Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Penerapan Teori Aktivitas Rutin dalam Membedah Kasus Prostitusi Anak Berbasis Aplikasi di Karawaci Arnoldi Fanolo Er. Laia; Dimas Sasana Putra; Elnino Meizta Silaban; Bimo Putra Pratama; Muhammad Hajid Arafi; Runi Sikah Seisabila
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 3 (2026): JULI-SEPTEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/nwz7cs03

Abstract

Perdagangan orang (human trafficking) di era modern telah bermutasi menjadi perbudakan kontemporer yang memanfaatkan pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Ruang digital, khususnya aplikasi percakapan seperti MiChat, kerap disalahgunakan oleh pelaku kejahatan untuk mengeksploitasi kelompok rentan, termasuk anak di bawah umur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses viktimisasi pada anak di bawah umur dalam ruang siber dengan mengambil studi kasus pembongkaran jaringan prostitusi anak oleh kepolisian di Karawaci, Tangerang. Dengan menggunakan pisau analisis Teori Aktivitas Rutin (Routine Activity Theory), penelitian ini membedah bagaimana kejahatan tersebut terjadi melalui konvergensi tiga unsur utama : (1) Pelaku yang termotivasi (motivated offender), yaitu sepasang suami istri yang bertindak sebagai muncikari dan operator; (2) Target yang sesuai (suitable target), yaitu dua anak remaja yang mengalami kerentanan finansial dan aktif dalam gaya hidup digital ; serta (3) Ketiadaan pengaman yang memadai (absence of capable guardians), yang tecermin dari lemahnya pengawasan orang tua di ranah domestik dan longgarnya sistem verifikasi usia pada aplikasi MiChat. Hasil analisis menunjukkan bahwa intervensi warga lokal dan respons kepolisian akhirnya bertindak sebagai capable guardian yang menghentikan proses viktimisasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa reduksi celah kejahatan siber terhadap anak memerlukan sinergi berlapis antara penguatan fungsi pengawasan kultural dalam keluarga dan pengetatan sistemik pada platform digital.
Dampak Burnout dan Financial Pressure terhadap Kesehatan Mental Generasi Z dalam Situasi Sandwich Generation Radja Favian Purba Tanjung; Wiwaha Birdbee Kanamahaya; Keysya Septiana Putri; Inolla Jovial Gwineth Jacob; Zazkia Ananda Putri; Runi Sikah Seisabila
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 3 (2026): JULI-SEPTEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/brd82z17

Abstract

Generasi Z di Indonesia kini mulai memasuki dunia kerja, namun pada waktu yang bersamaan banyak di antara mereka harus menghadapi kenyataan sebagai sandwich generation, yaitu kelompok yang menanggung beban ekonomi ganda dengan tuntutan memenuhi kebutuhan orang tua atau adik yang bergantung secara finansial. Beban ganda ini semakin berat di tengah kenaikan biaya hidup dan sistem jaminan sosial yang belum memadai serta rendahnya pemahaman literasi keuangan serta besarnya beban nafkah keluarga turut memperbesar tingkat stres dan mempersulit pengambilan keputusan finansial yang rasional.. Tumpukan tekanan semacam ini membuka peluang munculnya kelelahan kerja (burnout) sekaligus tekanan finansial yang pada akhirnya dapat mengganggu kesehatan mental yang dapat menyebabkan depresi. Tulisan ini disusun untuk mengkaji sejauh mana burnout dan tekanan finansial memengaruhi kondisi kesehatan mental Generasi Z yang menyandang peran sebagai sandwich generation. Kajian ini dilakukan melalui pendekatan studi pustaka atas artikel-artikel jurnal, baik nasional maupun internasional, yang membahas burnout, tekanan finansial, kesehatan mental, Generasi Z, dan fenomena sandwich generation dalam rentang tahun 2018 hingga 2025. Tulisan ini menawarkan sejumlah rekomendasi, antara lain penguatan layanan kesehatan mental yang ramah bagi kalangan muda, peningkatan edukasi literasi keuangan, serta pembenahan kebijakan ketenagakerjaan dan jaminan sosial agar lebih responsif terhadap realitas keluarga lintas generasi.  
Obsesi dan Perilaku Menyimpang pada Karakter Alisha dalam Film Fiksi. (2008): Analisis Psikologi Kriminal dan Perspektif Kriminologi Qsenya Suni; Julia Citra Lestari; Salma Wafiyah; Sherly Savina; Nofenda Monica; Runi Sikah Seisabila
JPNM Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin Vol. 4 No. 3 (2026): July : Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin (ACCEPTED)
Publisher : SM Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59945/jpnm.v4i3.1450

Abstract

Film sering digunakan untuk merepresentasikan berbagai fenomena psikologis dan sosial yang terjadi dalam kehidupan manusia. Salah satu fenomena yang banyak muncul dalam film adalah obsesi, yaitu kondisi ketika seseorang memiliki keterikatan pikiran dan emosi yang sangat kuat terhadap individu, hubungan tertentu, kebutuhan emosional, pengalaman pribadi, keinginan yang belum terpenuhi, maupun tujuan yang ingin dicapai sehingga perhatian individu terus terpusat pada hal tersebut. Dalam kondisi tertentu, obsesi dapat memengaruhi cara berpikir, proses penilaian terhadap situasi, pengelolaan emosi, pengambilan keputusan, kontrol diri, hubungan interpersonal, serta tindakan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Fenomena tersebut terlihat pada karakter Alisha dalam film Fiksi. (2008) karya Mouly Surya yang menunjukkan perkembangan obsesi hingga memunculkan berbagai bentuk perilaku menyimpang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi obsesi pada karakter Alisha serta menjelaskan hubungan antara obsesi dan perilaku menyimpang melalui perspektif psikologi kriminal dan kriminologi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik analisis isi terhadap adegan, dialog, dan tindakan tokoh dalam film. Data diperoleh dari film Fiksi. (2008), buku, jurnal ilmiah, dan penelitian terdahulu yang relevan dengan topik penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa obsesi Alisha berkembang dari kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi, perasaan kesepian, kebutuhan akan kedekatan, serta keinginan untuk memperoleh perhatian dan keterhubungan dengan individu yang menjadi pusat perhatiannya. Perkembangan obsesi tersebut memengaruhi cara Alisha memaknai hubungan sosial, mengelola emosi, mengendalikan impuls, memahami batasan sosial, dan menentukan tindakannya. Kondisi tersebut mendorong munculnya perilaku seperti pengamatan berulang, pelanggaran privasi, manipulasi, penguntitan, kebohongan, tindakan agresif, serta bentuk perilaku lain yang bertentangan dengan norma sosial. Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa mekanisme displacement berperan dalam proses pengalihan kebutuhan emosional dan konflik psikologis Alisha ke dalam obsesinya terhadap Bari. Penelitian ini menunjukkan bahwa film Fiksi. (2008) merepresentasikan keterkaitan antara obsesi, kebutuhan emosional, kesepian, konflik psikologis, displacement, kontrol diri, relasi interpersonal, dan perilaku menyimpang sebagai proses yang berkembang secara bertahap sepanjang alur cerita.