M Fauzan
Jurusan Teknik Sipil, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Analisis Perbandingan Koefisien Dan Biaya Upah Tenaga Kerja Berdasarkan SNI 2023 Dengan Kondisi Aktual Di Lapangan (Studi Kasus: Proyek Pembangunan Gedung Di Kota Lhokseumawe) Windriani Windriani; M Fauzan; Yovi Chandra; Burhanuddin Burhanuddin; Nura Usrina
Jurnal Rekayasa Sipil dan Teknologi Vol. 2 No. 2 (2026): September
Publisher : Universitas Malikussaleh, Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jrst.v2i2.27527

Abstract

Standar Nasional Indonesia (SNI) 2023 telah menetapkan koefisien tenaga kerja sebagai acuan penyusunan Analisis Harga Satuan Pekerjaan (AHSP), namun penerapannya sering menunjukkan perbedaan dengan kondisi aktual akibat faktor lokal yang belum terakomodasi dalam standar nasional. Penelitian ini bertujuan membandingkan koefisien tenaga kerja dan biaya upah per satuan pekerjaan antara SNI 2023 dengan kondisi lapangan, serta mengidentifikasi faktor penyebab perbedaannya pada proyek pembangunan gedung di Kota Lhokseumawe. Metode yang digunakan adalah observasi lapangan dan wawancara dengan mandor serta kontraktor, didukung analisis statistik deskriptif. Data dikumpulkan dari tiga proyek: Kampus STIkes Muhammadiyah Lhokseumawe, Grand Asia Residence, dan Gedung GKU C Universitas Malikussaleh. Tiga jenis pekerjaan yang dianalisis adalah pemasangan lantai granit 60×60 cm, lantai keramik 40×40 cm, dan pasangan dinding bata merah tebal ½ batu. Hasil penelitian menunjukkan dua pola konsisten: koefisien Pekerja dan Tukang di lapangan lebih rendah dari SNI 2023 (lantai granit 68,9% lebih rendah, lantai keramik 27,4%, dinding bata merah 61,7%), sedangkan koefisien Kepala Tukang dan Mandor 4–25 kali lebih tinggi akibat sistem pengawasan lebih intensif. Dari sisi biaya upah, lantai granit 27,87% lebih rendah dari SNI (Rp31.991 vs Rp44.350/m²), lantai keramik 19,19% lebih tinggi (Rp39.222 vs Rp32.907/m²), dan dinding bata merah relatif setara dengan selisih 2,70% (Rp33.589 vs Rp32.707/m²). Penelitian ini merekomendasikan penyesuaian koefisien tenaga kerja lokal guna meningkatkan akurasi estimasi biaya proyek konstruksi di Kota Lhokseumawe.
Analisis Penerapan Lean Construction Pada proyek Konstruksi Gedung (Studi Kasus Pembangunan Gedung GKU A dan GKU B Universitas Malikussaleh) Nadia Ulfa; Lis Ayu Widari; Syibral Malasyi; M Fauzan; Adzuha Desmi
Jurnal Rekayasa Sipil dan Teknologi Vol. 2 No. 2 (2026): September
Publisher : Universitas Malikussaleh, Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lean Construction merupakan pendekatan manajemen konstruksi yang mengadaptasi prinsip lean production untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas proyek melalui pengurangan pemborosan (waste) serta optimalisasi alur kerja. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor penghambat penerapan Lean Construction serta menganalisis tingkat penerapannya pada proyek pembangunan Gedung Kuliah Umum (GKU) A dan GKU B Universitas Malikussaleh. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner berskala Likert 1-4 yang disebarkan kepada 28 responden yang dipilih secara purposive sampling, terdiri atas site manager, site engineer, supervisor, pelaksana lapangan, dan surveyor. Data dianalisis menggunakan IBM SPSS Statistics 27 melalui uji validitas (Corrected Item-Total Correlation), uji reliabilitas (Cronbach's Alpha), dan analisis statistik deskriptif terhadap 12 indikator pada empat variabel penelitian. Hasil pengujian menunjukkan 30 dari 36 item kuesioner dinyatakan valid (CITC >0,30) dan seluruh variabel reliabel dengan nilai Cronbach's Alpha berkisar 0,809-0,870. Hasil analisis deskriptif menunjukkan tingkat penerapan Lean Construction secara keseluruhan sebesar 2,54 (kategori baik), terdiri atas variabel manajerial 2,55, perencanaan dan teknis 2,59, operasional lapangan 2,44, serta pengendalian limbah dan K3 2,58. Indikator dengan nilai tertinggi adalah peningkatan K3 (2,99) dan analisis alur kerja (2,94), sedangkan indikator eliminasi pemborosan (1,91) dan standarisasi kerja (2,23) masih berkategori cukup. Faktor penghambat utama meliputi komunikasi yang belum optimal, koordinasi antar tim yang kurang efektif, keterlambatan pengadaan material, serta masih adanya aktivitas pemborosan selama pelaksanaan proyek. Penelitian ini menegaskan bahwa penerapan Lean Construction pada proyek GKU A dan GKU B telah berjalan pada kategori baik, namun diperlukan peningkatan konsistensi khususnya pada aspek operasional lapangan agar manfaat efisiensi dan produktivitas dapat dicapai secara lebih optimal.
Upaya Penanggulangan Kemacetan Lalu Lintas Guna Kelancaran Pariwisata Di Daerah Danau Lut Tawar Yogi Juanda; Burhanuddin Burhanuddin; Nanda Savira Ersa; M Fauzan; Muthmainnah Muthmainnah
Jurnal Rekayasa Sipil dan Teknologi Vol. 2 No. 2 (2026): September
Publisher : Universitas Malikussaleh, Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jrst.v2i2.29125

Abstract

Ruas Jalan Takengon-Bintang di kawasan wisata Danau Lut Tawar mengalami penurunan kinerja signifikan pasca longsor akibat penyempitan geometrik menjadi jalur sementara (detour) lebar efektif ±5 m (2/2 TT) serta tingginya hambatan samping dari aktivitas wisata dan lalu lintas lokal. Penelitian ini menganalisis karakteristik dan kinerja ruas jalan tersebut menggunakan Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia (PKJI) 2014 melalui survei volume, kecepatan, hambatan samping, dan geometrik selama tujuh hari. Hasil menunjukkan kapasitas turun tajam menjadi 1.102,25 skr/jam (FCLJ = 0,56; FCHS = 0,82), volume puncak mencapai 523,1 smp/jam pada Minggu sore, menghasilkan derajat kejenuhan (DJ) 0,45 (LOS C secara teknis). Namun, penerapan sistem buka-tutup dan traffic mixing antara arus wisatawan dan penduduk lokal menyebabkan kecepatan kendaraan berat turun hingga 11–15 km/jam serta antrian panjang, sehingga kinerja riil setara LOS D. Temuan ini menegaskan bahwa longsor tidak hanya mereduksi kapasitas geometrik, tetapi juga memperburuk hambatan samping di koridor wisata, sehingga menghasilkan degradasi kinerja yang lebih parah daripada nilai DJ numerik semata. Kontribusi akademik penelitian terletak pada penyediaan bukti empiris hubungan antara bencana alam, karakteristik wisata, dan kinerja jalan di wilayah non-perkotaan, sekaligus memperkuat penerapan PKJI 2014 pada kondisi pascabencana sebagai dasar rekomendasi penanganan dan rekayasa lalu lintas yang lebih kontekstual.