Maryam Lubis
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hakikat Kurikulum dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Islam: Analisis Filosofis Terhadap Konsep, Tujuan, dan Pengembangannya Devi Indah Sari; Arif Rahman Hakim; Maryam Lubis; Azizah Hanum OK
Education Achievement: Journal of Science and Research Volume 7 Issue 1 March 2026
Publisher : Pusdikra-Publishing.com

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/jsr.v7i1.3583

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hakikat kurikulum dari sudut pandang filsafat pendidikan Islam, menelusuri konsep, tujuan, dan prinsip pengembangannya secara filosofis, serta merumuskan kerangka analitis yang dapat digunakan untuk mengevaluasi sejauh mana kurikulum yang berjalan mencerminkan worldview Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kepustakaan atau yang sering dikenal dengan penelitian (library research) yang bersifat deskriptif-analitis dan juga filosofis-kritis, dengan sumber data berupa karya-karya primer dan sekunder dalam filsafat pendidikan Islam, terutama pada pemikiran al-Syaibani, al-Attas, dan an-Nahlawi, yang dianalisis menggunakan teknik analisis konten dan analisis filosofis (analisis konseptual, koherensi, dan kritik). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hakikat kurikulum dalam perspektif Islam tidak dapat dipisahkan dari konsep manusia (insan kamil), tujuan hidup ('ubudiyyah dan khilafah), dan struktur ilmu yang bersifat tauhidi, sehingga kurikulum berfungsi sebagai instrumen integrasi nilai bukan sekadar daftar materi ajar. Penelitian ini dilakukan sebabĀ  ditemukan adanya kesenjangan struktural antara landasan filosofis tersebut dengan praktik kurikulum di lapangan, yang tercermin dalam dikotomi ilmu agama-umum yang masih kuat. Kesimpulannya, pengembangan kurikulum pendidikan Islam memerlukan reorientasi epistemologis menuju integrasi ilmu, bukan sekadar penambahan materi keagamaan, dan kerangka analitis yang ditawarkan dalam penelitian ini dapat menjadi instrumen evaluasi bagi lembaga pendidikan Islam dalam merancang ulang kurikulumnya secara lebih filosofis dan koheren.
Fenomena Childfree di Kalangan Pasangan Urban: Tinjauan Fikih Kontemporer dan Maqashid Syari'ah Iklima Novriani; Krenniti Sundari; Maryam Lubis; Muhammad Fadhli Azmi; Ali Imran Sinaga
Khazanah : Journal of Islamic Studies Vol. 5 No. 2 (2026): Volume 5 Nomor 2 Mei (2026)
Publisher : Pusdikra Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/khazanah.v5i2.3062

Abstract

Fenomena childfree sebagai keputusan sadar pasangan untuk tidak memiliki anak semakin berkembang di kalangan pasangan urban Indonesia seiring perubahan sosial, ekonomi, dan budaya. Penelitian ini bertujuan menganalisis fenomena childfree dalam perspektif fikih kontemporer dengan menggunakan pendekatan maqashid syari'ah untuk merumuskan kedudukan hukumnya berdasarkan motif yang melatarbelakanginya. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dengan pendekatan kualitatif normatif yang menganalisis sumber-sumber hukum Islam klasik dan kontemporer serta berbagai literatur ilmiah yang relevan melalui analisis isi (content analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hukum childfree dalam Islam bersifat kontekstual dan tidak dapat digeneralisasi. Keputusan childfree yang didasarkan pada alasan medis, psikologis, atau kondisi darurat memperoleh legitimasi syariat sebagai bentuk perlindungan terhadap jiwa (hifzh al-nafs) dan akal (hifzh al-'aql). Sebaliknya, childfree yang didasarkan pada penolakan permanen terhadap keturunan tanpa alasan syar'i bertentangan dengan tujuan maqashid syari'ah, khususnya hifzh al-nasl. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa analisis berdasarkan lima tujuan pokok maqashid syari'ah menghasilkan klasifikasi hukum yang lebih komprehensif dibandingkan pendekatan normatif yang hanya bertumpu pada satu dalil atau satu pendapat fikih. Dengan demikian, pendekatan maqashid syari'ah memungkinkan penilaian hukum terhadap fenomena childfree dilakukan secara lebih kontekstual, proporsional, dan berorientasi pada kemaslahatan.