Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Shaping global health security through multilateral leadership: A qualitative analysis of Indonesia’s G20 Presidency in 2022 Dicky Budiman; Heru Subaris Kasjono; Cordia Chu
Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 19 No. 1 (2026): February 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29238/sanitasi.v19i1.3120

Abstract

Global health security has become a central issue in international governance due to recurrent pandemics and transnational health threats, while the role of multilateral forums such as the Group of Twenty (G20) in reforming global health architecture remains contested. This study aims to examine how Indonesia leveraged its 2022 G20 presidency to shape global health security and contribute to the reform of global health architecture. Using a qualitative research design, this study employed thematic analysis of primary and secondary data. Primary data were obtained from expert interviews and participatory observation related to G20 health processes, while secondary data consisted of official G20 documents, policy reports, and peer-reviewed literature. The data were analysed inductively to identify key themes. The findings show that the G20 serves as a strategic agenda-setting platform for global health security because of its economic and political influence. However, the current global health multilateral system remains fragmented, under-resourced, and weakly coordinated. Indonesia’s presidency promoted strategic initiatives, including strengthening the World Health Organization’s leadership, advancing pandemic preparedness financing, promoting universal health coverage, and addressing health inequities. The study concludes that middle-income countries can shape global health security through sustained multilateral engagement, institutional coordination, and alignment between global commitments and national implementation.
Molecular Biomarkers in Pneumonia: Therapeutic Potential of Traditional Plant Medicine Tirsa Persila Awairaro; Diniwati Mukhtar; Dicky Budiman; Himmi Marsiati
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 7 No 5 (2025): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v7i5.6671

Abstract

Pneumonia causes 2.56 million global deaths annually, with current therapies limited by antimicrobial resistance and adverse effects. Traditional medicinal plants offer multi-target potential through anti-inflammatory, antioxidant, and immunomodulatory mechanisms. This review synthesizes knowledge on molecular biomarkers in pneumonia pathogenesis and evaluates therapeutic potential of medicinal plants, particularly Coleus amboinicus. A comprehensive literature search was conducted across PubMed/MEDLINE, Scopus, and Web of Science covering publications from January 2000 to June 2025. Inclusion criteria encompassed studies investigating molecular biomarkers, pneumonia therapeutic pathways, or medicinal plants with respiratory therapeutic properties. Narrative synthesis was employed due to study heterogeneity. Of 1,247 articles identified, 10 studies met inclusion criteria and were utilized in the analysis. Key inflammatory biomarkers included IL-6, TNF-α, and IL-1β, increasing from 5.05 mg/dL (controls) to 25.30 mg/dL in bacterial pneumonia. Neutrophil extracellular trap (NET) formation emerged as a central mechanism (47.36% of protein targets). Coleus amboinicus demonstrated 139 bioactive compounds with broad-spectrum antimicrobial activity and antioxidant properties (DPPH EC₅₀ 32.67-152.8 µg/mL). Traditional medicinal plants, particularly Coleus amboinicus, modulate key molecular pathways in pneumonia through sophisticated multi-target mechanisms, supporting integration of biomarker-guided approaches in contemporary respiratory care.
Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Pelanggan Terhadap Layanan JKN di Empat FKTP di DKI Jakarta Petrafredinosa Hadriansyah; Kholis Ernawati; Andi Erlina; Dicky Budiman; Muslikh; Norman Zainal; Budi Santoso; Lia Gardenia; Sri Wuryanti
Majalah Sainstekes Vol. 13 No. 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/ms.v13i1.5412

Abstract

Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan program pemerintah yang bertujuan memberikan perlindungan kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia. Namun, kualitas layanan JKN masih menjadi perhatian utama, terutama dalam hal kepercayaan terhadap tenaga medis, empati petugas, waktu tunggu, fasilitas, ketersediaan obat-obatan, aksesibilitas, dan komunikasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan pasien terhadap layanan JKN di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) di DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan deskriptif analitik. Data dikumpulkan melalui kuesioner dari 120 responden yang dipilih dengan teknik quota sampling berdasarkan kriteria inklusi tertentu. Analisis data dilakukan menggunakan metode multivariat untuk menguji hubungan antara variabel independen dan kepuasan pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 120 responden, mayoritas memiliki tingkat kepuasan sedang terhadap layanan JKN di FKTP (77 responden atau 64,2%). Faktor yang paling berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pasien adalah kepercayaan terhadap tenaga medis (p = 0.015, Exp(B) = 0.241), diikuti oleh empati tenaga medis yang mendekati tingkat signifikansi (p = 0.050). Faktor lain seperti antrean layanan, waktu tunggu, fasilitas, ketersediaan obat, aksesibilitas, dan komunikasi tidak menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik terhadap kepuasan pasien. Kesimpulan dari penelitian ini menekankan bahwa peningkatan kepercayaan terhadap tenaga medis dan penguatan empati dalam pelayanan kesehatan perlu menjadi prioritas dalam upaya meningkatkan kepuasan pasien. Selain itu, meskipun tidak signifikan secara statistik, perbaikan dalam pengelolaan antrean, waktu tunggu, fasilitas, serta ketersediaan obat tetap penting untuk mendukung pengalaman pasien yang lebih baik. Dengan demikian, peningkatan kualitas layanan tenaga medis dan efisiensi operasional FKTP dapat berkontribusi pada optimalisasi pelayanan JKN di Indonesia.