Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Anti-Inflammatory Gel Preparation From Srikaya Leaf Extract (Annona Squamosa L.) In Male White Rats (Rattus Norvegicus) Rugayyah Alyidrus; Reky Abbas; Nurfitria Junita; Ummu Kalsum T; Nur Laela Alydrus
Journal of Social Research Vol. 4 No. 7 (2025): Journal of Social Research
Publisher : International Journal Labs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55324/josr.v4i7.2650

Abstract

Soursop leaves (Annona squamosa L.) contain flavonoids whice work by inhibiting the cyclooxygenase enzyme whice occurs in inflammation, an anti-inflammatory drug agent whice works against the process of inflammation or onflammation, the body’s response to tissue damage caused by physical trauma, chemical substances and microbiology which can be characterized by redness, heat, pain, swelling. This study was conducted to determine whether the ethanol extract of soursop leaves (Annona squamosa L.) can be used as a gel preparation that is stable against chemical physics and to determine whether the gel preparation can provide anti inflammatory effects on male white rat (Rattus norvegicus). The method used in this study was a laboratory experiment, with soursop leaves extracted in the maseration method using 96% ethanol solvent, then formulated in a gel preparation with a concentration of 5 %, 6 %, 7 % follewed by evaluation of the organoleptic test preparation, pH, spreadability, viscosity or cycling test and anti inflammatory test using yhe 1 % carrageenan induction method using 15 rats. The results of the anti inflammatory test, the soursop leaf extract gela preparation in male white rats met teha stability of the gel preparation and the anti inflammatory test obtained a significant value (p>0.05) where at a concentration of 5 % it already had an anti inflammatory effect. Ethanol extract of soursop leaves can be made into a gel preparation that is physically and chemically stable and can provide anti inflamatory effectiveness in male shite mice.
DETEKSI INFEKSI STAPHYLOCOCCUS AUREUS MELALUI UJI MOLEKULER POLYMERASE CHAIN REACTION (PCR) SEBAGAI DASAR INTERVENSI KEPERAWATAN DALAM PENCEGAHAN SEPSIS PADA LUKA ULKUS DIABETIK: Detection of S. Aureus Infection Through Molecular PCR Test as a Basis for Nursing Intervention in Preventing Sepsis in Diabetic Ulcer Wounds. Nur Laela Alydrus; anugerah hardianti; Andi Aridhasari Sudirman; Andi Sudirman; Ka'bah; Rugayyah Alyidrus
Media Keperawatan: Politeknik Kesehatan Makassar Vol 17 No 01 (2026): Media Keperawatan: Politeknik Kesehatan Makassar
Publisher : Jurusan Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/jmk.v17i01.2258

Abstract

Latar Belakang: Ulkus kaki diabetik merupakan komplikasi serius diabetes mellitus yang memiliki risiko tinggi mengalami infeksi dan berkembang menjadi sepsis. Identifikasi dini bakteri patogen, khususnya Staphylococcus aureus, sangat penting untuk mendukung intervensi keperawatan yang tepat waktu dan mencegah komplikasi sistemik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis deteksi Staphylococcus aureus melalui Polymerase Chain Reaction sebagai dasar intervensi keperawatan dalam pencegahan sepsis pada ulkus kaki diabetik. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif observasional dengan melibatkan 16 pasien ulkus kaki diabetik. Pengumpulan data dilakukan melalui pengkajian klinis dan pemeriksaan molekuler menggunakan Polymerase Chain Reaction untuk mendeteksi Staphylococcus aureus. Variabel yang diamati meliputi karakteristik pasien, kondisi luka, lama menderita ulkus, serta hasil Polymerase Chain Reaction. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien berjenis kelamin perempuan (69%) dan berusia 55–64 tahun (50%). Sebagian besar mengalami ulkus kronik dengan lama luka lebih dari satu bulan (69%). Kondisi luka bervariasi, dengan ulkus basah dan jaringan merah masing-masing sebesar 44%, serta luka bernanah sebesar 12%. Hasil Polymerase Chain Reaction menunjukkan bahwa hanya 6% pasien yang positif Staphylococcus aureus. Kasus positif ditemukan pada luka bernanah yang menunjukkan infeksi aktif. Meskipun prevalensi Staphylococcus aureus rendah, keberadaan luka kronik dan tanda infeksi klinis menunjukkan risiko tinggi terjadinya infeksi sistemik dan sepsis. Temuan ini menegaskan pentingnya integrasi deteksi molekuler dengan pengkajian klinis dalam praktik keperawatan. Kesimpulan: Polymerase Chain Reaction memiliki peran penting dalam deteksi dini Staphylococcus aureus dan mendukung intervensi keperawatan berbasis bukti dalam pencegahan sepsis pada ulkus kaki diabetik. Integrasi diagnostik molekuler cepat dengan pemantauan klinis diperlukan untuk meningkatkan luaran pasien dan menurunkan risiko komplikasi berat. Kata Kunci: ulkus kaki diabetik; Staphylococcus aureus; Polymerase Chain Reaction; pencegahan sepsis; intervensi keperawatan; luka kronik