Azizah Hanum OK
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan, Indonesia

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Internalisasi Pendidikan Multikultural pada Sekolah Menengah Atas se-Kecamatan Simpang Kanan Kabupaten Aceh Singkil Azizah Hanum OK; Solihah Titin Sumanti; Sufian Hadi
JURNAL MANAJEMEN PENDIDIKAN DAN ILMU SOSIAL Vol. 5 No. 5 (2024): Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial (Agustus - September 2024)
Publisher : Dinasti Review

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jmpis.v5i5.2618

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis 1). Proses internalisasi pendidikan multikultural dan dampak yang ditimbulkan, 2). Faktor pendukung internalisasi pendidikan multikultural, 3). Faktor penghambat atau kendala internalisasi pendidikan multikultural dan 4). Upaya mengatasi kendala internalisasi pendidikan multikultural di Sekolah Menengah Atas se-Kecamatan Simpang Kanan. Subjek penelitian ini kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru, pegawai tata usaha, operator serta siswa SMAN 1 Simpang Kanan dan SMA IT Darur Rasyid. Metode penelitian kualitatif dan studi lapangan, pendekatan yang dipakai pada penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi. Adapun hasil penelitian ini secara inklusif meliputi: a). Proses internalisasi pendidikan multikultural dilakukan dengan tiga metode, yaitu dengan mengintegrasikan ke dalam kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler atau kegiatan pembentukan karakter berbasis multikultural, keteladanan dan dengan cara sosialisasi terhadap warga sekolah. Pendidikan multikultural tidak hanya berdampak bagi siswa, tetapi juga menciptakan lingkungan sekolah yang harmonis dan masyarakat yang lebih kehosif. b). Faktor pendukung dalam proses internalisasi pendidikan multikultural adalah iklim sekolah, kurikulum sekolah, sarana dan prasarana, peran guru, program dan kegiatan sekolah. c). Faktor penghambatnya adalah sikap individu siswa, minim pemahaman, media pembelajaran dan sosialisasi tentang pendidikan multikultural. d). Upaya untuk mengatasi hambatan tersebut meliputi: Menekankan nilai-nilai menghargai, menghormati, dan toleransi dalam lingkungan sekolah; Menerapkan kebijakan sekolah yang mengutamakan pendidikan budi pekerti luhur; Menambahkan poster-poster tentang keberagaman dan nilai-nilai multikultural; Melakukan sosialisasi secara intensif terkait pendidikan multikultural.
Hakikat Kurikulum dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Islam: Analisis Filosofis Terhadap Konsep, Tujuan, dan Pengembangannya Devi Indah Sari; Arif Rahman Hakim; Maryam Lubis; Azizah Hanum OK
Education Achievement: Journal of Science and Research Volume 7 Issue 1 March 2026
Publisher : Pusdikra-Publishing.com

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/jsr.v7i1.3583

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hakikat kurikulum dari sudut pandang filsafat pendidikan Islam, menelusuri konsep, tujuan, dan prinsip pengembangannya secara filosofis, serta merumuskan kerangka analitis yang dapat digunakan untuk mengevaluasi sejauh mana kurikulum yang berjalan mencerminkan worldview Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kepustakaan atau yang sering dikenal dengan penelitian (library research) yang bersifat deskriptif-analitis dan juga filosofis-kritis, dengan sumber data berupa karya-karya primer dan sekunder dalam filsafat pendidikan Islam, terutama pada pemikiran al-Syaibani, al-Attas, dan an-Nahlawi, yang dianalisis menggunakan teknik analisis konten dan analisis filosofis (analisis konseptual, koherensi, dan kritik). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hakikat kurikulum dalam perspektif Islam tidak dapat dipisahkan dari konsep manusia (insan kamil), tujuan hidup ('ubudiyyah dan khilafah), dan struktur ilmu yang bersifat tauhidi, sehingga kurikulum berfungsi sebagai instrumen integrasi nilai bukan sekadar daftar materi ajar. Penelitian ini dilakukan sebabĀ  ditemukan adanya kesenjangan struktural antara landasan filosofis tersebut dengan praktik kurikulum di lapangan, yang tercermin dalam dikotomi ilmu agama-umum yang masih kuat. Kesimpulannya, pengembangan kurikulum pendidikan Islam memerlukan reorientasi epistemologis menuju integrasi ilmu, bukan sekadar penambahan materi keagamaan, dan kerangka analitis yang ditawarkan dalam penelitian ini dapat menjadi instrumen evaluasi bagi lembaga pendidikan Islam dalam merancang ulang kurikulumnya secara lebih filosofis dan koheren.
Hakikat Kecerdasan Manusia dan Kecerdasan Buatan: Analisis Filosofis tentang Batas, Potensi, dan Implikasinya Bagi Pendidikan Indah Pratiwi; Iklima Novriani; Azizah Hanum OK
Education Achievement: Journal of Science and Research Volume 7 Issue 2 July 2026
Publisher : Pusdikra-Publishing.com

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/jsr.v7i2.3585

Abstract

Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam pendidikan memunculkan perdebatan mengenai hakikat kecerdasan manusia serta batas dan peran AI dalam proses pembelajaran. Penelitian ini dilakukan karena masih terbatasnya kajian yang membahas kecerdasan manusia dan kecerdasan buatan secara filosofis dalam konteks pendidikan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hakikat kecerdasan manusia dan kecerdasan buatan, mengidentifikasi batas dan potensi keduanya, serta mengkaji implikasinya bagi pendidikan. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan jenis studi literatur karena memungkinkan kajian yang mendalam terhadap berbagai teori dan hasil penelitian yang relevan. Data diperoleh melalui studi dokumentasi dan dianalisis menggunakan teknik analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan manusia memiliki dimensi kesadaran, kreativitas, empati, dan pertimbangan moral, sedangkan kecerdasan buatan unggul dalam pengolahan data dan efisiensi kerja. Dalam pendidikan, AI dapat mendukung efektivitas pembelajaran, tetapi tidak dapat menggantikan peran manusia dalam pembentukan karakter dan nilai moral. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kecerdasan manusia dan kecerdasan buatan memiliki hubungan yang saling melengkapi. Penelitian selanjutnya disarankan mengkaji implementasi AI dalam praktik pendidikan secara empiris.
Problematika Pembentukan Kepribadian Muslim di Era Digital Ridha Khairani; Rafidatun Sahirah; Azizah Hanum OK
Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 5 Nomor 1 Februari (2026)
Publisher : Pusdikra Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/khazanah.v5i1.2544

Abstract

Transformasi peradaban kontemporer ditandai dengan transisi radikal menuju era digital yang mengonversi realitas empiris ke dalam sistem biner numerik secara masif dan instan. Era digital ini bertindak sebagai infrastruktur makro yang mengantarkan subjek didik menembus lanskap ontologis baru bernama ruang siber (cyberspace). Eksistensi jagat digital yang serba cepat, praktis, dan terfragmentasi ini menghadirkan tantangan teoretis-filosofis pelik bagi keberlangsungan internalisasi nilai dalam filsafat pendidikan Islam, khususnya dalam mengonstruksi kepribadian muslim (syakhshiyah islamiyah). Artikel ini bertujuan untuk mengurai secara radikal problematika struktural pembentukan kepribadian muslim di era digital melalui pisau analisis kefilsafatan, sekaligus merumuskan resolusi metodologisnya. Penelitian ini merupakan studi kualitatif berbasis kepustakaan (library research) dengan pendekatan filosofis-konseptual. Hasil analisis menunjukkan bahwa krisis pembentukan kepribadian muslim di era digital berakar pada tiga level disrupsi filosofis: 1) Disrupsi Epistemologis, berupa pendangkalan nalar kritis akibat pergeseran tradisi berpikir reflektif (tafakkur) menjadi cara berpikir superfisial yang dikendalikan oleh algoritma; 2) Anomali Aksiologis, berupa eksternalisasi nilai etis-spiritual di mana esensi kesalehan batin (keikhlasan) terdegradasi oleh perburuan validasi digital metrikal (likes, shares, followers) yang melahirkan fenomena kesalehan kosmetis; dan 3) Fragmentasi Ontologis Identitas, yang mewujud dalam keterbelahan eksistensial (split personality) antara persona virtual dan riil. Sebagai resolusi filosofis, penelitian ini menawarkan rekonstruksi metodologi pendidikan Islam melalui agenda Tri-Pilar Digital Maslahah: pemulihan daya refleksi-kritik lewat epistemological revival, reposisi orientasi nilai batin melalui axiological realignment, dan revitalisasi fungsional tri-pusat pendidikan sebagai filter eksistensial.
Ketika Google Menjadi Guru: Relevansi Konsep Murabbi dalam Menghadapi Pergeseran Otoritas Ilmu Pada Generasi Digital Nurul Izzah Maulidiyah; Sandi Swasta Agung; Azizah Hanum OK
Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 5 Nomor 1 Februari (2026)
Publisher : Pusdikra Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/khazanah.v5i1.3043

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah mengubah pola akses dan konstruksi pengetahuan masyarakat, khususnya pada generasi digital yang semakin menjadikan mesin pencari seperti Google sebagai sumber utama informasi. Fenomena ini memunculkan pergeseran otoritas ilmu dari pendidik menuju algoritma digital yang bekerja berdasarkan relevansi data, bukan validitas ilmiah maupun nilai-nilai pedagogis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk pergeseran otoritas ilmu pada generasi digital, menjelaskan keterbatasan otoritas algoritmik dalam perspektif pendidikan Islam, serta mengkaji relevansi konsep murabbi sebagai paradigma pendidikan dalam menghadapi transformasi digital. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data diperoleh melalui telaah kritis terhadap berbagai buku, artikel jurnal nasional dan internasional bereputasi, serta dokumen akademik yang berkaitan dengan pendidikan Islam, literasi digital, otoritas ilmu, dan transformasi digital. Analisis data dilakukan secara deskriptif-kualitatif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, interpretasi, dan sintesis konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa digitalisasi telah merekonstruksi akses pengetahuan menjadi lebih terbuka dan cepat, tetapi sekaligus melahirkan otoritas algoritmik yang berpotensi menggeser peran pendidik sebagai sumber rujukan utama. Meskipun Google mampu menyediakan informasi secara instan, teknologi tidak memiliki kapasitas untuk melakukan pembinaan moral, internalisasi nilai, maupun pembentukan karakter peserta didik. Oleh karena itu, konsep murabbi tetap memiliki relevansi yang kuat sebagai pendidik yang tidak hanya mentransmisikan ilmu, tetapi juga membimbing, membina adab, serta mengintegrasikan aspek intelektual, spiritual, dan moral dalam proses pendidikan. Penelitian ini menegaskan bahwa pendidikan Islam pada era digital memerlukan integrasi antara pemanfaatan teknologi dan penguatan peran murabbi agar proses pembelajaran tidak hanya menghasilkan peserta didik yang kaya informasi, tetapi juga memiliki karakter, kebijaksanaan, dan tanggung jawab moral.