Jembatan Gantung Gp. Teungoh di Desa Blang Guron, Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen, merupakan infrastruktur vital yang menghubungkan masyarakat di kedua sisi Sungai Krueng Mane. Pada November 2025, wilayah ini dilanda banjir besar akibat curah hujan ekstrem yang menyebabkan debit sungai melonjak drastis hingga melampaui elevasi lantai jembatan dan mengakibatkan kerusakan struktural yang signifikan. Kejadian ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara elevasi eksisting jembatan dengan kondisi banjir aktual, sehingga diperlukan evaluasi teknis secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kesesuaian elevasi jembatan terhadap luapan banjir dengan menghitung luas genangan pada kala ulang 50 dan 100 tahun serta menentukan besarnya peningkatan elevasi lantai jembatan yang diperlukan. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif deskriptif melalui analisis data sekunder, meliputi analisis frekuensi curah hujan selama 10 tahun terakhir, perhitungan debit banjir rencana dengan metode Hidrograf Satuan Sintetik (HSS) Nakayasu, serta simulasi hidraulika menggunakan perangkat lunak HEC-RAS. Hasil analisis frekuensi menunjukkan Distribusi Log Pearson Type III sebagai distribusi yang paling sesuai berdasarkan Uji Smirnov-Kolmogorov. Debit puncak banjir yang diperoleh sebesar 2.030 m³/detik untuk kala ulang 50 tahun dan 2.110 m³/detik untuk kala ulang 100 tahun, dengan luas genangan masing-masing 870,126 ha dan 941,752 ha. Hasil simulasi hidraulika menunjukkan bahwa tinggi muka air banjir pada seluruh kala ulang telah melampaui elevasi jembatan eksisting, sehingga kapasitas jembatan saat ini belum mampu menampung debit banjir maksimum. Kondisi ini berpotensi menimbulkan gangguan transportasi serta risiko kerusakan struktur akibat tekanan aliran dan gerusan pada pondasi. Penelitian ini merekomendasikan peninggian elevasi lantai jembatan serta upaya normalisasi sungai guna mengurangi risiko banjir di masa mendatang.