Rafika Rafika
Jurusan Teknologi Laboratorium Medis, Poltekkes Kemenkes Makassar

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Kadar Fe Serum Dan Kadar Hemoglobin Darah Pada Ibu Hamil Terimester I Di Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Ibu Dan Anak Pertiwi Provinsi Sulawesi Selatan Herman Rachman; Rafika Rafika; Widarti; Mursalim; Nurdin; Syahida Djasang; M. Askar
Jurnal Media Analis Kesehatan Vol 17 No 1 (2026): JURNAL MEDIA ANALIS KESEHATAN
Publisher : Potekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/jmak.v17i1.1989

Abstract

Anemia pada ibu hamil merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masih sering dijumpai, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Salah satu penyebab utama anemia adalah defisiensi zat besi (Fe), yang berperan penting dalam pembentukan hemoglobin (Hb). Kadar Fe serum yang rendah dapat menurunkan kadar Hb darah, sehingga berdampak pada kesehatan ibu dan janin. Tujuan untuk melihat gambaran kadar Fe serum dan kadar Hemoglobin darah serta menganalisis hubungan antara kadar Fe serum dengan kadar Hb darah pada ibu hamil di RSUK Ibu dan Anak Pertiwi Provinsi Sulawesi Selatan. Desain penelitian yang digunakan adalah analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 44 ibu hamil trimester I yang diambil secara purposive sampling. Penentuan kadar Fe serum dilakukan menggunakan metode Fotometri, dan kadar Hb menggunakan metode Sianmethemoglobin. Analisis data dilakukan dengan uji deskriptif dan uji Korelasi Sperman Rank menggunakan program SPSS. Gambaran hasil penelitian kadar Fe serum ibu hamil sebagai besar normal (86,4%) dan kurang dari normal (11,4%). Sedangkan gambaran kadar Hb juga sebagai besar normal (81,8%) dan kurang dari normal (18,2%). Hasil uji Korelasi Sperman Rank hubungan kadar Fe serum terhadap kadar Hb darah pada ibu hamil, diperol nilai r = 0,287 dan p>0,05.  Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Ibu hamil trimester I terdapat sebagian kecil yang memiliki kadar Fe serum rendah dari normal atau defisiensi Fe sebanyak 5 orang (11,4%). Juga terdapat   sebagian kecil ibu hamil yang memiliki kadar Hb darah rendah dari normal atau anemia sebanyak 8 orang (18,2%). Dan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kadar Fe serum terhadap kadar Hb. darah. Dari Kesimpulan tersebut dapat disarankan bahwa pemantauan rutin kadar Fe dan kadar Hb darah pada ibu hamil perlu dilakukan sebagai upaya pencegahan anemia dan peningkatan kesehatan ibu serta janin.
Evaluasi Performa Sistem Kuantifikasi Otomatis Imunohistokimia Berbasis Kecerdasan Buatan Untuk Analisis Ekspresi Tumor Marker Cut Indriputri; Maulia Hardian Hayati; Rafika Rafika; Yaumil Fachni Tandjungbulu; Reza Maulana
Jurnal Media Analis Kesehatan Vol 17 No 1 (2026): JURNAL MEDIA ANALIS KESEHATAN
Publisher : Potekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/jmak.v17i1.2250

Abstract

Evaluasi kinerja sistem kuantifikasi otomatis imunohistokimia (IHC) semakin penting untuk menjamin akurasi dan konsistensi dalam analisis ekspresi penanda tumor. Tinjauan sistematis ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja sistem kuantifikasi IHC otomatis berbasis kecerdasan buatan dalam konteks klinis dan penelitian. Penelusuran literatur dilakukan pada basis data PubMed, Scopus, dan ScienceDirect untuk publikasi tahun 2015–2025. Sebanyak 26 studi yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis secara kualitatif berdasarkan pedoman PRISMA 2020. Hasil menunjukkan bahwa sistem kuantifikasi IHC berbasis kecerdasan buatan memiliki performa diagnostik tinggi dengan akurasi 90–98%, AUC hingga 0,96, serta korelasi dengan ahli patologi yang melebihi 0,95 pada berbagai biomarker utama seperti HER2, Ki-67, ER, PR, P53, dan PD-L1. Model deep learning seperti convolutional neural networks (CNN), termasuk ResNet dan DenseNet, menunjukkan kemampuan unggul dalam deteksi area tumor dan kuantifikasi ekspresi biomarker secara otomatis. AI juga terbukti meningkatkan reproduksibilitas hasil dengan mengurangi variasi antar-pengamat serta meningkatkan kesesuaian dengan metode referensi, sekaligus menstandarkan interpretasi pada kasus borderline. Perkembangan metode menunjukkan pergeseran dari digital image analysis berbasis aturan menuju deep learning yang lebih adaptif, sehingga meningkatkan akurasi dan generalisasi. Namun, kinerja sistem masih dipengaruhi oleh variasi pra-analitik, termasuk kualitas pewarnaan, heterogenitas data, ukuran dataset, serta kebutuhan supervisi ahli patologi. Secara keseluruhan, meskipun menunjukkan potensi besar dalam meningkatkan objektivitas dan efisiensi diagnostik, implementasi klinis AI dalam kuantifikasi IHC masih memerlukan standardisasi, validasi multisenter, dan evaluasi prospektif lebih lanjut.