R Hari Setyanto
Universitas Sebelas Maret

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pengaruh Panjang Serat Pelepah Pisang dan Kadar Abu Sekam Padi terhadap Ketangguhan Impak Komposit Bermatriks Polyester Sebagai Material Safety Helmet Charisma Cintani Adhi Surya; R Hari Setyanto
JOURNAL SAINS STUDENT RESEARCH Vol. 4 No. 3 (2026): Juni: Jurnal Sains Student Research
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jssr.v4i3.10902

Abstract

Angka kecelakaan kerja di Indonesia terus menunjukkan peningkatan signifikan dari tahun ke tahun, dengan cedera kepala akibat tertimpa benda menjadi salah satu penyebab utama kecelakaan fatal di sektor konstruksi. Di Indonesia, kelayakan safety helmet diatur melalui SNI ISO 3873:2012 yang mensyaratkan kemampuan material dalam menahan dan meredam energi benturan. Umumnya, safety helmet diproduksi dari polimer termoplastik yang memiliki keterbatasan berupa sulit terurai secara alami sehingga mendorong pengembangan material komposit berbasis serat alam sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh panjang serat pelepah pisang (5 mm dan 10 mm) dan kadar abu sekam padi (0% dan 5%) serta interaksi keduanya terhadap nilai ketangguhan impak komposit bermatriks polyester, sekaligus mengevaluasi kesesuaiannya sebagai material safety helmet berdasarkan SNI ISO 3873:2012. Penelitian menggunakan eksperimen faktorial 2×2 dengan 4 replikasi, dimana spesimen dibuat menggunakan metode hand lay-up dengan fraksi volume serat 15% yang telah diberi perlakuan alkali NaOH 5% selama 2 jam dan ketangguhan impak diuji menggunakan metode Charpy berdasarkan ISO 179-1 serta dianalisis dengan analisis variansi dua arah. Hasil menunjukkan bahwa panjang serat berpengaruh signifikan terhadap ketangguhan impak (p = 0,045), dengan serat 5 mm menghasilkan nilai rata-rata lebih tinggi sebesar 0,00238 J/mm2 dibandingkan serat 10 mm sebesar 0,00208 J/mm2. Kadar abu sekam padi (p = 0,336) dan interaksi antar faktor (p = 0,780) tidak berpengaruh signifikan. Seluruh spesimen menghasilkan nilai ketangguhan impak antara 0,00199 hingga 0,00243 J/mm2, di bawah nilai minimum SNI ISO 3873:2012, sehingga komposit yang dihasilkan belum memenuhi persyaratan standar sebagai material safety helmet
PENGEMBANGAN PANEL AKUSTIK BERBASIS GABUS KELAPA DENGAN MATRIKS STYROFOAM DAUR ULANG TERHADAP ABSORPSI BUNYI Sonia Claudya Stepani Simanjuntak; R Hari Setyanto
JOURNAL SAINS STUDENT RESEARCH Vol. 4 No. 3 (2026): Juni: Jurnal Sains Student Research
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jssr.v4i3.10903

Abstract

Peningkatan kebisingan akibat perkembangan industri, transportasi, dan urbanisasi mendorong perlunya pengembangan material akustik yang ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh ketebalan dan tingkat kompaksi terhadap kemampuan absorpsi bunyi panel biokomposit berbasis gabus kelapa (cocopeat) dengan matriks styrofoam daur ulang. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan rancangan faktorial 2×2 yang terdiri atas variasi ketebalan 20 mm dan 30 mm serta kompaksi 4:4 dan 4:5. Setiap kombinasi perlakuan dilakukan sebanyak tiga kali replikasi. Pengujian absorpsi bunyi dilakukan menggunakan tabung impedansi dua mikrofon berdasarkan standar ASTM E1050-98 pada frekuensi 200 Hz, 400 Hz, 800 Hz, dan 1600 Hz. Nilai koefisien absorpsi bunyi dikonversi menjadi Noise Reduction Coefficient (NRC) dan selanjutnya dihitung menjadi nilai decibel drop. Analisis data dilakukan menggunakan Two-Way ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketebalan, kompaksi, dan interaksi keduanya berpengaruh signifikan terhadap nilai decibel drop (p < 0,05). Ketebalan 30 mm menghasilkan kemampuan absorpsi bunyi yang lebih baik dibandingkan ketebalan 20 mm. Kompaksi 4:4 menghasilkan nilai decibel drop lebih tinggi dibandingkan kompaksi 4:5. Kombinasi perlakuan terbaik diperoleh pada panel dengan ketebalan 30 mm dan kompaksi 4:4 yang menghasilkan nilai decibel drop rata-rata sebesar 2,270 dB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan ketebalan panel mampu meningkatkan kemampuan absorpsi bunyi, sedangkan pengaruh kompaksi bergantung pada kombinasi perlakuan yang digunakan.
Perancangan dan Karakterisasi Papan Komposit Tahan Panas Berbasis Abu Sekam Padi dan Bubuk Cangkang Kerang Simping Sebagai Material Tatakan Setrika Ayusika Yumna Agil Nabillah; R Hari Setyanto
JOURNAL SAINS STUDENT RESEARCH Vol. 4 No. 3 (2026): Juni: Jurnal Sains Student Research
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jssr.v4i3.10905

Abstract

Pemanfaatan limbah agro-maritim sebagai bahan baku material komposit merupakan salah satu upaya untuk menghasilkan material fungsional yang bernilai tambah sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi komposisi abu sekam padi dan bubuk cangkang kerang simping (Amusium pleuronectes) terhadap nilai hambat panas papan komposit bermatriks waterglass (natrium silikat) serta mengevaluasi potensinya sebagai material tatakan setrika. Papan komposit dibuat menggunakan metode hand lay-up dengan dua variasi komposisi, yaitu Variasi 1 (50% waterglass, 30% abu sekam padi, dan 20% bubuk cangkang kerang simping) serta Variasi 2 (50% waterglass, 20% abu sekam padi, dan 30% bubuk cangkang kerang simping). Seluruh filler diayak hingga ukuran 200 mesh dan pembuatan spesimen dilakukan sebanyak tiga replikasi per variasi. Spesimen diuji konduktivitas termalnya menggunakan Thermal Conductivity Apparatus Pasco TD-8561. Nilai konduktivitas termal yang diperoleh digunakan untuk menghitung nilai hambat panas, kemudian dianalisis secara statistik melalui uji normalitas Shapiro-Wilk, uji homogenitas Levene, dan uji T dua sampel independen menggunakan Minitab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Variasi 1 menghasilkan nilai hambat panas rata-rata sebesar 2,77 K/W, lebih tinggi dibandingkan Variasi 2 sebesar 2,31 K/W. Hasil uji T menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,024 (p < 0,05), yang mengindikasikan bahwa perbedaan komposisi filler memberikan pengaruh yang signifikan terhadap nilai hambat panas papan komposit. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan proporsi abu sekam padi terbukti meningkatkan nilai hambat panas karena kandungan silika yang tinggi dan struktur partikelnya yang berpori, dengan komposisi terbaik diperoleh pada Variasi 1 dengan rentang nilai hambat panas 2,65–2,87 K/W yang berpotensi dikembangkan sebagai material tatakan setrika berbasis limbah yang berkelanjutan.
OPTIMASI KOMPOSIT ABU SEKAM PADI DAN ABU AMPAS TEBU DENGAN MATRIKS WATERGLASS SEBAGAI COASTER TERHADAP KEKUATAN LENTUR DAN KETAHANAN AIR Berliana Nurul Azzahra; R Hari Setyanto
JOURNAL SAINS STUDENT RESEARCH Vol. 4 No. 3 (2026): Juni: Jurnal Sains Student Research
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jssr.v4i3.10906

Abstract

Pemanfaatan limbah pertanian sebagai penyusun komposit relevan untuk pengembangan produk fungsional yang ramah lingkungan. Abu sekam padi dan abu ampas tebu memiliki potensi sebagai filler karena kandungan silikanya, sedangkan waterglass dapat digunakan sebagai matriks anorganik. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variasi komposisi abu sekam padi, abu ampas tebu, dan waterglass terhadap kekuatan lentur komposit sebagai material coaster, serta mengevaluasi ketahanan air pada komposisi terbaik. Penelitian menggunakan dua variasi komposisi, yaitu A1 berupa 40% abu sekam padi, 20% abu ampas tebu, dan 40% waterglass serta A2 berupa 30% abu sekam padi, 20% abu ampas tebu, dan 50% waterglass. Setiap komposisi dibuat sebanyak empat spesimen. Pengujian kekuatan lentur dilakukan dengan metode three-point bending mengacu pada ASTM D790, sedangkan pengujian ketahanan air mengacu pada prinsip ASTM D570 dengan perendaman selama 4 jam. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji normalitas Shapiro-Wilk, uji homogenitas, dan independent sample t-test. Hasil menunjukkan komposisi A2 menghasilkan rata-rata kekuatan lentur 2,84 MPa, lebih tinggi dibandingkan A1 sebesar 1,98 MPa, dengan perbedaan signifikan (p = 0,011). Rata-rata daya serap air pada komposisi optimal sebesar 6,11%. Hasil ini menunjukkan peningkatan proporsi waterglass memperbaiki kekuatan lentur, tetapi perlindungan permukaan masih diperlukan untuk meningkatkan ketahanan air coaster.