Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

POLA PERILAKU DAN PEMETAAN AKTIVITAS PENGUNJUNG MUSEUM SONOBUDOYO YOGYAKARTA Fariz Nizar; Naufal Kresna Diwangkara
Vastutara : Arsitektur, Digital, Sejarah, Struktur dan Lingkungan Vol. 1 No. 1 (2025): VASTUTARA
Publisher : Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/8ydmnh45

Abstract

The Sonobudoyo Museum was previously a foundation in the field of Javanese, Balinese, Lombok and Madurese culture which was founded in 1919 in Surakarta as the Java Instituut, then this museum changed its name to the Sonobudoyo Museum which was inaugurated by Sri Sultan Hamengkubuwana VIII. In this research, the researcher was interested in observing the Sonobudyo museum. Here the researcher conducted research on behavior patterns and activity mapping or often called Behavior Mapping at the Sonobudoyo museum. Here researchers look at the movement of visitors in the museum area in order to find out the locations and spots frequently visited (Centers of Attention) by local and foreign tourists. This research aims to look for Points of Interest in the layout and layout of the Sonobudoyo building. This research uses qualitative research methods by making observations by observing in the field and seeing the movements of visitors directly. The researcher observes the direct movements of visitors by taking notes and taking photos in the field. The results of this research are personal space, territory, privacy and spatial settings in the museum, which can be seen from the movement and accessibility in the Sonobudoyo museum.
OPTIMALISASI DESAIN PASAR TRADISIONAL: STUDI KASUS PERMASALAHAN SIRKULASI PENGGUNA PASAR SEGAMAS PURBALINGGA Naufal Kresna Diwangkara; Fahrul Al Rasyid; Gunawan Surya Damara; Nova Setyaningsih; Rizqi Ariestya Martiano; Tirta Yoga Saputra
Vastutara : Arsitektur, Digital, Sejarah, Struktur dan Lingkungan Vol. 1 No. 2 (2025): VASTUTARA
Publisher : Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/vastutara.v1i2.13920

Abstract

This study investigates the main issues faced by the Segamas Traditional Market in Purbalingga. This research focuses on visitor circulation and the layout of trading zones that do not meet the standards of a traditional market. Data were obtained through field observations, interviews, and documentation using a qualitative descriptive approach based on case studies. The research results show that narrow circulation paths, unorganized vendor zoning, and a lack of supporting facilities hinder economic activities and visitor comfort. The spatial design approach offered by the researchers includes dividing the market into three main categories: dry zone, semi-dry zone, and wet zone, based on the nature of the commodities. Additionally, technical recommendations are formulated by considering SNI standards and national regulations regarding traditional markets. The redesign of the market block is carried out to improve space efficiency, make the buildings more viable, and enhance the market's function as a sustainable local economic center. This research contributes to the discussion on the revitalization of traditional markets, relying on adaptive public policies and participatory spatial planning principles.
TAMAN TESDA PURWOKERTO SEBAGAI PEMANFAAATAN BAWAH JEMBATAN MENJADI RUANG PUBLIK EDUKATIF Artanti Kusuma Ayu; Naufal Kresna Diwangkara
Vastutara : Arsitektur, Digital, Sejarah, Struktur dan Lingkungan Vol. 2 No. 1 (2026): VASTUTARA
Publisher : Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/h6rmwm56

Abstract

Artikel ini mengkaji transformasi ruang bawah jembatan menjadi ruang publik edukatif melalui studi kasus Taman TESDA Purwokerto. Kajian berangkat dari kecenderungan ruang bawah jembatan menjadi ruang sisa kota yang memiliki akses tidak jelas, pencahayaan terbatas, orientasi visual lemah, dan fungsi publik yang ambigu. Berbeda dari studi persepsi pengguna, penelitian ini menggunakan pendekatan arsitektural deskriptif-evaluatif yang menempatkan bukti fisik-spasial sebagai dasar analisis. Data dikumpulkan melalui observasi ruang, dokumentasi visual, pemetaan sederhana, studi dokumen, dan analisis konten media edukasi. Analisis difokuskan pada tiga persoalan, yaitu karakter fisik-spasial ruang bawah jembatan, kontribusi elemen arsitektur dan lanskap terhadap kualitas ruang publik edukatif, serta rekomendasi desain untuk memperkuat edukasi sumber daya air. Artikel ini menunjukkan bahwa Taman TESDA dapat dibaca sebagai model lokal transformasi ruang sisa infrastruktur menjadi lanskap publik bernilai ekologis dan edukatif. Optimalisasi taman bergantung pada keterbacaan akses, kesinambungan sirkulasi, keamanan pasif, pencahayaan, vegetasi, signage interpretatif, serta integrasi dengan lanskap sungai.
Revitalisasi Elemen Fisik Kawasan Melalui Redesain Gate, Jalur Pedestrian dan Street Furniture di Kampung Kauman Heritage Banyumas Setiawan Dudi Prasetio; Iola Abi Gail; Erik Wahyu Palguna; Naufal Kresna Diwangkara
Babakti: Journal of Community Engangement Vol 3 No 2 (2026): Oktober
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Singaperbangsa Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35706/babakti.v3i2.13222

Abstract

Kampoeng Kauman Heritage di Desa Sudagaran, Banyumas, merupakan desa wisata rintisan yang kaya akan potensi sejarah dan budaya, namun beberapa elemen infrastruktur pendukungnya belum optimal dalam merepresentasikan identitas kawasan. Tantangan utamanya adalah desain dua gerbang penanda yaitu Gate utama dan Gate Kepatihan yang sudah ada namun belum selaras dengan citra Heritage yang diusung. Selain itu, kondisi jalur Pedestrian yang belum tertata dan minimnya Street Furniture juga mengurangi kualitas pengalaman wisata. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk melakukan redesain Gate utama dan Gate Kepatihan, serta merancang jalur Pedestrian yang terintegrasi dengan Street Furniture untuk memperkuat identitas visual serta meningkatkan kenyamanan dan keamanan. Metode pelaksanaan meliputi survei kondisi eksisting, analisis kebutuhan, perancangan konsep, serta diskusi partisipatif dengan masyarakat. Hasil kegiatan ini adalah tiga konsep perancangan utama: (1) Redesain Gate Utama sebagai ikon kawasan; (2) Redesain Gate Kepatihan sebagai penanda zona historis; serta (3) Desain terintegrasi Jalur Pedestrian dan Street Furniture yang fungsional dan estetis. Konsep perancangan tersebut menghasilkan arahan desain yang dapat digunakan sebagai acuan dalam pengembangan kawasan Kampoeng Kauman Heritage. Oleh karena itu, pemerintah desa dan pengelola kawasan direkomendasikan untuk mengimplementasikan desain secara bertahap melalui kolaborasi dengan pemangku kepentingan terkait guna memperkuat identitas visual kawasan, meningkatkan kualitas pengalaman wisata, serta mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan berbasis kearifan lokal.
PERAN PEMERINTAH DALAM MITIGASI KARHUTLA SEBAGAI UPAYA STRATEGI BERKELANJUTAN DALAM KRISIS LINGKUNGAN Naufal Kresna Diwangkara
Merdeka Indonesia Jurnal International Vol 6 No 7 (2026): MIJI : Merdeka Indonesia Journal International
Publisher : Merdeka Indonesia Jurnal International

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69796/miji.v6i7.701

Abstract

Kebakaran hutan di Indonesia telah menjadi salah satu penyebab utama krisis iklim, membawa dampak besar terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat, dan ekonomi. Pemerintah berupaya mengatasi masalah ini melalui berbagai kebijakan mitigasi, seperti moratorium pembukaan lahan baru, restorasi gambut, dan penegakan hukum yang lebih tegas. Langkah-langkah ini didukung oleh teknologi pemantauan dan program pemberdayaan masyarakat. Namun, implementasinya menghadapi banyak hambatan, termasuk lemahnya penegakan hukum, konflik tata ruang, kurangnya koordinasi, dan minimnya insentif bagi praktik yang berkelanjutan. Dibutuhkan kerja sama yang kuat, dukungan masyarakat, dan evaluasi kebijakan untuk memastikan solusi yang efektif dan berkelanjutan.