AbstrakMasih tingginya kasus Tuberculosi (TBC) di Provinsi Lampung, perlu penangaan serius. Ketidaktahuan masyarakat mengenai TBC, tidak menutup mulut dan membuang ludah sembarangan perlu dilakukan sosialisasi mengenai pencegahan penularan TBC di masyarakat. Selain itu, penderita TBC merasa malu jika ketahuan sakit TBC sehingga tidak menginformasikan ke masyrakat sekitr karena khawatir dijauhi tetangga. Kegiatan ini dilakukan di KWT Melati Jaya 10, Keluarahan Sukamenanti Baru, Kecamatan Kedaton, Bandar Lampung yang dilakukan selama satu hari. Tujuan dari kegiataan ini untuk memberikan informasi bagaimana mencegah terjadinya penularan TBC. Kegiatan yang dilakukan yaitu dengan menggunakan metode ceramah dan focus group discussion (FGD) yang telah dilaksanakan di balai pertemuan dengan dihadiri ibu-ibu KWT berjumlah 18 orang. pertemuan ini berlangsung selama dua jam dengan menggunakan media power point. Sebelum diberikan materi, peserta terlebih dahulu diberikan pre-test untuk melihat pengetahuan mengenai TBC. Peserta sudah cukup memahami mengenai TBC, dengan nilai rata-rata pre-test 9,1 dan nilai pos-test 9,6. Pengetahuan peserta mengenai TBC sudah cukup tinggi, dengan memahami bagaiamana penularan TBC terjadi, tetapi bagaimana menanggulangi dan mencegah agar TBC tidak menular masih perlu adanya edukasi dari sektor pemerintah dan multidispilin ilmu yang lain. Masih tingginya terjadinya TBC di Provinsi Lampung, perlu peran dari Pemerintah setempat, dinas kesehatan dan peran serta masyarakat dalam mencegah terjadinya penularan TBC. TBC bukan aib sehingga tidak perlu ditutup-tutupi ataupun malu jika menderita TBC. Sehingga tenaga kesehatan dapat dengan segera menindaklanjuti jika ada penderita TBC yang belum berobat. Dari hasil kegiatan ini rata-rata peserta telah memahami bahaya penyakit TBC karena telah mendapatkan informasi dari tenaga kesehatan. Peran pemerintah setempat dalam edukasi mengenai bahaya TBC harus diberikan kepada seluruh lapisan masyarakat Kata kunci: edukasi; pencegahan; tuberculosis. Abstract The high incidence of tuberculosis (TB) cases in Lampung Province requires serious attention. Limited public knowledge about TB, including poor preventive behaviors such as not covering the mouth when coughing and spitting carelessly, highlights the need for continuous health education. In addition, many TB patients feel ashamed when diagnosed with the disease and tend to hide their condition due to fear of social stigma and rejection from others. This community service activity was conducted at KWT Melati Jaya 10, Sukamenanti Baru Village, Kedaton District, Bandar Lampung, and was carried out in one day. The program implemented lecture methods and Focus Group Discussions (FGD) held at the community meeting hall and attended by 18 female participants from the women farmers group. The activity lasted for two hours using PowerPoint media. Before the educational session, participants were given a pre-test to assess their knowledge about TB. The results showed that participants already had a relatively good understanding of TB, with an average pre-test score of 9.1 and a post-test score of 9.6. Participants generally understood how TB transmission occurs; however, further education is still needed regarding prevention and control measures to reduce TB transmission. The high prevalence of TB in Lampung Province requires collaboration among local governments, health offices, healthcare workers, and communities to prevent transmission. TB should not be considered a social stigma, and patients should not feel ashamed of their condition so that healthcare workers can provide timely treatment and follow-up. Therefore, comprehensive education about the dangers of TB should be provided to all levels of society. Keywords: eduction; prevention; tuberculosis.