAI DASAR INTERVENSI KEPERAWATAN DALAM PENCEGAHAN SEPSIS PADA LUKA ULKUS DIABETIK: Detection of S. Aureus Infection Through Molecular PCR Test as a Basis for Nursing Intervention in Preventing Sepsis in Diabetic Ulcer Wounds. Nur Laela Alydrus; anugerah hardianti; Andi Aridhasari Sudirman; Andi Sudirman; Ka&#039;bah; Rugayyah Alyidrus
Media Keperawatan: Politeknik Kesehatan Makassar Vol 17 No 01 (2026): Media Keperawatan: Politeknik Kesehatan Makassar
Publisher : Jurusan Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/jmk.v17i01.2258

Abstract

Latar Belakang: Ulkus kaki diabetik merupakan komplikasi serius diabetes mellitus yang memiliki risiko tinggi mengalami infeksi dan berkembang menjadi sepsis. Identifikasi dini bakteri patogen, khususnya Staphylococcus aureus, sangat penting untuk mendukung intervensi keperawatan yang tepat waktu dan mencegah komplikasi sistemik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis deteksi Staphylococcus aureus melalui Polymerase Chain Reaction sebagai dasar intervensi keperawatan dalam pencegahan sepsis pada ulkus kaki diabetik. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif observasional dengan melibatkan 16 pasien ulkus kaki diabetik. Pengumpulan data dilakukan melalui pengkajian klinis dan pemeriksaan molekuler menggunakan Polymerase Chain Reaction untuk mendeteksi Staphylococcus aureus. Variabel yang diamati meliputi karakteristik pasien, kondisi luka, lama menderita ulkus, serta hasil Polymerase Chain Reaction. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien berjenis kelamin perempuan (69%) dan berusia 55–64 tahun (50%). Sebagian besar mengalami ulkus kronik dengan lama luka lebih dari satu bulan (69%). Kondisi luka bervariasi, dengan ulkus basah dan jaringan merah masing-masing sebesar 44%, serta luka bernanah sebesar 12%. Hasil Polymerase Chain Reaction menunjukkan bahwa hanya 6% pasien yang positif Staphylococcus aureus. Kasus positif ditemukan pada luka bernanah yang menunjukkan infeksi aktif. Meskipun prevalensi Staphylococcus aureus rendah, keberadaan luka kronik dan tanda infeksi klinis menunjukkan risiko tinggi terjadinya infeksi sistemik dan sepsis. Temuan ini menegaskan pentingnya integrasi deteksi molekuler dengan pengkajian klinis dalam praktik keperawatan. Kesimpulan: Polymerase Chain Reaction memiliki peran penting dalam deteksi dini Staphylococcus aureus dan mendukung intervensi keperawatan berbasis bukti dalam pencegahan sepsis pada ulkus kaki diabetik. Integrasi diagnostik molekuler cepat dengan pemantauan klinis diperlukan untuk meningkatkan luaran pasien dan menurunkan risiko komplikasi berat. Kata Kunci: ulkus kaki diabetik; Staphylococcus aureus; Polymerase Chain Reaction; pencegahan sepsis; intervensi keperawatan; luka kronik
APLIKASI FORM IMAI-QUICK CHECK TRIAGE DALAM PELAKSANAAN TRIASE DI IGD PUSKESMAS DAMPANG KABUPATEN BANTAENG: IMAI-Quick Check Triage form application in dampang emergency, bantaeng regency Andi Aridhasari Sudirman; Riski Muhammad Akbar Kaharuddin; Andi Sudirman; Agusti Fauziah; Firda Dwi Anugrah
Media Keperawatan: Politeknik Kesehatan Makassar Vol 16 No 1 (2025): Media Keperawatan: Politeknik Kesehatan Makassar
Publisher : Jurusan Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Triage adalah proses penting dalam pelayanan gawat darurat untuk mengkategorikan pasien berdasarkan tingkat kegawatannya. Puskesmas Dampang, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, menghadapi tantangan dalam dokumentasi triage akibat ketiadaan formulir standar. Penerapan sistem triage berbasis bukti dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelayanan gawat darurat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas penggunaan formulir IMAI-Quick Check Triage dalam meningkatkan kualitas dokumentasi triage oleh perawat di Instalasi Gawat Darurat. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam yang dilakukan terhadap lima perawat yang bekerja di Instalasi Gawat Darurat. Analisis tematik digunakan untuk mengeksplorasi kepuasan perawat, hambatan, dan harapan terkait implementasi formulir IMAI-Quick Check Triage. Penelitian ini juga mengevaluasi aspek efisiensi, akurasi dokumentasi, serta dampaknya terhadap alur perawatan pasien. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan formulir IMAI-Quick Check Triage mempermudah dokumentasi triage dan meningkatkan konsistensi dalam menilai kondisi pasien. Perawat melaporkan bahwa formulir ini membantu mereka dalam mengidentifikasi pasien gawat darurat dengan lebih cepat dan akurat. Namun, terdapat beberapa hambatan, seperti keterbatasan pemahaman perawat tentang triage dan kekurangan tenaga kesehatan. Peserta penelitian juga mengungkapkan perlunya pelatihan lebih lanjut untuk meningkatkan kompetensi mereka dalam menggunakan formulir ini. Kesimpulan: Implementasi formulir IMAI-Quick Check Triage terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas dokumentasi triage dan efisiensi pelayanan. Namun, diperlukan pelatihan tambahan dan penambahan tenaga kesehatan untuk mengoptimalkan penerapannya. Kata kunci: Dokumentasi, Instalasi Gawat Darurat, Puskesmas, IMAI-Quick Check Triage, Triage
ANALISIS PERBEDAAN KEPUASAN MAHASISWA MENGGUNAKAN MEDIA VIDEO ANIMASI DALAM PEMBELAJARAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT: Comparison of Student Satisfaction Using Animated Video Media in Emergency Nursing Learning Andi Sudirman; Andi Aridhasari Sudirman; Nasrullah; Sukma Saini; Firda Dwi Anugrah; Agusti Fauziah
Media Keperawatan: Politeknik Kesehatan Makassar Vol 16 No 2 (2025): Media Keperawatan: Politeknik Kesehatan Makassar
Publisher : Jurusan Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/jmk.v16i2.1716

Abstract

ABSTRACT Background: Nursing triage education in Indonesia still faces challenges, particularly related to students’ knowledge and satisfaction with the learning process. Less effective learning media, such as PowerPoint, which tends to be static, may affect student engagement and learning outcomes. An innovative alternative is the use of animated video, which provides a more visual, interactive, and engaging learning experience. This study aimed to compare the effectiveness of PowerPoint and animated video on students’ satisfaction in triage nursing education. Methods: This study employed a quasi-experimental design with a pretest-posttest control group approach. The subjects were 36 fifth-semester students of the Diploma in Nursing Program at Poltekkes Kemenkes Makassar, divided into two groups: 18 students in the control group (PowerPoint) and 18 students in the experimental group (animated video). Data were collected using a satisfaction questionnaire before and after the intervention, and analyzed using paired sample t-test and independent sample t-test with a significance level of α = 0.05. Results: The findings showed that student satisfaction in the PowerPoint group increased from a mean of 71.06 ± 4.24 to 71.28 ± 4.32 (p = 0.042). In the animated video group, a greater increase was observed from 71.94 ± 6.88 to 79.38 ± 7.91 (p = 0.018). The comparison of mean differences between groups indicated a significant difference, with the PowerPoint group increasing by only 0.22 ± 0.43, while the animated video group increased by 8.33 ± 7.79 (p = 0.000). Conclusion: Animated video is more effective than PowerPoint in enhancing students’ satisfaction with triage nursing education. It is recommended that nursing education institutions integrate animated videos as innovative learning media to create a more interactive, engaging, and effective learning process. Keywords: Triage Animated video; PowerPoint; Student satisfaction; Emergency nursing education ABSTRAK Pendahuluan: Pendidikan triase keperawatan di Indonesia masih menghadapi tantangan, terutama terkait pengetahuan dan kepuasan mahasiswa terhadap proses pembelajaran. Media pembelajaran yang kurang efektif, seperti PowerPoint yang cenderung statis, dapat memengaruhi keterlibatan mahasiswa dan hasil belajar. Salah satu alternatif inovatif adalah penggunaan video animasi yang menawarkan pengalaman belajar lebih visual, interaktif, dan menarik. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas media PowerPoint dan video animasi terhadap kepuasan mahasiswa dalam pembelajaran triase keperawatan. Metode: Penelitian menggunakan desain quasi-eksperimen dengan pendekatan pretest-posttest with control group. Subjek penelitian adalah 36 mahasiswa semester 5 Program Studi D3 Keperawatan Poltekkes Kemenkes Makassar, yang dibagi menjadi dua kelompok: 18 mahasiswa kelompok kontrol (PowerPoint) dan 18 mahasiswa kelompok eksperimen (video animasi). Data dikumpulkan melalui kuesioner kepuasan sebelum dan sesudah intervensi, kemudian dianalisis menggunakan paired sample t-test dan independent sample t-test dengan taraf signifikansi α = 0,05. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa kepuasan mahasiswa pada kelompok PowerPoint meningkat dari rata-rata 71,06 ± 4,24 menjadi 71,28 ± 4,32 (p = 0,042). Pada kelompok video animasi, peningkatan lebih besar terjadi dari 71,94 ± 6,88 menjadi 79,38 ± 7,91 (p = 0,018). Perbandingan selisih rata-rata kepuasan antar kelompok menunjukkan perbedaan signifikan, di mana kelompok PowerPoint hanya meningkat 0,22 ± 0,43, sedangkan video animasi meningkat 8,33 ± 7,79 (p = 0,000). Kesimpulan: video animasi lebih efektif dibandingkan PowerPoint dalam meningkatkan kepuasan mahasiswa terhadap pembelajaran triase keperawatan. Disarankan agar institusi pendidikan keperawatan mengintegrasikan video animasi sebagai media pembelajaran inovatif untuk menciptakan proses belajar yang lebih interaktif, menarik, dan efektif. Kata kunci : Video animasi; PowerPoint; Kepuasan Mahasiswa; Pembelajaran keperawatan gawat darurat
IMPLIKASI TEMUAN TOXOPLASMA GONDII PADA PEMELIHARA KUCING LOKAL TERHADAP PERAN PERAWAT DALAM PENCEGAHAN ZOONOSIS DI MASYARAKAT: Implications of Toxoplasma gondii Findings Among Local Cat Owners for the Role of Nurses in Community Zoonosis Prevention Nur Laela Alyidrus; Andi Aridhasari Sudirman; Andi Sudirman; Rugayyah Alyidrus; Ambo Dalle
Media Keperawatan: Politeknik Kesehatan Makassar Vol 16 No 2 (2025): Media Keperawatan: Politeknik Kesehatan Makassar
Publisher : Jurusan Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/jmk.v16i2.1760

Abstract

ABSTRACT Background: Toxoplasmosis is a zoonotic disease caused by Toxoplasma gondii, with cats (Felis catus) serving as the definitive host. The parasite spreads through millions of oocysts shed in feline feces, which can survive in the environment for weeks. In Indonesia, the prevalence of toxoplasmosis remains high, especially in Makassar, where human seropositivity reaches 60%. Despite this, awareness of toxoplasmosis remains low, even though the infection can cause serious complications such as congenital toxoplasmosis, miscarriage, and encephalitis. Methods: This study used a descriptive observational design with secondary data from PCR testing for Toxoplasma gondii in blood samples of local cat owners in Antang Raya, Makassar. Characteristics assessed included age, gender, number of cats owned, duration of ownership, and hygiene practices. Results: The findings showed that 38.5% of respondents tested positive for Toxoplasma gondii, with the highest exposure occurring in the productive age group (16–30 years). The study also found that infection occurred regardless of routine hygiene practices, highlighting that animal hygiene alone is insufficient to prevent transmission. Conclusion:These results emphasize the strategic role of nurses in zoonotic disease prevention, particularly through community-based health education, early detection, environmental sanitation promotion, and reproductive health advocacy. Strengthening the role of nurses in preventive efforts is essential to reduce the risk of toxoplasmosis transmission and its impact on public health, especially among women of reproductive age. Keywords: Toxoplasma gondii, zoonosis, cat owners, nursing, prevention  ABSTRAK Latar Belakang: Toxoplasmosis merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan oleh parasit Toxoplasma gondii dan sering kali tidak disadari masyarakat karena gejalanya bersifat asimptomatik. Kucing lokal (Felis catus) sebagai hospes definitif memiliki peran besar dalam penyebaran ookista yang dapat mencemari lingkungan. Prevalensi toxoplasmosis di Indonesia tergolong tinggi, termasuk di Makassar yang mencapai 60%. Infeksi ini berpotensi berdampak serius terhadap kesehatan reproduksi, kehamilan, serta meningkatkan risiko gangguan sistem saraf, sehingga diperlukan upaya pencegahan berbasis keperawatan komunitas. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif observasional berdasarkan data sekunder hasil deteksi Toxoplasma gondii menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) pada darah pemelihara kucing lokal di Kecamatan Manggala, Makassar. Karakteristik responden meliputi usia, jenis kelamin, jumlah dan lama memelihara kucing, serta kebiasaan perawatan hewan. Hasil: Sebanyak 38,5% responden terdeteksi positif Toxoplasma gondii, dengan kelompok usia produktif (16–30 tahun) menunjukkan proporsi paparan tertinggi. Ditemukan bahwa infeksi tetap terjadi meskipun sebagian partisipan rutin menjaga kebersihan hewan, yang menunjukkan perlunya upaya pencegahan lebih menyeluruh. Kesimpulan: Tingginya angka infeksi Toxoplasma gondii pada pemelihara kucing lokal menunjukkan pentingnya intervensi pencegahan berbasis keperawatan. Perawat berperan strategis sebagai penyuluh kesehatan, fasilitator deteksi dini, promotor sanitasi lingkungan, dan advokat kesehatan reproduksi guna menekan penyebaran zoonosis di masyarakat. Kata kunci: Toxoplasma gondii, zoonosis, pemelihara kucing, peran perawat, pencegahan