Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Berbasis Masyarakat di Kecamatan Kertapati Kota Palembang Tahun 2023 Lilis Suryani; Ali Harokan; Dianita Ekawati; Gema Asiani
Indo Green Journal Vol. 1 No. 4 (2023): Green 2023
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v1i4.530

Abstract

Kecamatan Kertapati merupakan salah satu kawasan padat penduduk di Kota Palembang yang berbatasan langsung dengan Sungai Ogan dan anak-anak Sungai Musi. Kondisi geografis ini menjadikan praktik pembuangan sampah ke badan air sebagai kebiasaan yang sukar diputus tanpa pendekatan berbasis masyarakat. Volume timbulan sampah rumah tangga di kecamatan ini mencapai 68,4 ton per hari, namun cakupan layanan pengangkutan sampah formal baru mencapai 54,2%. Tujuan penelitian untuk menganalisis gambaran pengelolaan sampah rumah tangga berbasis masyarakat dan faktor-faktor yang berhubungan dengan partisipasi warga dalam sistem pengelolaan sampah di Kecamatan Kertapati Kota Palembang. Metode penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional dilaksanakan pada tanggal 7-28 April 2023. Sampel berjumlah 120 kepala keluarga yang dipilih menggunakan teknik proportionate stratified random sampling dari lima kelurahan di Kecamatan Kertapati. Data dikumpulkan melalui wawancara kuesioner dan observasi kondisi tempat sampah rumah tangga. Analisis bivariat menggunakan chi-square dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik berganda. Berdasarkan hasil penelitian sebesar 57,5% rumah tangga mengelola sampah secara tidak layak. Faktor yang berhubungan bermakna adalah pengetahuan tentang pengelolaan sampah (p=0,001; OR=5,23), ketersediaan sarana pembuangan sampah (p=0,003; OR=4,17), peran kader lingkungan (p=0,007; OR=3,62), dan pendapatan keluarga (p=0,011; OR=2,94). Setelah kontrol multivariat, pengetahuan merupakan faktor dominan (ORa=4,38; 95%CI: 1,96–10,97). Kesimpulan: pengelolaan sampah rumah tangga di Kecamatan Kertapati masih jauh dari optimal. Peningkatan pengetahuan warga melalui edukasi terstruktur yang diperkuat oleh peran kader lingkungan aktif menjadi strategi kunci yang perlu diimplementasikan secara terpadu.
Analisis Perilaku Pencegahan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) pada Aspek Sanitasi Lingkungan di Puskesmas Pegayut Kabupaten Ogan Ilir Ali Harokan Harokan; Dianita Ekawati; Lilis Suryani; Gema Asiani
Indo Green Journal Vol. 2 No. 2 (2024): Green 2024
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v2i2.531

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) tetap menjadi ancaman endemik di wilayah pedesaan Sumatera Selatan, termasuk Kabupaten Ogan Ilir. Puskesmas Pegayut mencatat 127 kasus DBD sepanjang tahun 2023, meningkat 34,0% dibandingkan tahun sebelumnya. Tingginya kasus ini tidak terlepas dari kondisi sanitasi lingkungan dan perilaku pencegahan masyarakat yang belum optimal. Tujuan penelitian ini Adalah untuk menganalisis perilaku pencegahan DBD pada aspek sanitasi lingkungan dan faktor-faktor yang berhubungan dengannya di wilayah kerja Puskesmas Pegayut Kabupaten Ogan Ilir tahun 2024. Metode penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional dilaksanakan pada tanggal 20 Februari-10 Maret 2024. Sampel berjumlah 112 kepala keluarga yang dipilih dengan simple random sampling. Variabel yang diteliti meliputi pengetahuan, sikap, ketersediaan sarana sanitasi, peran petugas kesehatan, dan keterpaparan informasi. Analisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik berganda. Hasil penelitian menunjukkan sebesar 55,4% responden berperilaku pencegahan DBD yang kurang baik. Faktor yang berhubungan bermakna adalah pengetahuan (p=0,000; OR=6,14), ketersediaan sarana sanitasi (p=0,001; OR=4,73), peran petugas kesehatan (p=0,002; OR=4,21), sikap (p=0,004; OR=3,87), dan keterpaparan informasi (p=0,009; OR=3,12). Analisis multivariat menunjukkan pengetahuan sebagai faktor dominan (ORa=5,02; 95%CI: 2,11–11,96). Simpulan: Perilaku pencegahan DBD pada aspek sanitasi lingkungan di wilayah Puskesmas Pegayut masih perlu ditingkatkan secara substansial. Program edukasi berbasis komunitas yang memperkuat pengetahuan warga dan didukung oleh peran aktif petugas kesehatan merupakan strategi intervensi yang paling menjanjikan.
Analisis Kepemilikan Jamban Sehat pada Masyarakat Pinggiran Sungai Musi Kelurahan Kertapati Kota Palembang Tahun 2025 Akhmad Dwi Priyatno; Arie Wahyudi; Erma Gustina; lilis suryani
Indo Green Journal Vol. 3 No. 2 (2025): Green 2025
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v3i2.540

Abstract

Masyarakat yang tinggal di permukiman pinggiran sungai umumnya memiliki budaya membuang air besar di sungai yang secara turun-temurun masih dipraktikkan, termasuk di Kelurahan Kertapati yang berada di tepian Sungai Musi, Kota Palembang. Kondisi ini berdampak pada rendahnya kepemilikan jamban sehat dan tingginya risiko penyakit berbasis lingkungan. Penelitian terdahulu di kawasan bantaran Sungai Musi Kecamatan Sebrang Ulu I Palembang menemukan bahwa 96,7% jamban keluarga tidak memenuhi syarat kesehatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis kepemilikan jamban sehat dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kepemilikan jamban sehat pada masyarakat pinggiran Sungai Musi di Kelurahan Kertapati Kota Palembang tahun 2025. Penelitian dilakukan pada tanggal 9-29 April 2025. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan jumlah sampel 172 kepala keluarga yang dipilih menggunakan teknik proportional random sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dan observasi langsung. Analisis data menggunakan uji chi-square (α=0,05) dan odds ratio. Hasil penelitian menunjukkan hanya 38,4% kepala keluarga yang memiliki jamban sehat sesuai standar. Faktor yang berhubungan bermakna dengan kepemilikan jamban sehat adalah: pengetahuan (p=0,000; OR=6,14), pendapatan keluarga (p=0,001; OR=4,83), sikap terhadap sanitasi (p=0,002; OR=4,21), budaya/kebiasaan BABS (p=0,000; OR=7,38), peran petugas kesehatan (p=0,003; OR=3,57), ketersediaan air bersih (p=0,008; OR=2,94), dan peran tokoh masyarakat (p=0,011; OR=2,73). Diperlukan penguatan program pemicuan STBM, penyuluhan berbasis komunitas, dan dukungan subsidi sanitasi bagi keluarga tidak mampu untuk meningkatkan cakupan kepemilikan jamban sehat di wilayah pinggiran Sungai Musi
Analisis Kejadian Stunting Pada Anak Balita Pada Aspek Kesehatan Lingkungan Wilayah Kerja Puskesmas Sako Palembang Tahun 2024 Ali Harokan; Gema Asiani; Lilis Suryani; Dianita Ekawati
Indo Green Journal Vol. 2 No. 4 (2024): Green 2024
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v2i4.559

Abstract

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat defisiensi gizi kronik yang ditandai dengan nilai z-score tinggi badan menurut umur (TB/U) di bawah minus dua standar deviasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan faktor kesehatan lingkungan dengan kejadian stunting pada balita usia 12–59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Sako Palembang tahun 2024. Desain penelitian yang digunakan adalah observasional analitik cross-sectional dengan sampel 186 balita menggunakan teknik proportional random sampling. Data dianalisis secara bivariat menggunakan uji chi-square dan multivariat menggunakan regresi logistik ganda metode backward LR. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi stunting sebesar 65,1%. Seluruh variabel kesehatan lingkungan terbukti berhubungan bermakna dengan kejadian stunting, yaitu akses air bersih (p=0,002), sanitasi dasar/SPAL (p=0,001), kepemilikan jamban sehat (p=0,008), pengelolaan sampah rumah tangga (p=0,031), dan kondisi ventilasi rumah (p=0,047). Analisis multivariat menunjukkan sanitasi dasar yang buruk sebagai faktor paling dominan (OR=3,12; 95% CI: 1,74–5,61; p=0,000), diikuti akses air bersih tidak memadai (OR=2,78) dan ketiadaan jamban sehat (OR=2,31). Percepatan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dan peningkatan akses air minum yang aman menjadi prioritas utama intervensi.
Analisis Kepemilikan Jamban Keluarga pada Masyarakat Kelurahan Pulokerto Wilayah Kerja Puskesmas Gandus Tahun 2025 Ali Harokan; Gema Asiani; Lilis Suryani; Dianita Ekawati
Indo Green Journal Vol. 3 No. 2 (2025): Green 2025
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v2i4.560

Abstract

Kepemilikan jamban keluarga merupakan indikator utama keberhasilan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) sekaligus faktor protektif terhadap penyakit berbasis lingkungan seperti diare, kecacingan, dan hepatitis A. Kelurahan Pulokerto Kecamatan Gandus merupakan kawasan bantaran Sungai Musi yang ditetapkan sebagai salah satu dari empat wilayah prioritas sanitasi Kota Palembang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kepemilikan jamban keluarga dan faktor-faktor yang berhubungan dengannya pada masyarakat Kelurahan Pulokerto wilayah kerja Puskesmas Gandus Kota Palembang tahun 2025. Jenis penelitian adalah survei analitik dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilakukan pada tanggal 2-20 April 2025 dnegan sampel berjumlah 200 kepala keluarga menggunakan teknik proportional random sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dan observasi langsung menggunakan kuesioner tervalidasi dan checklist jamban sehat. Analisis menggunakan uji chi-square (α=0,05). Hasil menunjukkan 51,0% memiliki jamban sehat dan 49,0% tidak memiliki jamban sehat. Faktor yang berhubungan signifikan adalah tingkat pendidikan (p=0,000; OR=3,48), tingkat penghasilan (p=0,001; OR=3,12), pengetahuan sanitasi (p=0,000; OR=4,38), dan dukungan petugas kesehatan (p=0,000; OR=3,87). Tingginya proporsi kepemilikan jamban tidak sehat berisiko meningkatkan kejadian diare, kecacingan, hepatitis A, dan stunting di Kelurahan Pulokerto. Puskesmas Gandus perlu mengintensifkan pemicuan STBM, edukasi sanitasi, dan kolaborasi lintas sektor untuk percepatan kepemilikan jamban sehat.
Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Berbasis Masyarakat di Kecamatan Kertapati Kota Palembang Tahun 2023 Lilis Suryani; Ali Harokan; Dianita Ekawati; Gema Asiani
Indo Green Journal Vol. 1 No. 4 (2023): Green 2023
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v1i4.530

Abstract

Kecamatan Kertapati merupakan salah satu kawasan padat penduduk di Kota Palembang yang berbatasan langsung dengan Sungai Ogan dan anak-anak Sungai Musi. Kondisi geografis ini menjadikan praktik pembuangan sampah ke badan air sebagai kebiasaan yang sukar diputus tanpa pendekatan berbasis masyarakat. Volume timbulan sampah rumah tangga di kecamatan ini mencapai 68,4 ton per hari, namun cakupan layanan pengangkutan sampah formal baru mencapai 54,2%. Tujuan penelitian untuk menganalisis gambaran pengelolaan sampah rumah tangga berbasis masyarakat dan faktor-faktor yang berhubungan dengan partisipasi warga dalam sistem pengelolaan sampah di Kecamatan Kertapati Kota Palembang. Metode penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional dilaksanakan pada tanggal 7-28 April 2023. Sampel berjumlah 120 kepala keluarga yang dipilih menggunakan teknik proportionate stratified random sampling dari lima kelurahan di Kecamatan Kertapati. Data dikumpulkan melalui wawancara kuesioner dan observasi kondisi tempat sampah rumah tangga. Analisis bivariat menggunakan chi-square dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik berganda. Berdasarkan hasil penelitian sebesar 57,5% rumah tangga mengelola sampah secara tidak layak. Faktor yang berhubungan bermakna adalah pengetahuan tentang pengelolaan sampah (p=0,001; OR=5,23), ketersediaan sarana pembuangan sampah (p=0,003; OR=4,17), peran kader lingkungan (p=0,007; OR=3,62), dan pendapatan keluarga (p=0,011; OR=2,94). Setelah kontrol multivariat, pengetahuan merupakan faktor dominan (ORa=4,38; 95%CI: 1,96–10,97). Kesimpulan: pengelolaan sampah rumah tangga di Kecamatan Kertapati masih jauh dari optimal. Peningkatan pengetahuan warga melalui edukasi terstruktur yang diperkuat oleh peran kader lingkungan aktif menjadi strategi kunci yang perlu diimplementasikan secara terpadu.
Analisis Perilaku Pencegahan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) pada Aspek Sanitasi Lingkungan di Puskesmas Pegayut Kabupaten Ogan Ilir Ali Harokan Harokan; Dianita Ekawati; Lilis Suryani; Gema Asiani
Indo Green Journal Vol. 2 No. 2 (2024): Green 2024
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v2i2.531

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) tetap menjadi ancaman endemik di wilayah pedesaan Sumatera Selatan, termasuk Kabupaten Ogan Ilir. Puskesmas Pegayut mencatat 127 kasus DBD sepanjang tahun 2023, meningkat 34,0% dibandingkan tahun sebelumnya. Tingginya kasus ini tidak terlepas dari kondisi sanitasi lingkungan dan perilaku pencegahan masyarakat yang belum optimal. Tujuan penelitian ini Adalah untuk menganalisis perilaku pencegahan DBD pada aspek sanitasi lingkungan dan faktor-faktor yang berhubungan dengannya di wilayah kerja Puskesmas Pegayut Kabupaten Ogan Ilir tahun 2024. Metode penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional dilaksanakan pada tanggal 20 Februari-10 Maret 2024. Sampel berjumlah 112 kepala keluarga yang dipilih dengan simple random sampling. Variabel yang diteliti meliputi pengetahuan, sikap, ketersediaan sarana sanitasi, peran petugas kesehatan, dan keterpaparan informasi. Analisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik berganda. Hasil penelitian menunjukkan sebesar 55,4% responden berperilaku pencegahan DBD yang kurang baik. Faktor yang berhubungan bermakna adalah pengetahuan (p=0,000; OR=6,14), ketersediaan sarana sanitasi (p=0,001; OR=4,73), peran petugas kesehatan (p=0,002; OR=4,21), sikap (p=0,004; OR=3,87), dan keterpaparan informasi (p=0,009; OR=3,12). Analisis multivariat menunjukkan pengetahuan sebagai faktor dominan (ORa=5,02; 95%CI: 2,11–11,96). Simpulan: Perilaku pencegahan DBD pada aspek sanitasi lingkungan di wilayah Puskesmas Pegayut masih perlu ditingkatkan secara substansial. Program edukasi berbasis komunitas yang memperkuat pengetahuan warga dan didukung oleh peran aktif petugas kesehatan merupakan strategi intervensi yang paling menjanjikan.
Analisis Kepemilikan Jamban Sehat pada Masyarakat Pinggiran Sungai Musi Kelurahan Kertapati Kota Palembang Tahun 2025 Akhmad Dwi Priyatno; Arie Wahyudi; Erma Gustina; lilis suryani
Indo Green Journal Vol. 3 No. 2 (2025): Green 2025
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v3i2.540

Abstract

Masyarakat yang tinggal di permukiman pinggiran sungai umumnya memiliki budaya membuang air besar di sungai yang secara turun-temurun masih dipraktikkan, termasuk di Kelurahan Kertapati yang berada di tepian Sungai Musi, Kota Palembang. Kondisi ini berdampak pada rendahnya kepemilikan jamban sehat dan tingginya risiko penyakit berbasis lingkungan. Penelitian terdahulu di kawasan bantaran Sungai Musi Kecamatan Sebrang Ulu I Palembang menemukan bahwa 96,7% jamban keluarga tidak memenuhi syarat kesehatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis kepemilikan jamban sehat dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kepemilikan jamban sehat pada masyarakat pinggiran Sungai Musi di Kelurahan Kertapati Kota Palembang tahun 2025. Penelitian dilakukan pada tanggal 9-29 April 2025. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan jumlah sampel 172 kepala keluarga yang dipilih menggunakan teknik proportional random sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dan observasi langsung. Analisis data menggunakan uji chi-square (α=0,05) dan odds ratio. Hasil penelitian menunjukkan hanya 38,4% kepala keluarga yang memiliki jamban sehat sesuai standar. Faktor yang berhubungan bermakna dengan kepemilikan jamban sehat adalah: pengetahuan (p=0,000; OR=6,14), pendapatan keluarga (p=0,001; OR=4,83), sikap terhadap sanitasi (p=0,002; OR=4,21), budaya/kebiasaan BABS (p=0,000; OR=7,38), peran petugas kesehatan (p=0,003; OR=3,57), ketersediaan air bersih (p=0,008; OR=2,94), dan peran tokoh masyarakat (p=0,011; OR=2,73). Diperlukan penguatan program pemicuan STBM, penyuluhan berbasis komunitas, dan dukungan subsidi sanitasi bagi keluarga tidak mampu untuk meningkatkan cakupan kepemilikan jamban sehat di wilayah pinggiran Sungai Musi
Analisis Kejadian Stunting Pada Anak Balita Pada Aspek Kesehatan Lingkungan Wilayah Kerja Puskesmas Sako Palembang Tahun 2024 Ali Harokan; Gema Asiani; Lilis Suryani; Dianita Ekawati
Indo Green Journal Vol. 2 No. 4 (2024): Green 2024
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v2i4.559

Abstract

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat defisiensi gizi kronik yang ditandai dengan nilai z-score tinggi badan menurut umur (TB/U) di bawah minus dua standar deviasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan faktor kesehatan lingkungan dengan kejadian stunting pada balita usia 12–59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Sako Palembang tahun 2024. Desain penelitian yang digunakan adalah observasional analitik cross-sectional dengan sampel 186 balita menggunakan teknik proportional random sampling. Data dianalisis secara bivariat menggunakan uji chi-square dan multivariat menggunakan regresi logistik ganda metode backward LR. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi stunting sebesar 65,1%. Seluruh variabel kesehatan lingkungan terbukti berhubungan bermakna dengan kejadian stunting, yaitu akses air bersih (p=0,002), sanitasi dasar/SPAL (p=0,001), kepemilikan jamban sehat (p=0,008), pengelolaan sampah rumah tangga (p=0,031), dan kondisi ventilasi rumah (p=0,047). Analisis multivariat menunjukkan sanitasi dasar yang buruk sebagai faktor paling dominan (OR=3,12; 95% CI: 1,74–5,61; p=0,000), diikuti akses air bersih tidak memadai (OR=2,78) dan ketiadaan jamban sehat (OR=2,31). Percepatan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dan peningkatan akses air minum yang aman menjadi prioritas utama intervensi.
Analisis Kepemilikan Jamban Keluarga pada Masyarakat Kelurahan Pulokerto Wilayah Kerja Puskesmas Gandus Tahun 2025 Ali Harokan; Gema Asiani; Lilis Suryani; Dianita Ekawati
Indo Green Journal Vol. 3 No. 2 (2025): Green 2025
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v2i4.560

Abstract

Kepemilikan jamban keluarga merupakan indikator utama keberhasilan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) sekaligus faktor protektif terhadap penyakit berbasis lingkungan seperti diare, kecacingan, dan hepatitis A. Kelurahan Pulokerto Kecamatan Gandus merupakan kawasan bantaran Sungai Musi yang ditetapkan sebagai salah satu dari empat wilayah prioritas sanitasi Kota Palembang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kepemilikan jamban keluarga dan faktor-faktor yang berhubungan dengannya pada masyarakat Kelurahan Pulokerto wilayah kerja Puskesmas Gandus Kota Palembang tahun 2025. Jenis penelitian adalah survei analitik dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilakukan pada tanggal 2-20 April 2025 dnegan sampel berjumlah 200 kepala keluarga menggunakan teknik proportional random sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dan observasi langsung menggunakan kuesioner tervalidasi dan checklist jamban sehat. Analisis menggunakan uji chi-square (α=0,05). Hasil menunjukkan 51,0% memiliki jamban sehat dan 49,0% tidak memiliki jamban sehat. Faktor yang berhubungan signifikan adalah tingkat pendidikan (p=0,000; OR=3,48), tingkat penghasilan (p=0,001; OR=3,12), pengetahuan sanitasi (p=0,000; OR=4,38), dan dukungan petugas kesehatan (p=0,000; OR=3,87). Tingginya proporsi kepemilikan jamban tidak sehat berisiko meningkatkan kejadian diare, kecacingan, hepatitis A, dan stunting di Kelurahan Pulokerto. Puskesmas Gandus perlu mengintensifkan pemicuan STBM, edukasi sanitasi, dan kolaborasi lintas sektor untuk percepatan kepemilikan jamban sehat.